Selasa, 11 Pebruari 2020

Leasing Masih Bisa Tarik Kendaraan Debitur Macet dengan Catatan

Maksud dari putusan MK adalah menuntut agar kontrak fidusia dapat dibangun secara benar, baik dari sisi formil maupun dari segi substansi.
Moh. Dani Pratama Huzaini
Ilustrasi: BAS

Pasca dibacakan putusan Mahkamah Konstitusi tentang tafsir pasal 15 ayat 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menyatakan perusahaan leasing masih tetap bisa menarik kendaraan dari debitur tanpa melalui putusan Pengadilan Negeri (PN). 

 

Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno mengatakan putusan MK tersebut justru memperjelas maksud frasa cedera janji atau wanprestasi antara Debitur dan Kreditur. “Jadi leasing masih tetap bisa menarik kendaraan dari debitur macet yang sebelumnya telah diperingatkan. Dengan catatan, prosedur sudah dijalankan,” ujar Suwandi dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (10/2).

 

Menurut Suwandi, terdapat kesimpangsiuran di masyarakat pasca putusan MK No. 18/PUU-XVII/2019 tertanggal 6 Januari 2020 dibacakan. Suwandi mengatakan melalui putusan tersebut seolah-olah pemegang hak fidusia tidak boleh melakukan eksekusi sendiri (parate eksekusi) karena harus mengajukan permohonan pelaksanaan eksekusi ke PN.

 

Ia mengemukakan bahwa sejatinya melalui putusan MK tersebut, perusahaan leasing masih dapat melakukan penarikan kendaraan dari debitur macet tanpa putusan pengadilan. Jika diperhatikan baik-baik, Suwandi menilai perusahaan leasing masih sangat leluasa melakukan eksekusi jaminan terhadap debitur macet.

 

“Karena itu putusan MK tidak bisa dibaca sepotong-sepotong,” ungkap Suwandi. 

 

Menurutnya, dengan adanya putusan MK perusahaan leasing tetap boleh melakukan eksekusi tanpa melalui putusan PN dengan syarat pihak debitur mengakui adanya wanprestasi. Sepanjang debitur telah mengakui adanya cedera janji dan secara sukarela menyerahkan benda yang menjadi obyek dalam perjanjian fidusia maka sepenuhnya kreditur dapat melakukan parate eksekusi.

 

Suwandi mengatakan mengenai wanprestasi antara pihak debitur dan kreditur harus terlebih dahulu ada kesepakatan untuk menentukan kondisi seperti apa yang membuat wanprestasi. Perlu ada perjanjian sebelumnya terkait berapa jumlah pinjaman, berapa jumlah bunga yang harus dibayar, termasuk jangka waktunya.

 

“Juga batas waktu pembayaran angsuran, bagaimana jika tidak membayar angsuran, dan berapa dendanya,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua