Rabu, 25 Maret 2020

​​​​​​​Begini Lho Pertimbangan Corporate Counsel Memilih Law Firm

​​​​​​​Ternyata bukan soal besar atau kecil law firm. Apalagi yang paling mahal.
Normand Edwin Elnizar

Klien utama incaran corporate law firm tentu saja berbagai perusahaan penggerak dunia bisnis. Mulai dari perusahaan nasional hingga multinasional. Baik yang sudah melantai di bursa saham maupun start up dengan prospek investasi cerah.

 

Perusahaan-perusahaan ini akan diwakili personel yang ditunjuk untuk berurusan dengan law firm. Bila perusahaan sudah memiliki in house counsel, bisa dipastikan law firm akan bekerja sama dengannya. Bahkan in house counsel ini yang biasanya memilih law firm mana untuk digunakan jasanya.

 

Mereka juga yang akan menilai hasil kerja law firm atas nama perusahaan. Kepuasan in house counsel ini bisa jadi penentu law firm akan kembali dipercaya perusahaan mereka atau tidak. Mungkin untuk proyek berikutnya, mungkin pula langsung dengan kontrak retainer.

 

Bila puas, mereka pun tak segan “mengiklankan” law firm Anda kepada rekannya di perusahaan lain. Sebaliknya, kekecewaan mereka selama bekerja sama bisa jadi bahan gosip yang menghambat pemasaran law firm.

 

Itu sebabnya penting bagi law firm mencermati pertimbangan kalangan corporate counsel tersebut. Tentu sebagai penyedia jasa, law firm harus berusaha memenuhi ekspektasi pasar. Apalagi corporate counsel juga berpotensi menjadi “mitra pemasaran” sukarela bagi law firm Anda. Jadi, apa saja yang jadi pertimbangan corporate counsel saat memilih law firm?

 

Baca:


  1. Keahlian di Industri

“Tentunya keahlian. Kami sebagai pengguna jasa akan lihat dulu seperti apa portofolionya,” kata Maria Irma Yunita Ardhiyanti, Corporate Secretary&VP Legal Telkomtelstra. Irma selalu melihat lebih dulu pengalaman transaksi dan perkara macam apa saja yang pernah ditangani law firm serta bagaimana hasilnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua