Selasa, 24 March 2020

​​​​​​​Kompetitif, Beragam Area Praktik Corporate Law Firm Menengah Indonesia 2020

​​​​​​​Punya spesialiasasi, namun luwes berkembang mengikuti kepercayaan klien.
Normand Edwin Elnizar

Sebanyak 63 dari 69 law firm menengah kenamaan di Corporate Law Firm Rankings 2020 menyediakan jasa hukum corporate action (tindakan perusahaan) termasuk merger dan akuisisi. Practice area (bidang praktik) menjadi yang paling banyak dilayani. Diikuti oleh arbitration, litigation, & dispute resolution (penyelesaian sengketa litigasi atau nonlitigasi) di posisi kedua terbanyak oleh 50 law firm menengah kenamaan.

 

Jasa hukum di bidang praktik banking & finance (perbankan dan pembiayaan) ada di posisi ketiga terbanyak dilayani oleh 35 law firm. Selanjutnya 32 law firm menyediakan layanan di bidang praktik labor & employment (ketenagakerjaan). Jumlah itu disusul tipis dalam bidang praktik bankruptcy, insolvency, & restructuring yang dilayani 31 law firm dan projects, mining, energy, & renewal energy (energi dan sumber daya mineral) oleh 30 law firm.

 

Bidang praktik property/real estate (kepemilikan tanah dan bangunan) dan capital markets (pasar modal) masing-masing dilayani 24 law firm. Sebanyak 12 kategori bidang praktik lainnya dilayani rata-rata oleh belasan law firm. Termasuk di dalamnya ada tiga yang hanya hitungan jari.

 

Salah satunya bidang praktik tax & international trade (perpajakan dan transaksi bisnis internasional) yang hanya dilayani sembilan law firm. Diikuti bidang praktik aviation (penerbangan) dan Islamic law (hukum Islam) masing-masing dilayani enam law firm.

 

Deretan law firm menengah kenamaan ini tidak hanya bersaing dengan sesamanya. Mereka juga harus berhadapan dengan law firm besar yang terus mengembangkan strategi bisnisnya. Marcia Wibisono, Partner Yang & Co agak berseloroh saat menjelaskan. “Jujur saja kami tidak khawatir dengan banyaknya law firm baru, justru law firm besar yang berani turun harga itu yang jadi tantangan,” ujarnya diiringi tawa.

 

Marcia menjelaskan bahwa law firm menengah memiliki kelebihan dibandingkan law firm besar. Jumlah lawyer yang lebih terbatas membuat mereka bisa meningkatkan sentuhan personal kepada klien.

 

Baca:

 

Menurutnya, klien Yang & Co kebanyakan klien yang sudah lama menjalin kerja sama. Strategi komunikasi dan kualitas pelayanan bisa lebih intensif dikontrol oleh para Partner Yang & Co. “Sentuhan personal itu juga penting. Karena ini bisnis jasa,” katanya. Tidak hanya menjaga hasil kerja yang profesional, hubungan personal dengan klien pun harus terus ditingkatkan kualitasnya.

 

Marcia mengaku permintaan klien lama ikut menjadi faktor pendorong pengembangan bidang praktik di kantornya. “Karena sudah nyaman, klien sering minta dibantu untuk perkara lain meskipun tahu kami belum pengalaman soal itu. Kami sampaikan apa adanya dan klien yang memutuskan,” ujarnya.

 

Meski belum punya pengalaman, biasanya Marcia dan rekannya akan menerima jika cukup yakin bisa menangani pekerjaan dari klien. Ia percaya praktisi hukum pada dasarnya berkemampuan cepat belajar keahlian hukum baru.

 

Namun Marcia tidak bermaksud menjadi ‘toko serba ada’. Saat tidak yakin mampu memenuhi harapan klien, menolak sejak awal atau mundur di tengah jalan tak segan dilakukan. Semua dibicarakan secara terbuka. “Kami pernah memilih mundur di tengah jalan demi menjaga kualitas kerja, tentu kesepakatan boleh mundur sudah kami tuangkan dalam kontrak,” ungkapnya.

 

 

Managing Partner Situmorang & Partners, Veronica Situmorang menjelaskan hal serupa. “Tentu kita harus terus belajar hal baru. Hukum juga selalu berkembang,” katanya. Veronica menilai spesialisasi law firm tidak perlu dibatasi.

 

“Saya sering tertantang, kalau tidak pernah dicoba maka saya tidak pernah tahu,” ujar Veronica. Hal itu membuat Veronica fleksibel. Bidang praktik yang ditangani Situmorang & Partners tidak kaku dibatasi dengan batas spesialisasi tertentu.

 

Kukuh Komandoko Hadiwidjojo, Partner HWMA Law Firm berbagi pengalaman mengembangkan bidang praktik secara bertahap. Ia mengakui pada dasarnya permintaan pasar menjadi pemicu penting saat mengembangkan bidang praktik.

 

“Kita tidak bisa menutup diri dari dinamika pasar,” ujarnya. Seperti Marcia, ia juga kerap mengalami tambahan kepercayaan dari klien lama. Klien yang sudah puas mempercayakan perkara di bidang berbeda meskipun HWMA belum pernah menanganinya.

 

Kukuh mengakui HWMA Law Firm membuka bidang praktik Islamic law berawal dari sering menangani perkara waris secara Islam. Selanjutnya mereka berkembang ke pelayanan jasa hukum ekonomi Islam untuk perusahaan. Saat ini HWMA Law Firm menjadi salah satu dari 10 law firm yang melayani bidang praktik Islamic law di Corporate Law Firms Ranking 2020.

 

Managing Partner Adisuryo Dwinanto & Co (ADCO) Law, Dendi Adisuryo punya cerita sendiri soal pengembangan bidang praktik. “Waktu ADCO didirikan, law firm di Indonesia yang punya keahlian di mining dan energy tidak banyak, level big firm dengan keahlian itu baru dua atau tiga, di midsize belum ada,” kata Dendi.

 

Ia dan rekannya merintis law firm menengah Indonesia yang fokus pada spesialiasi tersebut. Kondisi itu menjadi keunggulan komparatif bagi ADCO. Kehadiran ADCO disambut baik oleh pasar. “ADCO mendapatkan kepercayaan dunia bisnis walau tim kami kecil,”Dendi menambahkan.

 

(Kolase foto dari kiri) Dendi Adisuryo (Managing Partner Adisuryo Dwinanto & Co Law), Veronica Situmorang (Managing Partner Situmorang & Partners), Marcia Wibisono (Partner Yang & Co) dan Kukuh Komandoko Hadiwidjojo (Partner HWMA Law Firm).

 

Ternyata bisnis di industri pertambangan dan energi mineral perlahan mengalami penurunan. Strategi yang awalnya membidik segmen pasar spesifik pun diubah. “Akhirnya kami masuk bidang praktik lain, namun tetap mempertahankan nilai kompetitif dari spesialiasi sebelumnya,” ujar Dendi.

 

Lagi-lagi kepuasan klien lama berpengaruh pada pengembangan bidang praktik. Perusahaan pertambangan yang menjadi klien ADCO mengembangkan bisnisnya. Kepuasan saat ADCO menangani bisnis pertambangan mereka berlanjut pada kepercayaan penuh menangani bisnis baru. “Akhirnya jasa kami tetap digunakan. ADCO pun akhirnya melebarkan bidang praktik,” ujar Dendi.

 

Namun ia mengaku ada bidang praktik tertentu yang dikembangkan berdasarkan prospek permintaan pasar di luar klien lama. “Tentu ada bidang praktik tertentu yang kami sengaja siapkan sumber daya misalnya untuk fintech,” Dendi menambahkan.

 

Cerita Dendi, Kukuh, Veronica, dan Marcia menunjukkan tantangan sekaligus peluang yang dihadapi law firm menengah. Tim yang lebih kecil membuat law firm menengah harus memilih segmen yang berbeda dengan law firm besar. Di sisi lain, tim lebih kecil memiliki peluang memberikan sentuhan personal untuk meningkatkan kepuasan klien.

 

Banyak pekerjaan baru yang bisa berdatangan dari klien lama yang sudah puas. Mengawali dengan spesialisasi tampak tetap diperlukan seperti ADCO yang mengawali dari spesialisasi spesifik. Selanjutnya keluwesan memadukan peluang dan kapabilitas ikut menentukan.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua