Pojok MPR-RI

Syarief Hasan: Strategi Era SBY Masih Relevan Atasi Ancaman Perubahan Iklim

Prioritas saat ini adalah Indonesia bisa berkontribusi di dalam upaya pencegahan perubahan iklim. Indonesia diharapkan dapat merealisasikan target pengurangan gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030.
Oleh:
Tim Publikasi Hukumonline
Bacaan 2 Menit
Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan. Foto: Istimewa.
Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan. Foto: Istimewa.

JAKARTA - Krisis iklim perlu menjadi prioritas bersama, baik pemerintah dan seluruh elemen bangsa. Isu perubahan iklim telah ada dan sejak lama menjadi perhatian pemerintah. Demikian diungkapkan Wakil Ketua MPR RI, Syarief Hasan, di Jakarta, Rabu (6/10).

Menurut Syaref Hasan, sejak tahun 2011, Presiden SBY sudah merumuskan konsep peralihan menuju Green Global Economic, di mana Indonesia yang dipimpin oleh Presiden SBY  telah melahirkan dan melaksanakan pembangunan dengan konsep  strategi pembangunan 4-track, yaitu pro-growth, pro-job, pro-poor, dan pro-environment.

“Permasalahan perubahan iklim ini menjadi perhatian Presiden SBY sejak 10 pemerintahun SBY. Strategi pembangunan 4-track juga sudah diadopsi dalam berbagai rumusan kebijakan. Bahkan kemudian konsep ini juga yang melandasi perumusuan program-program SDGs (Sustainable Development Goals). Usia bumi yang kita pijak semakin tua, dan manusia sudah terlalu banyak membebani kehidupannya dengan mengeksploitasi isi bumi, maka menjadi penting untuk kita sadari bersama, bahwa ancaman krisis iklim itu nyata. Kita sudah rasakan banyak sekali bencana yang terjadi akibat perubahan iklim ini. Suhu bumi yang semakin panas, kenaikan volume air laut, hingga yang terbaru adalah ancaman tenggelamnya ibukota,” kata Syareif Hasan.

Politisi senior partai demokrat tersebut juga menyampaikan bahwa saat ini yang menjadi prioritas ialah bagaimana Indonesia bisa berkontribusi di dalam upaya pencegahan perubahan iklim. DPR saat ini sedang dibahas tentang Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan (RUU EBT), di mana Indonesia diharapkan dapat merealisasikan target pengurangan gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030 yang termaktubkan dalam UU Nomor 16/2016.

"Kita terus dorong berbagai produk kebijakan yang ramah lingkungan, sehingga kemudian terbangun sistem dan pelaksanaannya dapat berjalan sesuai dengan target NDC (Nationally Determined Contributions). Ini menjadi concern kita semua,khususnya Pemerintahan sekarang dan yang akan datang” ujar Syareif Hasan.

Berbagai dialog dilakukan, di antaranya dialog antara pemimpin agama dan ilmuan dalam menyerukan perlunya tindakan nyata untuk mengatasi perubahan iklim yang berlangsung di Vatikan.  Paus Fransiskus menyampaikan kepada Presiden-Designate COP26, Rt Hon Alok Sharma dan Menteri Luar Negeri Italia, Hon. Luigi Di Maio, bahwa sebanyak 40 pemimpin agama, yang mewakili miliaran orang di dunia telah sepakat menandatangani Seruan Bersama untuk mengatasi perubahan iklim.