Senin, 06 January 2020

Kalah Lagi, Mengais Harapan Lagi

​​​​​​​Dengan bergantinya tahun, tentu banyak orang masih punya harapan akan perbaikan.
RED
Ilustrasi: BAS

Kalah menang dalam semua aspek kehidupan adalah hal wajar dan sangat biasa. Kalah menang dalam kontestasi politik juga hal biasa, karena sentimen dan selera publik mudah berubah dengan lewatnya waktu, apalagi pemilihan umum dilakukan secara berkala, sehingga yang kalah dan menang hanya soal giliran saja bagi para politisi.

 

Demikian juga dalam dunia olah raga. Tahun lalu Liverpool menjuarai Liga Champions Eropa 2018-2019, dan baru saja mereka menjadi klub juara dunia. Tentu dengan keajaiban Mo Salah, Firmino dan Mane di bawah Klopp.  Ini terjadi setelah menunggu selama 14 tahun, sewaktu terakhir kalinya mereka menjadi juara. Selama 14 tahun itu Liverpool juga tim yang langganan kalah. 

 

Tetapi kalah dalam memperjuangkan sesuatu yang sangat mendasar, termasuk penegakan hukum, demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) adalah soal lain lagi. Kekalahan dalam soal ini adalah soal kemunduran peradaban dan kemanusiaan, dan pastinya cita-cita para founders kita mendirikan republik ini.

 

Ini juga soal kalahnya prinsip-prinsip tata kelola. Artinya kemenangan ada di pihak the bad guys. Ini juga soal kehilangan waktu berharga setelah kita berada dalam sistem represif militeristik selama 30 tahun di bawah Soeharto, dan 21 tahun berusaha melakukan perubahan dalam era reformasi untuk menuju Indonesia yang lebih baik. 

 

Membangun sistem untuk penegakan hukum, demokrasi dan HAM yang baik adalah juga harga mati untuk setiap concerned citizens. Manakala sistem tersebut sudah berada dalam bangunan dasar yang kokoh, dan kemudian perlahan digangsir fondasinya, maka bukan hanya waktu yang terbuang percuma, tetapi juga korban banyak berjatuhan, kesempatan baik banyak hilang, dan perbaikannya, yang biasanya tambal sulam, tidak akan pernah mengembalikannya ke fondasi dan bangunan yang sama.

 

Ini seperti memperbaiki pohon yang sudah rusak akar tunjangnya. Ada bagian yang harus dibuang, dan walaupun pohon itu akan terlihat tegak lagi, tetapi sebetulnya itu bukan pohon kokoh yang sama. Ketika menghadapi angin puyuh atau puting beliung, pohon ini akan mudah goyah, mungkin akan tercerabut dan roboh juga akhirnya.

 

Alih-alih memperkuat upaya antikorupsi, seperti dalam janjinya waktu Pilpres 2019, Jokowi sebagai pemimpin tertinggi Republik, otomatis, mau tidak mau, menjadi sosok yang terdepan mengomandani pelemahan KPK. Sebagai Presiden dengan pemahaman yang tinggi tentang teknologi, peta dan kepentingan politik, dan pengaruh bisnis dalam keputusan politik, Jokowi seharusnya sadar penuh akan keputusannya menyetujui amandemen UU KPK 2019 dan semua dampak negatifnya terhadap penegakan hukum, demokrasi dan HAM.

Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua