Hukumonline’s Top 100 Indonesian Law Firms 2021

SSMP Law Firm: ‘Bersemi’ Kala Pandemi

Perencanaan, adaptasi, membaca ceruk pasar, dan keberuntungan menjadi kunci SSMP.
Oleh:
Tim Publikasi Hukumonline
Bacaan 7 Menit

 

Rafles pun menyebutkan beberapa sektor usaha menjadi penyumbang pekerjaan. Paling besar, berasal dari industri jasa keuangan, baik institusi perbankan maupun private equity. Mengingat likuiditas di market mengalami gangguan, maka banyak korporasi dan investor mengambil langkah restrukturisasi yang melingkupi banyak aspek. Tak sedikit pula yang akhirnya ditempuh melalui mekanisme litigasi di pengadilan.

 

Sedari berdiri, SSMP sudah memfokuskan diri di pasar restrukturisasi. Selain itu, pasar commercial litigation juga relatif stabil. Belum lagi tambahan pekerjaan melakukan likuidasi perseroan yang bukan melalui jalur kepailitan. Pekerjaan advising untuk membantu klien menavigasi persoalan ketenagakerjaan, force majeur, dan aksi korporasi juga berjalan normal. Alhasil, SSMP tetap bertumbuh dan harus menambah tenaga profesionalnya sepanjang masa pandemi untuk tetap menjaga kualitas pekerjaan dan kecepatan layanan. 

 

“Restrukturisasi itu lingkup pekerjaannya luas sekali. Misal kalau terjadi kredit macet, restrukturisasi butuh lawyer yang diharapkan bisa memberikan masukan bagi klien untuk mengambil keputusan. Strategi terbaiknya seperti apa, apakah cukup dengan pendekatan bilateral. Pendekatan bilateralnya juga beragam model penyelesaian. Kalau tidak bisa, opsi lain apa yang tersedia untuk klien. 

 

Rafles mengungkapkan, kebutuhan tiap korporasi berbeda-beda, sehingga strategi yang diberikan tidak mungkin pukul rata, perlu nasihat komprehensif.  Besaran angka kredit yang direstrukturisasi juga terbilang besar. "Apalagi jikalau klien kita institusi keuangan atau investor asing, kita harus tetap memperhatikan aspek efisiensi juga. Belum lagi di industri jasa keuangan punya beragam aturan yang memagarinya, jadi memang banyak aspek yang perlu ditimbang. Beruntung kami sudah terlibat dan berpengalaman dalam berbagai model kegiatan restrukturisasi. Jadi portofolionya lebih dari cukup untuk membantu klien menavigasi keadaan sekarang,” sambung Rafles.

 

Fokus sedari awal di sektor tertentu membawa berkah tersendiri bagi SSMP di masa sulit seperti sekarang. Tak heran jika SSMP kemudian mendapat banyak kepercayaan dari beragam institusi finansial, baik asing maupun domestik. Sektor restrukturisasi dan litigasi komersial menurut Rafles cenderung stabil dan terjaga pasarnya. Kalau ekonomi normal atau membaik sekalipun, tetap saja kesulitan likuiditas bisa terjadi. Bisnis tak selalu untung, apalagi di masa pandemi sekarang.

 

Meskipun demikian, pandemi tetap menghadirkan beberapa tantangan dalam penyelesaian pekerjaan. Terlebih, jika restrukturisasi berujung ke litigasi yang harus melibatkan institusi pengadilan. Selama pandemi, meskipun dengan ragam penyesuaian, pengadilan tetap berjalan seperti biasa dan SSMP tak punya pilihan lain untuk menghindarinya.

 

Meskipun memang E-Litigasi sudah diterapkan, tetapi skala penggunaannya masih relatif lebih kecil dibanding model persidangan manual. Kesulitan terbesarnya, selain harus secara berkesinambungan menggunakan moda transportasi umum seperti pesawat, adalah menjaga jarak selama di pengadilan. Terlebih, jika perkara tersebut melibatkan banyak pihak.

Berita Terkait