Senin, 30 September 2019

Andri Rizki Putra, Millennial Lawyer yang Having Fun jadi Aktivis Sosial

Seimbang dalam berkarier, bersenang-senang, dan berkontribusi bagi masyarakat luas.
Norman Edwin Elnizar
Andri Rizki Putra. Foto: Istimewa

Muda, kaya, penuh gaya tapi tenggelam dalam urusan kerja. Mungkin itu yang pertama bisa dibayangkan saat membahas sosok milenial di kalangan corporate lawyer. Sudah menjadi rahasia umum soal budaya kerja di corporate law firm yang banyak menyita waktu bahkan kehidupan sosial para personelnya. Tuntutan kerja lembur bagai kuda bahkan tak lagi terdengar istimewa buat mereka karena bisa terjadi hampir tiap hari.

 

Sulit membayangkan ada sosok milenial lawyer mampu membangun gerakan sosial seperti yang dilakukan Andri Rizki Putra. Lawyer muda berwajah bak idola KPop ini nampak sukses mematahkan dua stereotip sekaligus. Pertama, bahwa generasi milenial berwatak narsistik sehingga cenderung apatis. Kedua, bahwa berprofesi lawyer tak menyisakan ruang sama sekali untuk menjadi aktivis sosial.

 

Faktanya, Rizki adalah corporate lawyer dari kalangan milenial sekaligus pegiat gerakan sosial skala nasional. Gerakan sosial bidang pendidikan yang digagasnya sejak tahun 2012 telah mendapatkan sederet pengakuan dan penghargaan nasional. Tanpa harus menunggu sampai merasa mapan, Rizki justru mendirikan Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) di awal kariernya.

 

“Waktu itu masih bekerja di Assegaf Hamzah & Partners dengan usia relatif muda, baru usia 20 tahun,” kata Rizki mengawali ceritanya kepada hukumonline. Perbincangan siang itu berlangsung usai Rizki menjadi narasumber acara penyambutan mahasiswa baru Universitas Indonesia.

 

YPAB adalah gerakan pendidikan yang berbasis relawan dan bebas biaya bagi kalangan marginal. Warga putus sekolah karena alasan ekonomi dan tidak bisa lagi kembali ke sekolah formal dapat belajar gratis untuk mendapatkan ijazah pendidikan kesetaraan. Mereka akan diajar oleh para relawan tutor dari kalangan profesional.

 

Tercatat ratusan relawan dari berbagai latar profesi melibatkan diri dalam gerakan sosial yang digagasnya tujuh tahun lalu itu. Mulai dari para eksekutif perusahaan, dokter, insinyur, akuntan, programmer, lawyer, jurnalis hingga para profesional lainnya bergabung sebagai relawan tutor.

 

(Baca juga: Jadi Lawyer Itu Berat? Simak Dulu Curhat Mereka)

 

Berawal dari lahan garasi rumah warga, kini ada tiga rumah belajar YPAB tersebar di Tanah Abang (DKI Jakarta), Bintaro (Banten), dan Medan (Sumatera Utara). Lulusan dari YPAB diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidupnya melalui modal pendidikan. Beberapa alumninya ada yang telah berhasil diterima di perguruan tinggi negeri dan swasta.

 

Dari Pengalaman Pahit ke Karya Konkret

Rizki mengaku sengaja mengambil cuti kantor selama sehari demi mengisi beberapa acara sosial termasuk sesi wawancara dengan hukumonline. Sembari santap siang di restoran masakan khas Aceh kesukaannya, Rizki menjelaskan bagaimana dirinya terjun sebagai aktivis sosial sambil berprofesi corporate lawyer.

 

Rizki diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia(FHUI) pada tahun 2008 dengan ijazah pendidikan kesetaraan paket C. Masa SMA dijalaninya hanya setahun. Hal itu karena Rizki tidak menjalani pendidikan di sekolah formal yang berdurasi tiga tahun.

 

Ia belajar secara mandiri sejak lulus SMP pada tahun 2006 dan berhasil lulus ujian nasional setara SMA pada tahun 2007. Selanjutnya Rizki kembali belajar mandiri untuk seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri tahun 2008. “Gue cuma pilih FHUI. Kalau nggak keterima ya coba lagi tahun depan. Nothing to lose. Kan gue hemat setahun juga,” katanya diiringi tawa renyah.

 

Capaiannya tak berhenti di situ. Rizki satu dari segelintir alumnus FHUI yang berhasil lulus hanya dalam tiga tahun masa studi sekaligus berpredikat cum laude. Semasa kuliah pun ia menyabet penghargaan mahasiswa berprestasi dari FHUI. Tak heran ia menerima beasiswa studi selama kuliah.

 

Berbagai akselerasi studi tersebut bermula dari kekecewaan Rizki pada ujian nasional yang diwarnai kecurangan. Pihak sekolah tempatnya mengenyam pendidikan  menengah diduga membagikan kunci jawaban ujian nasional kepada para siswa. Rizki menolak keras dan tetap lulus ujian dengan kemampuannya sendiri.

 

(Baca juga: Di Era Industri 4.0, Lawyer Berkompetisi Sengit dengan Robot)

 

Ia sempat melawan dan berupaya melaporkan kecurangan itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi serta Indonesia Corruption Watch. Rizki juga tak lagi berminat pada sekolah formal. Pilihan ini  membuatnya putus sekolah. Di sisi lain ia tetap ingin melanjutkan pendidikannya. Jalan satu-satunya adalah mengikuti ujian kesetaraan paket C. “Gue pikir akan membuktikan berbeda. Gue baca di peraturannya kalau pemerintah mengakui ijazahnya,” ia menuturkan. Tekadnya saat itu adalah menjadi lulusan paket C yang diterima di perguruan tinggi negeri.

 

Semestinya Rizki tetap bisa mengikuti bimbingan belajar di program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebelum mengambil ujian paket C. Namun ia kesulitan untuk mendapatkan PKBM yang berkualitas baik. Itu sebabnya ia memilih belajar mandiri secara intensif selama setahun dan langsung mengambil ujian paket C. “Dulu gue bertekad kalau bisa masuk UI akan bikin lembaga pendidikan paket C yang berkualitas,” ujarnya. Pengalaman dan perenungannya membawa Rizki pada pilihan berkuliah di FHUI.

 

Ia berhasil lulus dengan peminatan hukum ekonomi secara gemilang. “Gue ambil peminatan hukum ekonomi karena gue juga suka ilmu ekonomi. Dari semester satu gue udah merencanakan lulus cepet,” ia menambahkan.

 

Berkarier corporate lawyer telah diputuskan Rizki sejak kuliah. Mengikuti kuliah dari para corporate lawyer senior seperti Kiki Ganie dan Arief T. Surowidjojo yang menjadi dosennya di FHUI membuatnya semakin mantap. “Corporate lawyer di law firm lebih banyak ilmunya dengan jam kerja yang ‘gila’ gitu. Gue udah tahu dan tertantang, prestisius dengan gaji dollar. Sangat tertantang,” katanya.

 

Segera setelah lulus di tahun 2011 ia diterima bekerja di Assegaf Hamzah & Partners. Belum lama bekerja, Rizki teringat janjinya dan ingin segera mewujudkannya. Seorang senior associate bernama Aulia Handayani disebut Rizki sebagai orang yang berjasa membantunya.

 

Visi Rizki saat itu adalah membantu banyak orang putus sekolah agar bisa mendapat pendidikan yang baik dan gratis. Ia ingin melibatkan sebanyak mungkin kalangan untuk berkontribusi pada pendidikan anak bangsa. Demi fokus menggarap YPAB, Rizki sempat memutuskan beristirahat lawyering sejak akhir 2012 hingga setahun kemudian. Selama masa jeda ini pula ia sempat menulis buku pertamanya yang diterbitkan berjudul ‘Orang Jujur Tidak Sekolah’.

 

“Gue putuskan mulai lawyering lagi ketika kondisi yayasan sudah cukup baik. Saat itu gue coba Hadiputranto Hadinoto &  Partners Law firm,” katanya. Ia mengaku visinya dalam aktivis sosial tidak berarti mengakhiri karier profesionalnya. Rizki ingin minatnya dalam pemberdayaan masyarakat bidang pendidikan berjalan seiring dengan karier corporate lawyer.

 

Having Fun Jalan Terus

Bagi Rizki, bersenang-senang di masa muda, karier profesional, dan kontribusi sosial seharusnya tidak dipertentangkan. “YPAB ini charity, bagian dari gue pay it forward. Nah lawyering jadi bensin gue. Idealisme harus realistis, kalau nggak mau jadi apa?” katanya.

 

Secara jujur Rizki mengakui hobi santai nongkrong di kafe dan traveling tetap menjadi bagian dari masa mudanya. Ia merasa dirinya tidak harus menjadi sosok yang dibuat-buat agar terkesan sempurna dan inspiratif. “Gue ingin tetap punya gaya hidup yang udah gue miliki. Gue pengen enjoy my life. Tetep bisa jadi orang yang kelihatan have fun tapi bisa berkontribusi,” ujarnya sambil tertawa.

 

Keseriusan Rizki dengan gerakan pendidikan ini sempat pula membawanya lolos beasiswa pemerintah melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Ia berhasil meraih predikat magna cumlaude dari Boston University, School of Education dengan gelar Master of Education (Ed.M) in Educational Leadership and Policy Studies tahun 2018 lalu.

 

Ia mengaku tak pernah merancang YPAB diliput media massa secara luas dan menjadi gerakan besar. Fokusnya adalah memberikan dampak sosial maksimal untuk meningkatkan kualitas hidup peserta didik YPAB. “Concern gue justru bagaimana peserta didik yang lulus bisa langsung diserap oleh kebutuhan tenaga kerja di Indonesia,” kata Rizki yang kini melanjutkan kariernya di Schinder Law Firm sebagai Senior Associate.

 

Saat ini Rizki masih mencari pola pengembangan YPAB yang tepat dan lebih baik lagi. Ia tidak ingin sekadar memperluas jaringan YPAB tanpa mampu menjaga standar mutu yang dibangun sejak awal. Pun ia tak ingin sekadar memberikan harapan semu pada para peserta didik. “Itu akan menjadi tantangan kami. Jangan sampai kami hanya menjual mimpi,” ujarnya.

 

Tentu saja semua ia lakukan bersama para pengelola YPAB sembari menjalankan profesi masing-masing. Pria yang menekuni spesialiasasi banking and finance dalam lawyering ini bahkan masih ingin kembali melanjutkan studi LL.M. ke salah satu ivy leagues di Amerika. Rizki ingin merambah wilayah timur Indonesia untuk cabang rumah belajar YPAB berikutnya.

 

Ketika ditanya apa pesan yang ingin disampaikan kepada rekan-rekan sesama lawyer muda, Rizki justru menekankan soal kerendahan hati dalam berkarier. Terutama bagi mereka yang merasa punya segudang pengalaman dan prestasi semasa di kampus dulu. Banyak bergaul dengan kalangan marginal diakui Rizki membuatnya jadi milenial yang lebih rendah hati dan tahu diri.

 

“Gue juga pernah jadi lawyer yang songong waktu mulai kerja. Banyak prestasi yang bikin jadi merasa besar. Akhirnya frustasi, depresi, lalu sadar. Kalau nggak bisa humble, nggak bisa kolaborasi dengan orang lain. Karena merasa orang lain nggak lebih pinter dari kita,” katanya.

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua