Pojok MPR-RI

Penting Komunikasi Orang Tua dan Guru untuk Sukseskan PTM

Pembelajaran tatap muka (PTM) di masa pandemi menuntut kerja sama yang baik antara guru dan pengelola sekolah dengan orang tua murid.
Oleh:
Tim Publikasi Hukumonline
Bacaan 2 Menit
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Foto: Istimewa.
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. Foto: Istimewa.

JAKARTA - Di kawasan sekolah para guru dan pengelola sekolah menjadi penanggung jawab pelaksanaan belajar mengajar dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun, di rumah, dalam perjalanan berangkat dan pulang sekolah, keselamatan siswa sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua murid. Demikian diungkapkan Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, dalam keterangan tertulisnya, terkait digelarnya pembelajaran tatap muka 610 sekolah di DKI Jakarta, Senin (30/8).

Menurut Lestari, dalam pelaksanaan PTM di masa pandemi Covid-19 ini perlu dipikirkan langkah yang tepat untuk memastikan keamanan siswa saat berangkat dan pulang sekolah. Selain itu, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, keterbukaan setiap keluarga terhadap guru dan pengelola sekolah juga harus ditingkatkan.

Sebagai misal, jelas Rerie, bila ada anggota keluarga yang terpapar Covid-19 bisa segera diinformasikan kepada guru, agar siswa yang berstatus kontak erat dari keluarga yang terpapar Covid-19 tersebut tidak perlu berangkat ke sekolah.

Komunikasi yang baik antara orang tua dan guru, ujar anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, bisa juga dimanfaatkan untuk memperluas cakupan vaksinasi Covid-19 bila ada keluarga yang belum mendapatkan vaksin Covid-19.

Berbagai upaya dalam membangun komunikasi yang baik antara orang tua murid dan guru, tegas Rerie, harus terus dilakukan secara konsisten agar pelaksanaan PTM di masa pandemi Covid-19 bisa berjalan sesuai dengan rencana.

Jadi, ujar Rerie, yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil II Jawa Tengah itu, dilaksanakannya PTM bukan berarti tanggung jawab orang tua berkurang, tetapi justru harus lebih intensif dalam mengawasi putra-putri mereka.

Berbagai upaya tersebut, jelas Rerie, merupakan bagian dari upaya adaptasi untuk menekan potensi learning loss yang mengancam para siswa di masa pandemi ini.