Pojok MPR-RI

MPR Ajak Netizen Jawa Tengah Bijak Bermedia Sosial

Bermedia sosial secara bijak perlu dibudayakan di kalangan netizen.
Oleh:
Tim Publikasi Hukumonline
Bacaan 2 Menit
Kepala Biro Hubungan Masyarakat  dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR RI Siti Fauziah SE, MM. Foto: Istimewa.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR RI Siti Fauziah SE, MM. Foto: Istimewa.

SEMARANG - Kepala Biro Hubungan Masyarakat  dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR RI Siti Fauziah SE, MM, mengajak para netizen di Jawa Tengah  bermedia sosial secara bijak. Ia menghimbau agar medsos digunakan untuk mengajak memperkuat kerukunan, persatuan dan kesatuan, juga menyebarkan semangat kerjasama, tolong menolong  dan gotong royong, sebagai upaya mewujudkan karakter bangsa Indonesia.


"Karakter bangsa terbukti mampu membuat bangsa Indonesia bertahan pada situasi-situasi sulit. Bukan hanya pada saat bangsa Indonesia dijajah Belanda, tetapi juga pada saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia," kata Siti Fauziah saat bertemu dan berbincang dengan para netizen Jawa Tengah, di Semarang, Sabtu (9/10/2021).  Acara bertema Proud To Be Indonesian "Bijak Bermedia Sosial Dalam Mewujudkan Karakter Bangsa". Ikut dihadiri Kepala  Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antar Lembaga, Sekretariat Jenderal MPR, Budi Muliawan SH, MH.

Hukumonline.com

Diskusi Proud To Be Indonesian, Bijak Bermedia Sosial dalam Mewujudkan Karakter Bangsa. Foto: Istimewa.

Menurut Siti, bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang, selalu berusaha dan pantang menyerah. "Selama pandemi kita sering mendengar tolong menolong, saling bantu, dan gotong royong dilaksanakan oleh berbagai kelompok masyarakat. Dan itu membuat kita bisa bertahan dari kesulitan dimasa pandemi," ujarnya.

Bermedia sosial secara bijak,  kata Bu Titi, sapaan akrab Siti Fauziah, perlu dibudayakan di kalangan netizen. Bukan malah sebaliknya, menggunakan medsos untuk menebar fitnah, kebencian dan caci maki. Pasalnya, selain  bermanfaat bagi kebaikan, medsos juga berpotensi memecah belah kerukunan hidup berbangsa.  Apalagi, saat ini media sosial sudah hadir dalam genggaman para netizen, melalui gadget. Menggunakan gadgetnya para netizen  bisa mewarnai dunia, melalui pesan-pesan yang dikirim lewat media sosial.

"Pertemuan ini diharapkan bisa mempererat hubungan MPR dengan para netizen, maupun di antara bloger sendiri. Jangan sampai hubungan ini merenggang, karena tidak pernah bertemu secara langsung," kata Siti Fauziah lagi.

Hukumonline.com

Diskusi Proud To Be Indonesian, Bijak Bermedia Sosial dalam Mewujudkan Karakter Bangsa. Foto: Istimewa.


Bu Titi tak lupa menitip pesan agar para netizen ikut menyampaikan semangat kebangsaan dalam akun medsosnya masing-masing. Seperti  sejarah pergerakan bangsa Indonesia, dimulai dari  Budi Utomo pada 1908, hingga mencapai puncaknya pada 1928 saat Sumpah Pemuda, hingga akhirnya tujuan perjuangan tercapai pada 1945 dengan dikumandangkannya kemerdekaan Indonesia.

"Setelah itu, kita masih menghadapi banyak gangguan. Seperti berubahnya NKRI menjadi RIS pada 1949, sebelum akhirnya menjadi NKRI kembali pada 1950," kata Siti Fauziah.

Hukumonline.com

Netizen Jawa Tengah peserta diskusi Proud To Be Indonesian, Bijak Bermedia Sosial dalam Mewujudkan Karakter Bangsa. Foto: Istimewa.

Diskusi ini juga ditujukan untuk membangkitkan rasa cinta para netizen kepada produk bangsa dan warisan nenek moyang, dengan menjadikan batik sebagai dresscode pada acara tersebut. Selain itu, para peserta juga menyampaikan masukan, agar medsos MPR bisa lebih efisien dan berdaya dalam mensosialisasikan Empat Pilar MPR RI. Masukan dari netizen, antara lain memperbanyak  kuis, giveaway atau sesuatu berupa merchandise. Usulan lain memanfaatkan fitur teknologi dari sosial media yang memberikan kemudahan untuk mengakses informasi, seperti fitur story, swipe up link, highlight, reels, dan video.