Jumat, 04 Oktober 2019

Advokat Tutup Usia, Kepergian Didi Dermawan Diiringi Sejumlah Kenangan Berkesan

Pekerja keras, berintegritas, dan sayang keluarga.
Norman Edwin Elnizar

Didi Dermawan, salah satu corporate lawyer senior kebanggaan Indonesia, tutup usia  Kamis (3/10),  dini hari pukul 01.00 WIB di RS Premier Jatinegara, Jakarta. Berdasarkan kabar yang hukumonline terima, Didi yang dikenal memiliki pola hidup sehat sekaligus pekerja keras mengalami serangan jantung di umurnya yang ke-61 tahun ini.

 

Almarhum Didi disemayamkan di rumah duka Grand Heaven hingga selesai Misa Pelepasan pada hari Minggu mendatang. Rencananya jenazah akan dikremasi pada Minggu (6/10),   siang pukul 12.00 WIB. Kepergian sosok Didi meninggalkan kesan dan sejumlah kenangan tersendiri bagi para koleganya. “Waktu dengar kabar beliau meninggal pagi tadi, saya langsung ingat hari pertama kami bertemu di akhir tahun 1999 untuk interview masuk Dermawan & Co.,” kata Arie Armand, managing partner dari firma hukum Armand Yapsunto Muharamsyah & Partners (AYMP) kepada hukumonline.

 

Armand mengaku kaget karena mengenal Didi sebagai sosok yang menjalani gaya hidup sehat termasuk tidak merokok. Mengenang almarhum, Armand bercerita bahwa sesi akhir wawancara 20 tahun silam itu dilakukan langsung oleh pemilik firma hukum yang ia lamar. Dermawan & Co belum memiliki website kantor dan informasi yang beredar di internet belum berlimpah seperti sekarang. “Dia terlihat biasa dengan kemeja hitamnya, selanjutnya pun saya tidak pernah lihat dia dengan penampilan mencolok, perhiasannya hanya jam tangan,” Armand menambahkan.

 

Armand mengenang Didi sebagai lawyer pekerja keras, orang yang selalu datang paling pagi di pukul tujuh, pulang malam, dan tetap masuk kerja selama setengah hari di hari Sabtu. “Mas Didi itu guru, bos, dan orang tua bagi kami, banyak sekali teladan yang diajarkan pada kami semua,” katanya.

 

Hal lain yang Armand kenang adalah cara keras Didi mendidik para lawyer yang bekerja bersamanya. Pada saat yang sama, Didi tidak segan langsung melibatkan mereka berinteraksi secara langsung dengan klien utama meskipun baru sebulan pertama bekerja. “Dari bulan pertama kami sudah didampingi bertemu klien, langsung ‘diceburin’ sementara teman-teman di kantor lain masih ditugasi riset dan due dilligence,” ujarnya.

 

Beberapa tahun kemudian Didi melepas kantor yang dirintisnya kepada Armand dan rekan-rekannya hingga akhirnya berganti nama menjadi AYMP. Perlahan ia mundur ke posisi of counsel, lalu pensiun pada 2008.

 

Rekan Didi sesama lawyer, Suria Nataadmadja membenarkan sosok Didi sebagai pekerja keras dan berpikiran maju.  “Didi orangnya serius, workaholic, tapi juga sayang sama keluarganya,” ujarnya.

 

Suria mengenang ketika mereka pernah bertemu di luar negeri saat sama-sama menjenguk anak yang tengah melanjutkan studi. “Kami pernah bertemu di Perth, dia bawa pekerjaan ke sana sambil nengok anak,” ia menambahkan.

 

(Baca juga: AYMP, Wajah Baru DNC-Advocates)

 

Seingat Suria, Didi yang dilahirkan di Surabaya 19 September 1958 lebih muda tiga tahun darinya. Namun berbagai langkah yang diambil Didi dalam merintis karier corporate lawyer membuat Suria salut. “Pikirannya maju sekali, memulai boutique law firm sudah lama dan maju sampai sekarang,” kata Suria.

 

Keteladanan yang berkesan bagi Suria adalah dedikasi dan integritas Didi sebagai lawyer. “Orangnya jujur dan lurus, pekerja keras, bisa jadi panutan,” ujarnya. Beberapa kali ia merasakannya secara langsung saat bekerja sama menangani transaksi mewakili klien.

 

Didi Dermawan telah memulai kariernya sejak era 1980-an. Didi terlibat di berbagai kantor hukum yang kini merupakan jajaran big firm di Indonesia. Selama tahun 1985-1989 Didi berkarier di Lubis Ganie Surowidjojo (LGS) ketika Sri Indrastuti Hadiputranto masih menjadi salah satu partner di sana.

 

Selanjutnya di tahun 1989 ia bersama Sri Indrastuti Hadiputranto dan mendiang Tuti Dewi Hadinoto merintis firma Hadiputranto, Hadinoto, Dermawan. Firma hukum yang bekerja sama dengan Baker & McKenzie sejak awal berdiri itu menjadi cikal bakal Hadiputranto, Hadinoto & Partners yang kini bernama HHP Law Firm. Didi hanya bertahan hingga tahun 1993, sebelum akhirnya mendirikan  firma hukum Dermawan & Co. pada 1994.

 

(Baca juga: DNC, Perkara Asing Tanpa Advokat Asing)

 

Sosok Didi sebagai corporate andal diakui pula oleh Sri Indrastuti Hadiputranto. Dalam keterangan tertulisnya, ia menyampaikan rasa kehilangan mendalam. “Cerdas dan pekerja keras, kita merindukan lawyer hebat seperti dia,” ujarnya. Tuti—begitu ia biasa disapa—juga mengaku kager atas kepergian mendadak Didi.

 

Meskipun pekerja keras, Didi dikenal rajin berolah raga dan terlihat selalu sehat. Bahkan setelah menyatakan pensiun di tahun 2008, Didi kembali aktif berkarier sejak tahun 2015. Namun Didi tidak kembali ke kantor yang telah diserahkannya kepada para lawyer hasil didikannya.

 

Didi membangun firma hukum yang baru meskipun dengan menggunakan kembali nama DNC dan menghubungkannya pada sejarah Dermawan & Co. Sejumlah lawyer muda direkrut seperti dahulu Didi merekrut anak muda untuk membangun kantornya di tahun 90an. Belum lama ini bahkan Didi aktif mewakili pemerintah bersengketa pada International Center for Settlement of Investment Dispute (ICSID).di Washington Amerika Serikat.

 

(Baca juga: Jalan Panjang Pemerintah Memenangkan Gugatan di Arbitrase Internasional)

 

Kini Didi telah berpulang ke sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun sejumlah keteladanan darinya akan tetap hidup sebagai kenangan berkesan bagi para kolega dan orang-orang yang mengenal almarhum. Selamat jalan Pak Didi…

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua