Selasa, 30 June 2020

Resah Soal YouTube, Top Lawyer Indonesia Ini Jajal Jadi YouTuber

“Sebelum work from home saya merekamnya di kantor sebelum mulai jam kerja. Sekarang saya lakukan di rumah dan hasilnya jauh lebih banyak selama masa pandemi Covid-19,” Haris menjelaskan sambil tergelak.

Jumlah video yang berhasil ia rekam selama tiga bulan masa pandemi ternyata menyamai jumlah video dihasilkan sepanjang tahun 2019. Haris mengaku ada lebih banyak kesempatan untuk membuat konten ‘Senior Berbagi’. Semua video pun ia edit dan unggah sendiri.

“Anak saya mengajarkan sedikit harus pakai aplikasi apa untuk edit, lalu semuanya saya kerjakan sendiri,” ujarnya. Ia tidak punya target khusus soal menghasilkan berapa banyak video. Semua berjalan santai.

Rupanya masa pandemi membuat Haris punya stok video yang cukup sampai dua bulan ke depan. “Dengan jadwal video baru tiap Senin dan Kamis, sekarang sudah cukup sampai Agustus nih,” kata lawyer yang mengawali karier sebagai in house counsel di sebuah perusahaan minyak internasional ini.

Haris berharap bisa menyajikan sudut pandang lain atas berbagai persepsi keliru soal profesinya. Terutama soal gaya hidup mewah dan minimnya semangat kontribusi sosial. “Banyak sesat pikir soal profesi lawyer. Padahal profesi ini punya semangat pengabdian tinggi, bukan soal mengejar kaya raya,” katanya.

Sebelum membangun AHRP, sebagian besar karier Haris dihabiskan dengan bergabung di firma hukum besar Indonesia, yakni Lubis Ganie Surowidjojo (LGS). Ia bergabung pada tahun 1997 dan baru memulai kantor miliknya sendiri di tahun 2018. Haris tercatat pula sebagai lulusan kampus-kampus hukum terbaik di dunia mulai dari Universitas Indonesia hingga Cornell University di Amerika Serikat.

 

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua