Rabu, 09 Oktober 2019

Mau Jadi Advokat? Simak Pendapat Para Ahli di PKPA Hukumonline

​​​​​​​Hal terpenting dari PKPA adalah mendapatkan pengalaman praktisi andal dalam menjalankan profesi advokat.
Normand Edwin Elnizar
Suasana PKPA yang digelar Hukumonline bekerja sama dengan Peradi dan Fakultas Hukum Universitas Yarsi, Selasa (8/10) malam. Foto: RES

Apakah bekal pengetahuan hukum dari kampus sudah cukup untuk sukses berkarier advokat? Pertanyaan ini menjadi salah satu tema diskusi pada sesi pembuka Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) yang diselenggarakan Hukumonline bekerja sama dengan Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) dan Fakultas Hukum Universitas YARSI, Selasa (8/10).

 

“Advokat itu bekerja berdasarkan perspektif,” kata Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Akademisi yang juga pernah menjalani karier advokat ini berbagi pengalamannya menerapkan hukum di dunia profesi.

 

Hikmahanto mengingatkan bahwa kemahiran yang harus diasah saat berprofesi advokat berbeda dengan saat menjadi mahasiswa hukum. Para sarjana hukum tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan hukum yang dimiliki dari bangku kuliah.

 

Kemahiran legal reasoning menjadi keharusan agar sukses berkarier advokat. Advokat harus mampu menggali berbagai regulasi yang mendukung argumentasinya. Itu pun tidak bisa sekadar ‘membaca’ satu atau dua regulasi saja. Penelusuran berbagai regulasi yang berkaitan dengan perkara harus dilakukan dengan cermat disertai analisis yang tepat.

 

“Tidak mungkin cukup hanya menghapal regulasi, apalagi sudah dibantu dengan berbagai teknologi digital untuk mendapatkan banyak perspektif, kalau di Indonesia misalnya yang disediakan oleh hukumonline,” ujar Hikmahanto. Meski telah beralih karier, Hikmahanto terus aktif sebagai ahli untuk berbagai persidangan sekaligus tim pakar hukum di sejumlah instansi dan korporasi hingga saat ini.

 

Di sisi lain, partner firma hukum SSEK, Dewi Savitri Reni memaparkan pentingnya keterampilan personal untuk sukses berkarier advokat. Keterampilan ini berkaitan dengan membangun kepercayaan klien melalui teknik komunikasi yang tepat. Sebagai corporate lawyer yang memiliki izin untuk berpraktik hukum di Indonesia dan New York, Savitri menyampaikan sejumlah kiat kepada para peserta PKPA.

 

Sejalan dengan pemaparan kedua pengajar PKPA tersebut, Event & Training Manager Hukumonline Grace Nagatami Susilo mengatakan bahwa hal terpenting dari PKPA adalah mendapatkan pengalaman para praktisi. “Kalau hanya informasi dan teori, baca buku dan googling juga bisa ketemu, yang disajikan di PKPA ini adalah mendapatkan pengalaman dari para praktisi yang teruji,” katanya.

 

Baca:

 

Sebagai media yang berkomitmen ikut memajukan dunia hukum di Indonesia, kali ini Hukumonline ikut serta dalam penyelenggaraan PKPA bekerja sama dengan Peradi dan Fakultas Hukum Universitas YARSI. PKPA peratma yang digelar Hukumonline ini dibuka oleh Presiden Komisaris Hukumonline, Ahadi Bayu Tejo. PKPA ini dilaksanakan setiap Senin-Jumat malam, mulai pukul 19.00 hingga pukul 21.00 WIB di Hukumonline Training Center, AD Premier Office Park Lt. 9, Jl. TB Simatupang No. 5 Ragunan, Pasar Minggu.

 

Materi yang disajikan sesuai dengan standar PKPA oleh Peradi serta materi tambahan yang disajikan khusus yaitu Cyber Law (1 sesi), Kewajiban Pro Bono bagi Advokat (1 sesi), dan Legal Innovation (1 sesi). Selain para praktisi dari pengurus Peradi dan akademisi Fakultas Hukum, para corporate lawyer dari sejumlah firma hukum besar Indonesia tercatat dalam daftar tim pengajar PKPA tersebut.

 

Sebut saja antara lain Chandra M. Hamzah (Partner, Assegaf Hamzah & Partners), Ahmad Fikri Assegaf (Partner, Assegaf Hamzah & Partner), Lia Alizia (Partner, Makarim & Taira S.), David Tobing (Partner, Adams&Co), Almaida Askandar (Partner, IABF), Dewi Savitri Reni (Partner, SSEK), Mohamad Kadri (Partner, AKSET Law), dan Fauzul Abrar (Partner, Mulyana Abrar Advocates). 

 

“Kami berusaha menyajikan narasumber andal dan terpercaya yang bisa berbagi secara langsung kepada calon advokat,” tambah Grace.

 

Upaya pertama hukumonline terlibat menyelenggarakan PKPA ini nampak mendapatkan sambutan yang memuaskan. Slot terbatas yang tersedia diisi penuh oleh para peserta yang mendaftar. Para peserta bahkan sengaja datang dari beberapa wilayah di luar Jakarta.

 

Angga, salah satu lulusan kampus hukum negeri di Yogyakarta mengaku sengaja tinggal di Jakarta untuk sementara waktu dalam rangka mengikuti PKPA tersebut. “Selama PKPA saya tinggal di Jakarta, saya tertarik dengan para narasumber PKPA di Hukumonline,” katanya. Ia mengaku puas dengan sesi pembuka yang diisi oleh Hikmahanto dan Savitri. “Pembicara sangat bagus, sangat mudah dipahami, mungkin waktunya saja yang kurang panjang,” katanya menambahkan.

 

Sebagaimana diketahui, Pasal 2 UU No.18 Tahun 2003 tentang Advokat (UU Advokat) mengatur syarat berprofesi Advokat antara lain bergelar sarjana dalam pendidikan tinggi hukum dan mengikuti PKPA oleh organisasi advokat. Penyelenggaraannya juga harus bekerja sama dengan Fakultas Hukum dengan akreditasi minimal B.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua