Selasa, 10 December 2019

Komisi III DPR Beri Perhatian Khusus Kematian Mahasiswa Halu Oleo

Mendesak kepolisian agar pelaku penyebab kematian Yusuf segera terungkap. Sementara pelaku kematian Randi yang berasal dari aparat kepolisian telah ditetapkan tersangka. Hanya saja, keluarga korban meminta penanganannya transparan ke publik.
Rofiq Hidayat
Keluarga korban kematian mahasiswa Universitas Halu Oleo mengadu ke Komisi III DPR, Selasa (10/12). Foto: RFQ

Merasa belum mendapat keadilan, keluarga korban unjuk rasa mahasiswa yang terjadi di sekitar Gedung DPRD Sulawesi Tenggara, Kamis (26/9/2019) lalu, akhirnya mengadukan ke Komisi III DPR. Mereka adalah orang tua dari Muhammad Yusuf Kardawi (19) dan Immawan Randi (21).

 

Keduanya, tercatat mahasiswa D-III Fakultas Teknik dan S-1 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari yang tewas saat berunjuk rasa menentang/menolak pengesahan Revisi UU KPK dan sejumlah RUU lain.      

 

Endang Yulida, ibu dari M. Yusuf, mendesak Komisi III DPR agar pelaku yang menyebabkan kematian anaknya itu dapat segera diungkap secara transparan oleh pihak kepolisian. “Kasus Randi terungkap (pelakunya), kenapa Yusuf tidak? Kenapa (pengungkapan kematian, red) anak saya dianaktirikan? Kasus anak saya tidak ada progress sama sekali,” ujar Endang sambil terisak di ruang Komisi III DPR, Selasa (10/12/2019).

 

Kematian M. Yusuf dan Immawan Randi lebih dari dua bulan berlalu, namun kematian keduanya masih menyisakan ketidakpuasan dari kedua keluarga korban. Bedanya, pelaku penyebab kematian Randi sudah ditemukan. Hanya saja, keluarga Randi menilai penanganan kasusnya tidak transparan. Sementara kematian M. Yusuf belum terungkap siapa pelakunya.

 

Karena itu, langkah Endang mengadukan kasus ini ke Komisi III DPR sebagai warga negara yang menyampaikan aspirasi lantaran telah mengadukan ke pihak kepolisian setempat tak membuahkan hasil. Sebab, pelaku dan penyebab kematian Yusuf hingga kini belum jelas.  Endang mengaku telah bertemu dengan Kapolda Sulawesi Tenggara, Brigadir Jenderal (Pol) Merdisyam untuk menanyakan tindak lanjut penanganan kasus kematian anaknya ini.  

 

Sayangnya, kata Endang, jawaban yang diberikan Brigjen Merdisyam tak memuaskan. “Katanya, ‘karena kurangnya saksi’. Saya bilan Bapak kan polisi, jenderal pak. Tim-tim mereka bisa bergerak dengan hebat,” ujar Endang menirukan dialog dengan Merdisyam.

 

Endang merasa kondisi anak lelaki sulungnya saat ditemukan sudah tidak bernyawa menyimpan kejanggalan. Menurutnya, bukti yang dikantongi kepolisian hanyalah batu di tempat kejadian perkara, tak masuk akal. Sebab, kematian Yusuf ditenggarai akibat pukulan benda tumpul.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua