Rabu, 01 Juli 2020

Upaya Mencegah Kecurangan dalam Program JKN

“Apakah ini bisa juga disebut sebagai fraud yang dilakukan pemerintah? Karena tarif yang dibayar untuk RS dibiarkan turun,” kata Prof Hasbullah dalam diskusi secara daring, Selasa (30/6/2020). (Baca Juga: Pemerintah Diminta Terus Benahi Tata Kelola Program JKN)

Hasbullah menilai jika tarif yang ditetapkan besarannya kecil dapat berpotensi menimbulkan fraud. Dia khawatiir kecilnya tarif yang dibayar untuk RS ini mempengaruhi pelayanan yang diberikan terhadap peserta. Karena itu, pemerintah perlu menetapkan besaran iuran yang memadai untuk program JKN, sehingga besaran tarif yang dibayar BPJS Kesehatan kepada RS sesuai dan layak.

Upaya pencegahan fraud

Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Wahyuddin Bagenda mengatakan salah satu upaya yang dilakukan BPJS Kesehatan untuk mencegah fraud yakni memperkuat sistem teknologi informasi. Dia menjelaskan sejak 2013, PT Askes sudah menyiapkan berbagai hal untuk bertransformasi menjadi BPJS Kesehatan. Diantaranya, bidang teknologi informasi seperti sistem administrasi kepesertaan, keuangan, human resources, dan pelayanan primer (primary care) serta RS (SEP Desktop).

Menurut Bagenda, pengembangan sistem teknologi informasi itu terus dilakukan setiap tahun. Beberapa teknologi yang berkaitan dengan pencegahan fraud antara lain pengembangan eligibilitas peserta seperti finger print, sistem claim audit (Defrada berbasis online analytical processing). “Sekarang BPJS Kesehatan menggunakan finger print, tanda tangan digital, dan klaim digital,” ujarnya.

Sekjen Perhimpunan RS Seluruh Indonesia, Lia G Partakusuma menekankan pentingnya teknologi informasi dalam melayani pasien, termasuk peserta JKN. Dengan memanfaatkan teknologi, kepesertaan dapat diketahui secara jelas dan transparan. Misalnya, menghubungkan data kepesertaan JKN dengan data Dukcapil.

Untuk membuat proses menjadi lebih efisien dan membantu RS melakukan penghematan, dia berharap ada sistem yang mampu menghubungkan semua pemangku kepentingan termasuk penyedia obat dan alat kesehatan. “Dengan teknologi informasi ini, RS tak hanya mampu menghemat biaya dan memberikan pelayanan yang baik, tapi juga mendorong RS makin berkembang,” katanya.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengakui banyak pihak yang menyoroti pelaksanaan JKN khususnya bagaimana mengatasi tindak kecurangan (fraud). Fachmi menyebut BPKP telah melakukan audit investigasi dimana semua fasilitas kesehatan mitra BPJS Kesehatan diperiksa, seperti puskesmas, klinik, dan rumah sakit (RS). Hasilnya, BPKP menemukan fraud dalam pelaksanaan JKN hanya 1 persen.

Menurut Fachmi, jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan negara lain yang menjalankan program serupa, misalnya NHS di Inggris tingkat fraud mencapai 3 persen. Fachmi menyebut lembaganya dapat meminimalkan potensi fraud karena telah melakukan sejumlah upaya, salah satunya memperketat pemeriksaan berkas klaim yang masuk.

Hasilnya, efisiensi hasil pemeriksaan pra klaim mampu menemukan Rp8,8 triliun klaim tidak sesuai ketentuan; efisiensi hasil verifikasi menemukan ada Rp1,3 triliun; dan efisiensi pasca verifikasi Rp400 miliar. “Tahun 2019 totalnya sekitar Rp10,5 triliun kami berhasil menyelamatkan uang negara dari pembayaran klaim yang tidak sesuai,” kata Fachmi dalam diskusi secara daring, Kamis (18/6/2020) lalu. (Baca Juga: Tiga Kementerian Diingatkan Tindak Lanjuti Rekomendasi KPK Soal Defisit BPJS Kesehatan)

Sebelumnya, KPK merekomendasikan beberapa alternatif solusi yang diyakini dapat menutupi defisit BPJS Kesehatan. Salah satunya, KPK mendorong pemerintah untuk menindaklanjuti verifikasi klaim untuk mengatasi fraud atau kecurangan di lapangan berupa administrasi atau pengembalian klaim, dalam lingkup perdata atau pemutusan kontrak kerja sama, dan pidana.   

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua