Terbaru

Pentingnya Kolaborasi dengan Pemuda untuk Membangun Jakarta

Karena anak muda menjadi agen perubahan. Berperan menjadikan Jakarta kota yang ramah, disiplin dan toleran terhadap berbagai adat dan budaya.
Oleh:
Rofiq Hidayat
Bacaan 4 Menit
Sejumlah narasumber dalam webinar bertajuk 'Peran Pemuda dalam Pembangunan Jakarta: Mendorong Partisipasi yang Lebih Bermakna', Rabu (8/9/2021). Foto: RES
Sejumlah narasumber dalam webinar bertajuk 'Peran Pemuda dalam Pembangunan Jakarta: Mendorong Partisipasi yang Lebih Bermakna', Rabu (8/9/2021). Foto: RES

Dalam sejarah, pemuda menjadi agen perubahan sebuah negara bernama Indonesia. Sejarah menjadi pijakan dalam menapaki masa depan peradaban sebuah negara. Keberadaan pemuda menjadi tonggak sebuah pergerakan dan melakukan perubahan. Termasuk dalam sebuah pembangunan sebuah kota Jakarta misalnya menjadi lebih ramah dan toleran di tengah budaya yang multikultur.

Pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI) Asep Kambali mengatakan mempelajari sejarah kota Jakarta tak ada habisnya meski bangunan sejarah yang tersisa bisa dihitung dengan jari, namun keberadaanya harus tetap dijaga dan dirawat. Sebab, sejarah menjadi bagian jejak peradaban yang tak boleh hilang dalam sebuah negara atau kota. Asep ingat betul pesan Presiden Soekarno agar tak boleh melupakan sejarah.

“Pemuda itu agen perubahan, mereka yang menentukan masa depan. Yang pasti kita punya tantangan dan harus berkolaborasi,” ujar Asep Kambali dalam webinar bertajuk “Peran Pemuda dalam Pembangunan Jakarta: Mendorong Partisipasi yang Lebih Bermakna”, Rabu (8/9/2021).

Sejarah membuktikan saat merebut kemerdekaan para pemuda berkolaborasi dengan berbagai kelebihan, kemampuan, dan kekurangan di zamannya. Begitu pula dalam membangun kota Jakarta dengan beragam persoalan dan tantangannya, tak bisa dibebankan pada pemerintah daerah semata. Namun, semua para pemangku kepentingan terlibat dan saling mendukung dalam mewujudkan kota Jakarta yang jauh lebih ramah, tertib, hingga toleran dengan beragam budaya yang multikultur.

Asep memberi contoh keberadaan rumah digital Indonesia yang telah berdiri. Sebab, rumah digital indonesia menjadi tempat berbagi informasi soal Indonesia dengan beragam adat dan budayanya. Berdirinya rumah digital Indonesia ini pun tak lepas dari kolaborasi anak muda.  Begitupula Jakarta hari ini menjadi kota besar yang bersanding dengan kota-kota besar di banyak negara lain tak lepas dari peran pemuda.

Apalagi Indonesia saat ini sedang mengalami situasi bonus demografi yang berlebih. Makanya, perlu disalurkan dan diberikan ruang yang positif bagi anak muda. Sebagai ibukota negara, Jakarta memiliki tantangan tersendiri dalam pengelolaannya. Termasuk mengembangkan kota Jakarta agar menjadi kota yang maju, ramah, dan toleransi dengan berbagai budaya, adat, suku, dan agama yang ada.

Dia melanjutkan kebesaran multikultur itu menjadi kekayaan dan potensi besar melalui peran penting para pemuda menyebarkan literasi soal kebudayaan dan sejarah kota Jakarta. Seperti membangun pusat-pusat pariwisata di kota Jakarta melalui museum dan bangunan bersejarah. “Bagaimana menghidupkan pariwisata di daerah ini dan ditentukan partisipasi anak muda. Ini untuk akselerasi ekonomi kita. Jakarta masih punya tempat-tempat bersejarah, wisata kota tua, dan lapangan banteng,” katanya.

Berita Terkait