Senin, 06 Januari 2020

Medium Term Note Sebagai Skim Pembayaran Asuransi Oleh: Chandra Yusuf*)

Jalan yang terbaik adalah menerbitkan surat utang Medium Term Note di sisi liability perusahaan.
RED
Chandra Yusuf. Foto: Istimewa

Pemberitaan gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Perseroan) yang disingkat sebagai Jiwasraya sedemikian maraknya. Awalnya perusahaan telah mengalami permasalahan cadangan yang lebih kecil, yang selanjutnya membuat liability lebih besar dari asset. Peristiwa ini terjadidari tahun 2004 sampai dengan 2010. Namun Jiwasraya mencatat surplus sebesar Rp1,3 triliun pada akhir tahun 2011. Selanjutnya Bapepam-LK memberikan izin produk JS Proteksi Plan pada 18 Desember 2012.

 

JS Proteksi Plan dipasarkan melalui kerja sama dengan bank (bancassurance) melalui Bank BTN, KEB Hana Bank, BPD Jateng, BPD Jatim, dan BPD DIY. Pendapatan premi Jiwasraya meningkat karena penjualan produk JS Saving Plan dengan periode pencairan setiap tahun sepanjang 2013-2017 (CNN Indonesia, 30 Desember 2019).

 

Pengertian bancassurance adalah: “This trend towards bancassurance or Allfinanz refers primarily to banks entering the insurance sector by offering insurance products to their retail customers.” (Hoschka, 1994). Bank yang hanya memiliki tingkat suku bunga berkisar 4-7 % pertahun dapat menawarkan produk asuransi JS Saving Plan dengan tingkat pengembalian 9-13% pertahun.

 

Bagi bank, JS Saving Plan tersebut merupakan produk sampingan yang dapat menguntungkannya. Dalam hal ini, bank menjadi agen produk JS Saving Plan. Dari penjualannya, bank hanya mendapatkan komisi dari Jiwasraya. Oleh karenanya Bank tidak bertanggungjawab atas gagal bayar yang terjadi.

 

Mutual Fund dan Blue Chip Sebagai Investasi Jangka Panjang

Pemberian bunga tinggi dari JS Saving Plan menjadi pemicu kesalahan manajemen Jiwasraya dalam mengelola usahanya. Dalam mendapatkan keuntungan untuk membayar bunga tinggi, Jiwasraya harus menempatkan uangnya di tempat yang paling menguntungkan.

 

Apabila perusahaan tersebut melakukan investasi berdasarkan portofolio dari mutual fundatau reksadana yang bereputasi, maka pengembalian keuntungan yang didapatnya sangat kecil. Sementara Jiwasraya melakukan transaksi saham di pasar modal dengan keadaan yang fluktuatif dan perusahaan tidak mungkin dapat memprediksi pengembalian keuntungannya. Padahal Jiwasraya memiliki kewajiban membayar bunga kepada kliennya dalam jumlah pasti di waktu tertentu.

 

Uang yang terkumpul dari pembayaran premi klien JS Saving Plan wajib diinvestasikan ke tempat yang dapat memberikan keuntungan lebih dari 9-13 % bunga JS Saving Plan tersebut. Investasi yang dapat dilakukan dengan tingkat pengembalian pasti adalah investasi dengan membeli saham perusahaan yang tidak berisiko, yakni resadana dan saham unggulan.

 

Tim Plaehn menyebut saham unggulan yang memiliki risiko kecil disebut sebagai sebagai blue chip stock, yang dapat diberikan pengertiannya, stock with a large, stable company, the potential for market beating growth is very slim. Namun saham blue chips tersebut tersebut tidak akan memberikan keuntungan yang besar. Pembayaran JS Saving Plan yang telah jatuh tempo tidak dapat dilakukan.

 

Premi Asuransi dan Investasi yang Mendatangkan Keuntungan

Alex Burke mengatakan growth stock dihasilkan dari perusahaan baru di pasar modal menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan mendistribusikan keuntungannya dengan cepat di industri tertentu. Karena saham perusahaan ini baru diperdagangkan di pasar modal, mereka tidak memiliki rekam jejak operasi yang dapat diandalkan.

 

Terlepas dari keadaannya, growth stock tersebut dibeli karena kemungkinan keuntungan yang lebih tinggi yang bisa mereka hasilkan begitu perusahaan berhasil. Nampaknya Jiwasraya telah memilih investasinya kepada growth stock. Dengan demikian asset Jiwasraya tidak memiliki kualitas memadai untuk membayar pengembalian investasi dan bunga dari JS Saving Plan, apabila growth stock mengalami penurunan nilai saham saat jatuh tempo.

 

Uang premi yang berlimpah di Jiwasraya dan kebutuhan akan modal di perusahaan lain menimbulkan bargaining yang tidak seimbang. Ketidakseimbangan posisi antara Jiwasraya sebagai pemilik modal dan perusahaan yang baru tumbuh dengan saham perusahaan yang menjanjikan keuntungan besar akan membuat penyimpangan mekanisme.

 

Saham perusahaan yang tidak memiliki kemampuan untuk memberikan keuntungan yang besar memiliki risiko yang besar di pasar. Istilah high risk high return menjadi benar dalam peristiwanya. Growth stock yang tidak memiliki kemampuan untuk menarik investor melalui produknya akan mengandalkan bunga atau keuntungan tinggi.

 

Perusahaan yang baru tumbuh tersebut hanya berharap dapat bertahan dengan keajaiban mekanisme di pasar modal. Jiwasraya berharap kenaikan nilai growth stock. Kenaikan nilai sahamnya akan membantu kenaikan nilai asset JS Saving Plan. Peningkatan pembelian saham growth stock mempengaruhi harga sahamnya. Untuk menutupi uang pembayaran JS Saving Plan ketika jatuh tempo dapat dilakukan melalui penjualan growth stock yang nilainya telah meningkat. Faktanya asset investasi Jiwasraya tersebut memiliki nilai undervalued.

 

Untuk menutupi kekuarangannya, Jiwasraya akan menggunakan surat utang di sisi liability. Penjualan surat berharga ditujukan untuk menunda kepailitan dan kebangkrutannya. Perusahaan mencoba menerbitkan Medium Term Note (MTN). Di dalam perusahaan yang membutuhkan modal, surat utang tersebut dapat diterbitkan dan dicatat di dalam liability pada laporan neraca perusahaan.

 

Utang tersebut memiliki imbangan penerimaan kas di dalam asset. Terlepas dari Jiwasraya menerima uang seluruh nilainya atau tidak, pencatatan akan dilakukan berdasarkan perjanjian yang telah disepakati. Perjanjian tersebut telah menjadi bukti penerimaan uang.

 

Utang berdasarkan perjanjian yang disepakati bersama termasuk dalam hukum perdatayang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer). Perusahaan dapat menerbitakan surat utang dengan membuat janji bunga tinggi. Jangka waktu pengembalian utang yang sesuai dengan jatuh tempo pembayaran asuransi JS Saving Plan menjadi kesepakatannya. Perusahaan akan memiliki keleluasaan untuk menunda pembayaran utang tersebut.

 

MTN adalah surat berharga yang sangat fleksibel untuk memenuhi kebutuhan utang perusahaan. MTN dikeluarkan oleh perusahaan yang membutuhkan dana pembiayaan dalam jangka pendek hingga menengah. Umumnya MTN ini menggunakan suku bunga mengambang dengan mengacu pada suatu acuan suku bunga yang dikenal dalam dunia keuangan internasional. Adapun MTN di Indonesia, umumnya menggunakan acuan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (Pasardana, 10 November 2016).

 

Faktanya, MTN yang terbit tidak mengikuti suku bunga yang demikian. Suku bunga yang digunakan adalah suku bunga yang disepakati bersama dan disesuaikan dengan kebutuhannya. Skim pencapaian target keuntungan berdasarkan MTN dapat direkayasa sehingga saat jatuh tempo seluruh target keuntungan tercapai. Ini bukan sesuatu perjanjian illegal, akan tetapi menjadi perbuatan menyimpang ketika MTN yang jatuh tempo tidak dapat dibayarkan.

 

Surat utang di sisi liability perusahaan, bukan saham yang dijual, menjadi cara yang terbaik. Karena penjualan saham memiliki keterbatasan pembayaran keuntungan. Perusahaan wajib memiliki keuntungan yang sangat besar untuk menarik investor membeli sahamnya. Hal tersebut tidak mungkin dilakukannya. Rekayasa pembukuan dengan meninggikan keuntungan dalam laporan Laba Rugi akan berpengaruh terhadap pembayaran pajak. Cara ini sangat berisiko bagi Jiwasraya.

 

Jalan yang terbaik adalah menerbitkan surat utang MTN di sisi liability perusahaan. Uang yang dipinjamkan dapat dalam jumlah yang sangat besar. Surat utang ini menjadi andalan pembayaran JS Saving Plan yang telah jatuh tempo. Dalam pembukuannya akan terlihat matching antara nilai asset dan liability.

 

Investasi atas asset yang berisiko tidak dapat dihindari, MTN yang dijual akan menjadi kas yang dibayarkan, akan tetapi liability dalam surat utang MTN dari Jiwasraya akan sangat berisiko bagi investor lain ketika jatuh tempo nantinya. Semua investasi dan utang memiliki risiko gagal bayar, yang dapat diperkirakan sebelumnya. Dengan kata lain, Jiwasraya tidak memiliki pilihan selain bersikap hatihati (due care) dalam membuat produk asuransi atau surat  utang yang menawarkan bunga tinggi.

 

*)Dr. Chandra Yusuf, SH., LLM., MBA., MMgt adalah Dosen Universitas Yarsi dan Dewan Pengarah Kolegium Jurist Institute.

 

Catatan Redaksi:

Artikel Kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Hukumonline

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua