Hukumonline's NeXGen Lawyers 2020

Irina: Konsultan Hukum Perempuan dan Laki-Laki Punya Peluang Sama

Gender tidak menghambat perempuan untuk berperan sebagai konsultan hukum profesional. Hal ini dapat diamati pada proporsi gender di Makarim & Taira S.
Oleh:
CT-CAT
Bacaan 2 Menit
Irina Anindita, Senior Associate di firma hukum Makarim & Taira S. (M&T).
Irina Anindita, Senior Associate di firma hukum Makarim & Taira S. (M&T).

“Gender tidak menghambat perempuan untuk berperan sebagai konsultan hukum yang profesional. Buktinya, dapat diamati dari proporsi gender di Makarim & Taira S. (M&T),” ungkap Irina Anindita—akrab disapa Irina—satu dari empat senior associate perempuan di firma hukum M&T.

 

Perempuan penerima beasiswa dari pemerintah Belanda ini mengawali kariernya di M&T sebagai trainee selama satu tahun. Jalan inilah yang kemudian mengantarkannya pada banyak peluang delapan tahun lalu, tepatnya setelah ia menuntaskan studi yang fokus pada bidang ekonomi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kini, Irina juga merupakan anggota organisasi advokat, Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi).

 

Memiliki spesialisasi di bidang korporat, komersial, perbankan, dan keuangan, pada usia muda—Irina telah dipercaya oleh pelbagai klien untuk membantu mereka dalam sejumlah transaksi besar, termasuk berbagai fasilitas pinjaman luar negeri untuk perusahaan di Indonesia, serta berbagai transaksi akuisisi. Irina juga berperan dalam memberikan nasihat hukum kepada perusahaan pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara serta sejumlah perusahaan asing termasuk perusahaan di bidang perindustrian dan properti.

 

Bagi Irina, penting bagi seorang konsultan hukum perempuan untuk menggunakan setiap peluang yang ditawarkan, terutama jika dukungan dari firma hukum di mana kita bekerja diberikan tanpa bias gender. M&T memberikan kesempatan bagi para konsultan hukumnya untuk berkontribusi dalam kegiatan firma di luar sisi teknis pekerjaan konsultan, seperti pemasaran, pendidikan serta pelatihan, publikasi, dan pendamping bagi anak sindroma down yang berpartisipasi dalam program M&T.  M&T bekerja sama dengan Center of Hope ISDI (Ikatan Sindroma Down Indonesia) dengan menawarkan siswa ISDI kesempatan untuk mengikuti sejumlah pelatihan dan bekerja pada beberapa posisi. Kontribusi tersebut merupakan wujud dari kepercayaan firma untuk mengembangkan diri dan firma itu sendiri. Dukungan firma untuk melanjutkan pendidikan juga disambut oleh Irina untuk mengambil dan menamatkan studi masternya di Maastricht University, Belanda dengan predikat cum laude. Adapun pencapaian Irina sejalan dengan kultur dan komitmen M&T untuk menyediakan layanan prima kepada para kliennya.

 

Dikenal sebagai salah satu firma hukum pionirbereputasi baik di kalangan para pembuat kebijakan, BUMN, dan industri kelas dunia, serta firma pertama yang melibatkan anak sindroma down dalam kegiatan operasionalnya, M&T memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anggotanya untuk berani menantang diri mereka sendiri di luar zona nyaman. Selain terus mempelajari hard skill, Irina memanfaatkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan mengambil kelas dan seminar daring sebagai upaya memperoleh pengetahuan baru.

 

Jika Ruth Bader Ginsburg prihatin dengan ketimpangan gender di Mahkamah Agung AS, para konsultan hukum perempuan di M&T tidak lagi mendapati hal tersebut sebagai hambatan. Sebab, menurut Irina, kesempatan yang dimiliki oleh perempuan untuk menjadi konsultan hukum sama dengan laki-laki,” tutur Irina yang melihat kegagalan sebagai pelajaran pengembangan diri, baik sebagai konsultan hukum perempuan maupun pribadi.

 

Optimisme senada juga Irina suarakan selama pandemi. Di masa-masa sulit ini, ia mengimbau setiap orang untuk tetap melakukan peran masing-masing, tanpa melupakan beberapa hal, seperti disiplin menjaga kebersihan dan kesehatan, tertib mengikuti imbauan pemerintah, saling membantu sesama yang terdampak, serta berdoa kepada Tuhan YME.

 

Artikel ini merupakan kerja sama antara Hukumonline dengan Makarim & Taira S. (M&T).

Berita Terkait