Terbaru

Pentingnya Kolaborasi Mewujudkan Layanan Publik Terintegrasi di Jakarta

Perlu memikirkan untuk mencapai target rencana strategis berbagai layanan publik, khususnya di Pemprov DKI Jakarta melibatkan seluruh elemen masyarakat dengan berbagai terobosan.
Oleh:
Rofiq Hidayat
Bacaan 4 Menit

“Pemerintah membuat layanan yang bermanfaat dan momentumnya tepat,” kata dia.

Selain itu, pihaknya sedang mengembangkan lebih jauh dari aspek teknologi. Tim yang dipimpinnya terus berkolaborasi dengan berbagai instansi dan lembaga lain untuk membangun ekosistem digital dalam pelayanan publik. Poin utamanya, kata Juan, mengintegrasikan teknologi informasi dengan pendekatan yang cerdas. Tapi, perlu memikirkan untuk mencapai target rencana strategis, khususnya di Pemprov DKI Jakarta melibatkan seluruh elemen masyarakat dengan berbagai terobosan.

“Bagaimana aspek kolaborasi ini dapat digarap lebih jauh dan cepat agar bisa bermanfaat lebih banyak,” katanya.

Tantangan

Perwakilan Konsorsium Hukumonline dan RuangWaktu, Nurulitha Andini Susetyo menyoroti tantangan mewujudkan layanan publik berbasis digital. Pertama, adanya gap atau celah dalam pelayanan publik. Seperti masih banyaknya platform layanan publik terpisah yang sulit menyatukan dalam satu aplikasi. Sebab, masing-masing sektor layanan publik memiliki kepentingan yang berbeda. “Memang ada Jaki. Tapi di luar Jaki masih banyak platform untuk mengakses layanan publik. Seharusnya ada satu aplikasi saja,” harapnya.

Kemudian, masih terdapat penggunaan teknologi yang terbatas, sehingga layanan yang semestinya sudah dapat digitalisasi masih dilakukan secara konvensional dan sulit didigitalisasi. Penyebabnya kurangnya pemahamana teknologi. “Mungkin saja adanya birokrasi yang kompleks. Bahkan mungkin adanya standar operasional prosedur yang belum dijalankan secara menyeluruh. Padahal melalui digitalisasi dapat membantu mempercepat pelayanan publik dan meningkatkan efisiensi.”

Kedua, adanya celah dari aspek teknologi. Seperti masih adanya tingkat kesulitan dalam menggunakan platform digital yang ada. Boleh jadi orang atau petugas belum familiar menggunakan platform digital. “Bagi kalangan orang tua khususnya memang dirasa amat menyulitkan mengakses platform digital. Jadi ada kesenjangan dalam keterampilan menggunakan teknologi.”

Menurutnya, tingkat pendapatan berpengaruh terhadap perilaku sosial dalam mengakses internet. Begitu pula tingkat pemahaman atau kecerdasan teknologi yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Selain itu, kurangnya metadata yang terpadu dan dapat dioperasikan. Seperti layanan publik di Jakarta dengan daerah lainnya tentu berbeda. Seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

“Sulit untuk mengintegrasikan platform antara perbatasan/otoritas yang berbeda. Ke depannya perlu dipertimbangkan satu platform layanan publik yang terintegrasi,” harapnya.

Halaman Selanjutnya:
Berita Terkait