Hukumonline's NeXGen Lawyers 2020

Working from Home, Karina Sungkono Lebih Produktif Jalani Peran Ganda

Menurut Karina, menjalani peran sebagai ibu bekerja adalah hal yang tidak mudah. Apalagi sebagai corporate lawyer dengan jam kerja yang panjang.
Oleh:
CT-CAT
Bacaan 2 Menit
Karina Sungkono, Senior Associate di Hadiputranto, Hadinoto & Partners Law Firm (anggota Baker & McKenzie International—HHP). Foto: istimewa.
Karina Sungkono, Senior Associate di Hadiputranto, Hadinoto & Partners Law Firm (anggota Baker & McKenzie International—HHP). Foto: istimewa.

Berstatus Senior Associate di Hadiputranto, Hadinoto & Partners Law Firm (anggota Baker & McKenzie International—HHP), Karina Sungkono merupakan salah satu lawyer andalan HHP untuk proyek energi dan infrastruktur, khususnya di bidang energi terbarukan. Ia juga memiliki pengalaman dalam bidang pertambangan, migas, financing, serta merger dan akuisisi.

 

Pada 2012, Karina lulus dengan predikat cum laude dari Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan. Di tahun yang sama, ia pun mulai bekerja di salah satu firma hukum terbesar di Indonesia. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif terlibat dalam organisasi kemahasiswaan dan terpilih sebagai Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pelita Harapan. Ia juga mendapatkan beasiswa dari Universitas Pelita Harapan karena prestasi akademis.

 

Menjadi Senior Associate di Usia Muda

Karina bergabung dengan HHP Law Firm pada tahun 2013, dan dalam waktu yang cukup singkat—yaitu enam tahun, ia lalu dipromosikan menjadi senior associate. Kini, ia juga merupakan senior associate paling muda di HHP. Namun, meski baru berusia 29 tahun—Karina telah mengerjakan beberapa proyek infrastruktur yang paling kompleks dan yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Dia merupakan salah satu anggota tim yang terlibat dalam mewakili PT Kereta Cepat Indonesia-Tiongkok untuk pengembangan dan pembiayaan proyek kereta cepat pertama di Indonesia yang menghubungkan Jakarta dan Bandung.

 

Adapun proyek kereta cepat ini memenangkan beberapa penghargaan, yaitu Indonesian Deal of the Year dan Project Finance Deal of the Year dari ALB Indonesia Law Award 2018; serta Impact Deal of the Year dari AsiaLaw Regional Awards 2019. "Saya sangat beruntung bisa terlibat dalam proyek ini sejak tahap awal di tahun 2015 lalu. Sebagai lawyer muda, bisa terlibat langsung untuk melakukan negosiasi dan drafting kontrak dalam proyek sebesar dan sekompleks ini merupakan suatu privilege,” tutur Karina.

 

Selain itu, Karina terlibat mewakili pengembang (independent power producers atau IPP) dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap dan Tolo di Sulawesi Selatan (catatan: kini belum ada PLTB lain di Indonesia selain dua proyek ini); serta enam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala utilitas pertama Indonesia di Lombok dan Sulawesi. Karina mengatakan, proses menangani beberapa deal tersebut adalah pengalaman yang sangat berkesan. Pasalnya, ia beserta tim harus menyusun dan menegosiasikan perjanjian jual-beli listrik generasi pertama untuk PLTB dan PLTS di Indonesia dalam waktu singkat.

 

Sebelumnya, Indonesia belum memiliki pembangkit listrik intermiten skala besar, dan ada urgensi untuk menyelesaikan deal tersebut dalam waktu yang sangat singkat, jauh lebih cepat daripada proyek listrik lain yang mendapatkan pembiayaan internasional sebelumnya. Perjuangan Karina dan tim tidak sia-sia. Pada 2017, Proyek PLTB Sidrap memenangkan penghargaan Smart Project Award dari Project Finance International (PFI).

 

Tetap Energik Menjalani Peran Ibu dan Konsultan Hukum

Menurut Karina, menjalani peran sebagai ibu bekerja adalah hal yang tidak mudah. Apalagi sebagai corporate lawyer dengan jam kerja yang panjang. Karina sendiri adalah ibu dari dua anak dan kini sedang cuti setelah melahirkan anak keduanya pada Februari lalu.

Halaman Selanjutnya:
Berita Terkait