Rabu, 22 July 2020

Amerika Serikat Tempati Urutan Kedua Terbanyak Pembaca Jurnal Hukum Indonesia

Chicago ada dalam sepuluh besar kota lokasi pembaca jurnal hukum Indonesia.
Normand Edwin Elnizar
Foto dan tabel ilustrasi mengenai jurnal hukum yang dikelola hukumonline. Ilustrator: BAS

Laporan Tahunan Pusat Data Jurnal Hukumonline menyebut akses kedua terbanyak ke jurnal-jurnal hukum Indonesia dalam portal Jurnal Hukum berasal dari Amerika Serikat. Posisinya disusul oleh Singapura, Malaysia, dan Jepang.

Hukumonline meluncurkan laman portal khusus bernama Jurnal Hukum sejak 2 Mei 2019 silam. Waktu peluncuran sengaja dipilih bertepatan Hari Pendidikan Nasional. Hal itu menegaskan Jurnal Hukum sebagai wujud komitmen Hukumonline memberikan edukasi hukum bagi masyarakat luas.

Berdasarkan laporan, tercatat 326,712 pageviews hingga 2 Mei 2020 lalu. Jumlah rata-rata kunjungan per bulan tidak kurang dari 27,226 pageviews. Mengacu demografi lima besar negara yang mengakses, Jurnal Hukum telah menjangkau pembaca internasional di regional Asia dan Amerika.

Tentu saja pembaca terbanyak masih berasal dari Indonesia. Namun, dari sepuluh besar kota lokasi pengunjung Jurnal Hukum terselip nama Chicago. “Dalam Top 10 kota yang mengakses itu semuanya di Indonesia kecuali Chicago. Ini cukup mengejutkan kami,” kata Maryam Rodja, Partnership & Community Engagement Manager Hukumonline.

(Baca juga: Jurnal Hukum: Open Access Database Jurnal Hukum Pertama di Indonesia).

Masing-masing kota tersebut secara berurutan dari posisi pertama adalah Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Semarang, Bandung, Surakarta, Depok, Palembang, dan Chicago. Sepuluh jurnal hukum yang paling banyak dikunjungi tidak hanya dari kampus hukum di Pulau Jawa. Ada jurnal hukum dari Universitas Bangka Belitung, Universitas Bengkulu, dan Universitas Jambi. Jurnal hukum dari Universitas Bangka Belitung dan Universitas Bengkulu bahkan ada di deretan lima besar.

Sepuluh jurnal hukum tersebut secara berurutan ialah Jurnal Ilmu Hukum Universitas Padjajaran-Jawa Barat, Jurnal Litigasi Universitas Pasundan-Jawa Barat, Jurnal Hukum dan Masyarakat Madani Universitas Semarang-Jawa Tengah, Jurnal Hukum Progresif Universitas Bangka Belitung-Kep.Bangka Belitung, Jurnal Penelitian Hukum Universitas Bengkulu-Bengkulu, Jurnal Hukum Universitas YARSI-DKI Jakarta, Jurnal Hukum dan Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim-Malang, Jurnal Hukum Universitas Jambi-Jambi, Indonesian Journal of International Law Universitas Indonesia-Jawa Barat, dan Jurnal Hukum Bisnis Bonum Commune Universitas 17 Agustus Surabaya-Jawa Timur.

Berdasarkan usia, 46 persen pembaca berusia antara 18-24 tahun, disusul 31 persen pembaca berusia antara 25-34 tahun, dan ada 10 persen pembaca berusia antara 35-44 tahun. Hanya ada kurang dari 10 persen pembaca pada usia yang lebih tua dari itu. Tercatat pula bahwa sebesar 52 persen pembaca laki-laki dan 48 persen perempuan. Lebih dari 60 persen pembaca mengakses dengan smartphone.

“Kami pun baru tahu jangkauan jurnal hukum kita cukup banyak diakses dari luar negeri. Portal yang dibuat Hukumonline ini sangat memudahkan mereka yang meneliti hukum Indonesia,” kata Arie Afriansyah, Ketua Asosiasi Pengelola Jurnal Hukum Indonesia (APJHI). Bagi Arie, portal Jurnal Hukum ibarat ‘google’ khusus jurnal hukum Indonesia.

(Baca juga: Teken Kerja Sama dengan APJHI, Hukumonline Segera Luncurkan Database Jurnal Hukum).

“Tidak perlu repot lagi mencari satu per satu ke portal tiap jurnal, cukup dengan bantuan search engine dari Hukumonline. Menurut saya sangat menguntungkan,” Arie menambahkan. Ia menyebut Jurnal Hukum adalah satu-satunya portal agregator untuk jurnal-jurnal hukum di Indonesia hingga saat ini.

Jurnal Hukum adalah open-access database yang berisi jurnal, artikel ilmiah, serta publikasi hukum se-Indonesia. Semua bisa diakses gratis melalui tautan http://jurnal.hukumonline.com/. Maryam mengatakan harapan Hukumonline untuk mempermudah akses jurnal, artikel ilmiah, dan publikasi hukum yang kredibel. Terutama dalam meningkatkan budaya riset dan penelitian hukum di Indonesia. “Kami melihat dunia riset dan pendidikan hukum Indonesia perlu didukung dengan one stop legal platform. Kali ini menyajikan hasil riset ilmiah,” kata Maryam.

Koleksi artikel dan jurnal yang terdapat dalam Jurnal Hukum saat ini adalah karya ilmiah yang sudah terindeks pada Crossref dan DOAJ.

Menurut Maryam, minat atas hasil riset hukum tidak hanya datang dari kalangan akademisi dan peneliti hukum. Berbagai firma hukum atau tim hukum di perusahaan juga kerap membutuhkan rujukan informasi dari hasil riset hukum terbaru. Kehadiran portal ini menjadi jembatan untuk mempermudah akses antara penawaran dan permintaan tersebut.

“Tiap kunjungan lewat Hukumonline masuk dalam hitungan kunjungan portal jurnal tersebut. Ditambah lagi kami rutin mempromosikan judul-judul jurnal yang relevan dengan isu hangat di masyarakat,” Maryam menjelaskan manfaat lain Jurnal Hukum bagi para penyedia konten jurnal.

Pola ini diakui Arie saling menguntungkan. Para pengelola jurnal hukum terbantu untuk memperoleh pengunjung. Apalagi jumlah kunjungan itu menjadi syarat penilaian akreditasi jurnal oleh Kementerian Riset dan Teknologi.  “Ini juga memacu jurnal yang sudah terakreditasi agar tidak berpuas diri. Sistem di portal ini memungkinkan akses terintegrasi, pembaca akan memilih hasil paling relevan lewat search engine,” katanya.

Artinya, jurnal yang sudah terakreditasi belum tentu menjadi yang paling banyak dikunjungi. “Jadi kalau merasa sudah terakreditasi dan terkenal, lalu apa sebabnya nggak ada di top 20? Kompetisi meningkat. Ternyata yang dicari tetap kontennya, bukan akreditasinya,” Arie menambahkan.

Hingga saat ini ada 151 jurnal hukum yang terhimpun dalam Jurnal Hukum. Sebanyak 10.726 artikel jurnal dari 10.721 penulis bisa diakses mudah dan gratis. Inovasi ini masih akan terus dikembangkan Hukumonline. Maryam tidak menutup kemungkinan Jurnal Hukum dikembangkan sebagai portal indeks jurnal yang menerapkan standar ilmiah khusus. “Secara realistis kami akan jalani kolaborasi saat ini dulu sambil mempersiapkan diri menjadi Indeks jurnal yang memenuhi standar nasional bahkan internasional,” ujar Maryam.

Konten jurnal yang ada dalam Jurnal Hukum memang tidak hanya berbahasa Indonesia. Ada juga jurnal hukum di Indonesia yang berbahasa Inggris dan Arab.

Kolaborasi konten diperoleh Hukumonline lewat jurnal hukum yang bergabung dalam APJHI. Namun tidak menutup kemungkinan kerja sama dengan jurnal-jurnal hukum yang belum bergabung dalam APJHI.

Arie mengapresiasi kehadiran portal Jurnal Hukum. Laporan tahunan perdana kali ini membantu anggota APJHI dalam mengembangkan jurnal hukum Indonesia. “Saya harap fiturnya terus dikembangkan untuk memudahkan peneliti. Saat ini rujukan ke karya jurnal jauh lebih diutamakan dibandingkan buku literatur,” ujar Arie. Para ilmuwan didorong mengembangkan ilmu pengetahuan dengan merujuk hasil riset terbaru. Sumber seperti itu bisa didapatkan dalam artikel jurnal.

Hal lain yang diharapkan Arie adalah semakin dikenalnya jurnal hukum di Indonesia oleh kalangan peneliti dan akademisi internasional. “Peneliti asing yang ingin menulis tentang Indonesia lebih suka merujuk riset karya orang Indonesia daripada sesama orang asing. Ternyata tidak harus jurnal terindeks Scopus juga,” Arie menjelaskan.

Fakta bahwa akses dari Amerika Serikat dan beberapa negara lain cukup banyak perlu dilihat sebagai peluang. Arie berharap Hukumonline bisa membantu pula menerjemahkan abstrak jurnal berbahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Cara itu bisa mengoptimalkan pembaca internasional menemukan konten jurnal yang tepat. Tentu saja akses internasional yang meningkat ikut mengangkat reputasi hasil riset dan para ilmuwan hukum Indonesia.

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua