Selasa, 21 April 2020

Endah: Menantang Batas untuk Menemukan Diri Sendiri

Bagi Endah, tantangan menempa pengacara untuk menjadi sosok tangguh dan dapat berpikir cermat dalam mengambil keputusan, sehingga pada akhirnya menjadi satu profesi yang dapat membantu sesama.
CT-CAT
Endah Sulastri, konsultan hukum di Adisuryo Dwinanto & Co (ADCO Law). Foto: istimewa.

Pada dasarnya dalam hidup kita selalu dihadapkan pada tantangan. Tak terkecuali untuk seorang Endah Sulastri. Anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut merasa beruntung karena sejak kecil selalu dilatih untuk menerima tantangan dari ayahnya. Mengenyam pendidikan dari kecil sampai dengan bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di sebuah kota kecil ujung Jawa Tengah pada akhirnya menjadi bagian cerita hidup yang luar biasa, sekaligus menjadi tantangan baginya untuk memulai pendidikan di bangku kuliah.

 

“Cita-cita saya jadi dokter, tapi nggak mungkin, biayanya terlalu mahal,” kata Endah saat ditanya cita-citanya dulu. Dia kembali tertawa saat mengingat bahwa sebenarnya menjadi mahasiswa hukum adalah keinginan yang mendadak muncul setelah ujian sekolah berakhir. Pasalnya, sesuai latar pendidikan saat SMA, yang terlintas di pikiran saat itu adalah berkuliah di bidang sains. Namun, Endah tetap kukuh. Ia yakin, ia tidak harus menjadi dokter untuk membantu sesama. Banyak profesi yang dapat ia gunakan untuk menjalankan tujuan mulia tersebut, termasuk dari ranah hukum.

 

Setelah lulus SMA, Endah pun meneruskan kuliah di Jakarta, yaitu di Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN). Ia ingat sekali, pada waktu itu, Ilmu Hukum di UIN merupakan program yang baru dibuka dan dia masuk sebagai mahasiswa angkatan ketiga. Lingkungan baru, program baru, dan budaya belajar yang baru menjadi tantangan sendiri untuknya yang pada waktu SMA aktif dalam berbagai lomba debat. Impiannya sederhana saat itu. Dia ingin sekali berpartisipasi dalam lomba debat hukum tingkat nasional.

 

Dengan impian tersebut, Endah mendapat tantangan yang luar biasa untuk meyakinkan diri sekaligus tim di organisasinya bahwa mereka memiliki kemampuan untuk bersaing dengan fakultas hukum lainnya dari berbagai universitas ternama di Indonesia. Namun, dengan keyakinan dan usaha, Endah bersama timnya berhasil menjuarai lomba debat tingkat nasional pertama untuk kampusnya. Hal ini pun menjadi cikal bakal kesuksesan almamaternya dalam beberapa lomba debat nasional di tahun-tahun selanjutnya.

 

Permasalahan organisasi dan kampus berlalu seiring dengan kelulusannya di tahun 2014. Tantangan baru kembali muncul di hadapan mata, di mana dia harus bersaing dengan banyak sekali lulusan terbaik dari berbagai universitas ternama di Indonesia. Latar belakang universitas dengan alumninya yang tidak banyak berprofesi sebagai pengacara menjadi tantangan tersendiri untuk Endah. Bahkan, ia mengalami kesulitan untuk sekedar mencari tempat magang.

 

Beruntung, di tahun kelulusannya, Dendi Adisuryo, Managing Partner Adisuryo Dwinanto & Co (ADCO Law) memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada Endah untuk bergabung di kantornya. Dendi menyampaikan, ADCO selalu melihat potensi seseorang untuk berkembang dan menjadi partner di ADCO di masa yang akan datang. Latar belakang kampus tidak menjadi pertimbangan utama dalam memilih kandidat, sebab hal terpenting adalah kandidat memiliki logika yang baik, semangat untuk bekerja keras, dan potensi untuk tumbuh. Selama itu terlihat dari kandidat, besar kemungkinan ADCO akan merekrut. Hal inilah yang Dendi Adisuryo lihat dalam diri Endah kala itu.

 

ADCO juga memberikan kesempatan bagi seluruh timnya termasuk Endah untuk melakukan personal development, baik yang difasilitasi secara langsung oleh firma seperti English improvement dan legal training yang menjadi program ADCO, maupun coaching dengan partner. “Intensitas pekerjaan yang tinggi memang melelahkan bagi associate, tapi di saat yang bersamaan bisa meningkatkan skill dan kedewasaan dalam menangani pekerjaan hukum yang sulit,” kata Dendi.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua