Terbaru

Luhut Binsar: Junjung Etika dan Tanggung Jawab Saat Menyatakan Pendapat

Semua kalangan agar menggunakan cara beradab dalam menyampaikan pendapat dan berekspresi. Prinsipnya semua boleh berpendapat dan mengkritik siapapun sepanjang menggunakan data yang dapat diuji bersama.
Oleh:
Rofiq Hidayat
Bacaan 3 Menit
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan saat tiba di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Jakarta untuk klarifikasi laporannya terhadap Haris-Fatia, Senin (27/9/2021). Foto: RES
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan saat tiba di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Jakarta untuk klarifikasi laporannya terhadap Haris-Fatia, Senin (27/9/2021). Foto: RES

“Saya tentu sangat terbiasa dengan kritik dan masukan dari siapapun tanpa pandang usia, bahkan status sosial”. Demikian sepenggal bantahan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) terhadap tudingan banyak kalangan terkait pelaporannya terhadap dua aktivis pegiat hak asasi manusia (HAM), Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti ke Polda Metro Jaya pekan lalu. 

Sebagai orang yang memiliki banyak pengalaman, Luhut memang kerap dimintakan pandangannya dalam dialog pada acara televisi. Tak jarang perdebatan terjadi dengan lawan bicaranya. Menurutnya, banyaknya tayangan dialog berformat digital menjadikan pejabat negara dapat mendengar kritikan maupun saran dari masyarakat.

“Dengan catatan, setiap kritik dan masukan pasti ada sebab yang masuk akal yang melatarbelakanginya,” ujar Luhut Binsar Pandjaitan dalam akun Instagram milik pribadinya, beberapa hari lalu. (Baca Juga: Pelaporan Pidana Luhut ke Haris-Fatia Ciri Negara Otoriter)

Luhut mengakui kritik terhadap dirinya tak jarang datang dari orang yang dikenal dekat. Namun baginya, dalam mengkritik perlu duduk bersama untuk berdialog. Menjadi tak elok rasanya, ketika mengkritik tak bicara langsung dengan orang yang dituju. “Alih-alih meminta klarifikasi malah membicarakan hal yang belum jelas dan benar faktanya,” kata dia.

Jenderal Purnawirawan Angkatan Darat itu melihat belakangan ditemukan banyak penyesatan opini hingga tuduhan tak berdasar yang dialamatkan pada orang (pejabat) atau lembaga yang disebar di sosial media. Namun Luhut mengakui tak mempermasalahkan pendapat atau penilaian orang lain terhadap dirinya.

Dia paham betul adanya perbedaan pandangan atau pendapat menjadi keberkahan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Terlebih berada dan tinggal di negara demokrasi yang kebebasan berpendapat amat dihargai. Namun demikian, kebebasan berpendapat harus bertanggung jawab. “Tetapi kita harus ingat, bahwa kebebasan berpendapat dan berekspresi haruslah disertai etika dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Dia berharap sebagai bangsa yang bermartabat karena perbedaan pendapat, sudah selayaknya menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab saat menyatakan pendapat dan berekspresi. Dalih kebebasan berpendapat dan berekspresi tak berarti bebas menyerang pribadi seseorang.

Berita Terkait