Jumat, 15 November 2019

Langkah Konkret Ricardo Simanjuntak Satukan PERADI

Ricardo mengaku pernah mempertemukan ketua umum masing-masing PERADI.
Aji Prasetyo
Deklarasi Ricardo Simanjuntak dan Melli Darsa siap pimpin PERADI periode 2020-2025. Foto: RES

Meskipun bursa pemilihan Ketua Umum Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) baru akan dilakukan pada 2020 nanti, tapi euforianya sudah mulai terasa saat ini. Apalagi sejumlah pihak sudah mulai menyatakan kesiapannya untuk memimpin organisasi advokat tersebut. 

 

Ricardo Simanjuntak dengan Melli Darsa sudah menyatakan diri siap memimpin Peradi periode 2020-2025. Mereka mendeklarasikan diri di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat sebagai Calon Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal PERADI untuk kepemimpinan lima tahun mendatang. 

 

Pasangan ini mengusung slogan RUN (Regenerasi, Unifikasi, Nobile). Keduanya mengaku yakin akan terpilih dan bisa membuat PERADI bisa lebih baik. Slogan ini pun bukan tanpa alasan, regenerasi merupakan hal penting dalam berorganisasi, tanpa itu suatu organisasi dianggap tidak akan berhasil. 

 

"Ketika saya pimpin AKPI dua periode banyak senior meminta saya pimpin lagi, saya bilang tidak, karena itu menyalahi konstitusi," kata Ricardo ketika mendeklarasikan dirinya di Gedung Joang 45, Kamis (14/11) malam.

 

Kemudian terkait unifikasi, itu bukan hanya slogan semata. Memang kondisi PERADI yang terbelah menjadi tiga kepemimpinan sangat disayangkan banyak orang, dan persatuan PERADI atau unifikasi memang kerap digaungkan, namun hingga kini kondisinya masih tetap sama. 

 

Ricardo mengklaim punya solusi konkret terkait hal ini. Ia tidak hanya berkata, tapi juga telah bergerak untuk menyatukan tiga PERADI. Salah satu contohnya yaitu menghubungkan para petinggi PERADI untuk duduk bersama, tapi sayang hal itu tidak berlanjut kemudian. 

 

“Saya datangi Bang Juniver (Girsang), Bang Luhut (MP Pangaribuan), mereka baik banget kepada saya, saya datangi Bang Fauzie (Yusuf Hasibuan), Bang Otto (Hasibuan) dan saya pertemukan, dan saya pastikan kalau bukan saya itu mereka tidak bisa ketemu. Setelah proses ini Bang Juniver saya bawa ke acara Natal PERADI, lalu saya minta mereka semua peluk dan akhirnya dipeluk. Kita sudah bicarakan rekonsiliasi tiba-tiba bubar lagi, ini yang hendak saya lanjutkan, saya enggak main-main," ujarnya. 

 

Baca:

 

Slogan berikutnya adalah nobile, yaitu mulia. Ricardo tetap menginginkan PERADI menjadi wadah advokat yang menjalankan profesinya dengan mulia. Sehingga nama advokat kembali harum dan disegani tidak hanya di dalam negeri, tetapi hingga mancanegara. 

 

Sementara, Melli Darsa melihat industri hukum saat ini semakin melemah. Menurutnya, hal itu sebenarnya bukan hal aneh, sebab ia menganggap PERADI yang ada saat ini belum bisa mengakomodir para anggotanya. "Bukan hal yang mudah menyatukan seluruh organisasi, saya bilang saya jadi anggota semua PERADI. Saya lihat industri hukum melemah bukan kebetulan, itu karena tidak ada PERADI yang kuat," ujarnya. 

 

Selain itu ia juga melihat peran perempuan di PERADI juga sangat minim. "PERADI bagaimanapun harus kita akui sangat man-oriented dan perempuan saya mau terwakili di sini. Saya mau anak-anak muda ini menganggap PERADI adalah rumahnya. Kita bersatu menjadi PERADI yang lebih kuat tidak terpecah belah," pungkasnya. 

 

Melli menegaskan, PERADI harus berfondasikan keberagaman dan perbedaan, dan harus meninggalkan budaya lama yang kaku dan eksklusif agar tetap eksis di masa depan. "PERADI harus bersatu, maju agar tidak tersapu arus waktu. Menjadi organisasi terdepan untuk semua, yang siap menatap masa depan bersama-sama,” tutupnya.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua