Tajuk

Perang Tak Berujung

Bersama kita bisa mengatasi semua masalah sebesar apapun.
Oleh:
RED
Bacaan 2 Menit

 

Jerman, Belanda dan sejumlah negara Eropa lainnya mungkin akan menjadi champions dalam penanganan krisis ini. Mereka tidak segan belajar dari Tiongkok, mereka bekerja sama dengan Tiongkok dengan menghilangkan batas-batas politik dan kecurigaan, sehingga mendapatkan pengalaman berharga dari Tiongkok yang sekarang sudah mendekati fase normal. Dan kini berlomba-lomba, dengan kerja sama internasional, mereka ikut mempercepat proses penemuan dan produksi masal anti-virus.

 

Indonesia harusnya tidak malu belajar dari pengalaman negara lain. Di awal pandemi, sejumlah pejabat kesehatan kita mengatakan bahwa kita sudah siap, karena kita punya pengalaman banyak menghadapi serangan flu burung, MERS dan SARS. Kesombongan ini berharga mahal. Pengalaman itu ternyata tidak sama. Covid-19 adalah virus baru, itu sebabnya disebut "novel", dan pengalaman tanpa kesiapan ternyata tidak berguna. Kita akhirnya tergagap-gagap, dan kritik sebagai salah satu negara yang buruk menangani masalah ini harus kita telan mentah-mentah.

 

Kemampuan teknis dan organisasi dari setiap negara sangat menentukan keberhasilan menangani krisis. Kemampuan ini menyangkut kesiapan dan kelengkapan database, bagaimana melakukan kendali pencegahan dan perawatan melalui sistem daring, kesiapan tenaga medis baik dalam jumlah maupun kemampuan, jumlah dan kualitas infrastruktur dan alat kesehatan, bagaimana dapat melakukan testing imunitas atau kepastian penularan dalam skala masif, serta akhirnya kemampuan menyediakan sistem perawatan yang tepat dan jumlah yang cukup untuk menyembuhkan mereka yang sudah positif terpapar.

 

Lagi-lagi begitu banyak negara tergagap-gagap, tidak terkecuali Indonesia, yang bisa dimaklumi karena ini penyakit baru. Tetapi setelah kita mengetahui adanya masalah ini selama lebih dari 4 bulan, rasanya tidak fair untuk rakyat dan pembayar pajak kalau tetap terus memberikan maaf. Dengan waktu 4 bulan, dengan berkaca pada pengalaman negara lain, baik yang melakukan penanganan dengan baik ataupun yang buruk, kita harus sudah berada dalam posisi yang baik untuk mempunyai kebijakan dan kemampuan lapangan yang cukup untuk menekan penularan dan menyembuhkan yang sudah terpapar.

 

Perdebatan sengit mengenai pilihan "health or wealth" juga sudah mampir di tanah air. Pernyataan-pernyataan pejabat kita jelas mendengungkan "wealth" sebagai sesuatu yang sangat penting, seakan mengalahkan mengutamakan "health". Hal yang tidak bisa dikatakan sebagai sama sekali salah, karena: (a) ketidakmampuan kita secara finansial melakukan total lockdown secara nasional, yang artinya harus mampu memberikan pasokan makan kepada mereka yang tidak mempunyai kemampuan mandiri karena harus diam di rumah, dan (b) ketidaksiapan sistem logistik kita untuk mencapai seluruh pelosok tanah air, pulau-pulau terpencil, maupun daerah padat kumuh sepeti misalnya di Jakarta dan Jawa Barat.

 

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) karenanya menjadi pilihan pemerintah. Dengan kebijakan ini, diharapkan terbangun disiplin tinggi masyarakat untuk tinggal dan bekerja di rumah, ekonomi terutama di tingkat bawah masih bergerak untuk menghidupi mereka yang tidak terjangkau sistem stimulus dan bantuan langsung, dan rapid test dan tes laboratorium mulai digalakkan untuk mencegah pandemi lebih luas.

 

Sejumlah pemerintah daerah juga mengimbau agar para warganya tidak mudik tahun ini, dan para pemuka agama berpengaruh sudah cukup upaya untuk menganjurkan umatnya untuk tidak berkumpul melakukan ritual keagamaan. Waktu yang akan membuktikan apakah kebijakan ini tepat untuk Indonesia. Kita hanya bisa melakukan apa yang terbaik yang berada dalam kendali kita masing-masing. Risiko sistem ini juga sangat besar, karena tingkat kesehatan rata-rata penduduk Indonesia yang relatif rentan, mobilitas penduduk yang tinggi, dan disiplin yang belum terbangun baik, yang sangat bisa menyebabkan meningkatnya jumlah mereka yang tertular.

Halaman Selanjutnya:
Berita Terkait