Senin, 09 September 2019

​​​​​​​Dari Korban Lakalantas Menahan SIM Penabraknya Hingga Advokat Mengajak Kliennya Berhubungan Intim

​​​​​​​Mengenai ne bis in idem dalam kasus dengan tempus dan locus berbeda hingga izin pemakaian lagu orang lain sebagai back sound video.
Tim Hukumonline

Klinik Hukumonline dengan taglinenya “yang bikin melek hukum, emang klinik hukum”memberikan kesempatan luas kepada masyarakat untuk bertanya dan memperoleh jawaban dari para praktisi hukum maupun ahli hukum. Tim Klinik menyajikan informasi hukum ke dalam artikel yang mudah dicerna masyarakat. Tak hanya artikel, kini edukasi hukum yang disampaikan oleh Klinik Hukumonline telah hadir dalam berbagai format seperti infografis, video, Chatbot, hingga Podcast.

 

Berdasarkan hasil rangkuman tim Klinik Hukumonline, berikut adalah 10 artikel terpopuler di media sosial yang terbit sepanjang sepekan terakhir, mulai dari boleh tidaknya korban kecelakaan lalu lintas (lakalantas) menahan SIM penabraknya hingga oknum advokat yang mengajak kliennya berhubungan intin sembari menjanjikan kemenangan.

 


  1. Ne Bis In Idem dalam Kasus dengan Tempus dan Locus Berbeda

Pasal 76 Kitab Undang-Undang Hukum Pidanayang memuat asas ne bis in idem pada dasarnya menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh dituntut dua kali karena perbuatan sama yang telah diadili oleh hakim Indonesia dengan putusan yang berkekuatan hukum tetap. Meskipun demikian, arti dari “perbuatan yang sama” perlu dijabarkan lebih jauh agar tidak terjadi kesalahan dalam menerapkan ketentuan tersebut.

 

Penjelasan lebih lanjut dapat akses di sini.

 


  1. Korban Kecelakaan Lalin Tidak Berwenang Menyita SIM/STNK Penabrak

Kewenangan untuk menyita Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) merupakan ranah penyidik Kepolisian, bukan Anda (korban) sebagaimana diatur dalam Pasal 260 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ).

 

Bagaimana dengan perbuatan korban yang menyita Kartu Tanda Penduduk (KTP) penabrak? Penjelasan lebih lanjut dapat Anda klik ulasan ini.

 


  1. Advokat Menjamin Kemenangan Perkara dengan 'Bayaran' Hubungan Intim

Sejak awal, pemberi bantuan hukum dilarang untuk menerima atau meminta pembayaran dari penerima bantuan hukum dan/atau pihak lain yang terkait dengan perkara yang sedang ditangani pemberi bantuan hukum. Dengan demikian, seorang penerima bantuan hukum tidak perlu mengkhawatirkan masalah biaya.

 

Adapun hubungan intim yang dilakukan antara advokat dan kliennya tersebut, diiringi dengan janji memberikan kemenangan, bertentangan dengan Kode Etik Advokat. Penjelasan selengkapnya silakan klik ulasan ini.

Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua