Kamis, 24 September 2020

Tuntutan Maksimal Para Mantan Petinggi Jiwasraya

Penuntut juga menguraikan perbuatan melawan hukum serta apa saja yang diperoleh para terdakwa dalam korupsi Jiwasraya.
Aji Prasetyo
Suasana persidangan secara telekonferensi tiga terdakwa kasus Jiwasraya, Rabu (23/9). Foto: AJI

Tiga orang terdakwa kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (AJS) menjalani persidangan lanjutan pada Rabu (23/9) dengan agenda tuntutan. Para terdakwa mulanya mungkin tak menyangka, persidangan kali ini mengejutkan mereka karena penuntut umum pada Kejaksaan Agung menuntut mereka secara maksimal yaitu seumur hidup, 20 tahun dan 18 tahun karena dianggap terbukti merugikan keuangan negara sebesar lebih dari Rp16 triliun.

Ketiganya dianggap terbukti bersalah melakukan tidak pidana korupsi sesuai surat dakwaan Pasal 2 ayat (1) Juncto Pasal 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Dari ketiga terdakwa, Hary Prasetyo, Direktur Keuangan Jiwasraya periode 2013-2018 dituntut paling berat. “Menuntut Terdakwa Hary Prasetyo dengan pidana penjara seumur hidup,” kata penuntut umum dengan suara lantang.

Penekanan amar tuntutan Hary dengan dua terdakwa Jiwasraya lain memang berbeda. Pada saat pembacaan amar tuntutan, penuntut berbicara dengan lantang dan tegas, tidak seperti pembacaan amar kepada dua terdakwa Jiwasraya lain yang dihukum sedikit lebih ringan. Walaupun dua terdakwa yang dimaksud hukumannya juga sangat tinggi bahkan mendekati hukuman maksimal.

Misalnya Direktur Utama Jiwasraya periode 2008-2018 Hendrisman Rahim yang dituntut 20 tahun dan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya periode 2008-2014, Syahmirwan yang dituntut selama 18 tahun. Ketiganya dikenakan jumlah denda yang sama yaitu masing-masing sebesar Rp1 miliar yang jika tidak dibayar maka diganti dengan pidana penjara selama 6 bulan.

Cukup menarik memang apa alasan jaksa menuntut ketiganya dengan pidana maksimal dan juga mengapa tuntutan terhadap Hary yang menjabat direktur keuangan justru lebih tinggi dari Hendrisman yang merupakan direktur utama pada saat perkara ini terjadi. Dalam pertimbangan memberatkan dan meringankan ada sedikit perbedaan terutama antara Hary Prasetyo dan Hendrisman Rahim.

Untuk Hary misalnya, pertimbangan memberatkan perbuatannya tidak mendukung program pemerintah dan pemberantasan tindak pidana korupsi, perbuatannya juga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap asuransi. Sementara meringankan hanya satu, yaitu belum pernah menjalani hukuman pidana.

“Hal memberatkan perbuatan Terdakwa tidak mendukung program pemberantasan korupsi, perbuatan terdakwa terencana, terstruktur dan masif dan terindikasi membuat kesulitan ekonomi nasabah PT AJS. Hal meringankan Terdakwa kooperatif dan belum pernah dihukum,” ujar penuntut.

Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua