Terbaru

Sebelum Memutuskan Nikah Siri, Pahami Dulu Aspek Hukumnya!

Kasus nikah siri artis menghebohkan publik. Nikah siri kerap dianggap negatif karena terkesan ditutup-tutupi. Lalu, bagaimana keabsahan nikah siri menurut hukum?
Oleh:
Tim Hukumonline
Bacaan 7 Menit
Ilustrasi nikah siri. Sumber pexels.com
Ilustrasi nikah siri. Sumber pexels.com

Masih ingat kasus nikah siri seorang penyanyi dan aktor tanah air beberapa waktu lalu? Kasus ini sempat heboh dan dibicarakan sana-sini. Faktanya, praktik nikah siri banyak dilakukan di Indonesia. Ada banyak alasan yang melatarbelakanginya, mulai dari masalah personal dan lain hal, biaya yang lebih ringan, hingga persiapan yang lebih singkat.

Lantas, benarkah nikah siri selalu negatif di mata hukum agama dan hukum negara? Mari simak ulasan lengkap pandangan Islam terkait nikah siri, syaratnya, tata caranya, konsekuensi hukum yang akan ditanggung, dan cara mendaftarkannya dalam tulisan ini.

Nikah Siri Menurut Islam: Sah atau Tidak?

Apa yang dimaksud dengan nikah siri? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan nikah siri sebagai pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, dan sah menurut agama Islam. Dari definisi tersebut, benarkah hukum nikah siri sah di mata agama?

Menurut Mahmud Hadi Riyanto, para ulama berselisih paham mengenai hukum nikah siri. Dinyatakan Riyanto, jumhur ulama memandang nikah siri menurut Islam sah. Akan tetapi, hukumnya adalah makruh. Mengapa demikian?

Hukumnya sah dan resmi menurut agama karena sudah memenuhi rukun dan syarat pernikahan. Selain itu, adanya dua orang saksi dalam nikah siri telah “menghilangkan” unsur kerahasiaan. Akan tetapi, sisi kemakruhannya ada pada pernikahan yang ditutup-tutupi alias tidak diumumkan kepada masyarakat luas. Ditakutkan pernikahan yang diselenggarakan jusru berpotensi mengundang keraguan dan tuduhan tidak benar.

Untuk mempertegas masalah nikah siri menurut Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya menyatakan bahwa nikah siri atau pernikahan di bawah tangan hukumnya sah karena telah memenuhi syarat dan rukun nikah, tetapi haram jika terdapat mudarat. Kemudian, MUI juga menyatakan bahwa pernikahan harus dicatatkan secara resmi pada instansi berwenang sebagai langkah preventif untuk menolak dampak negatif. Nikah siri dalam Islam yang dimaksud MUI ini adalah pernikahan yang terpenuhi semua rukun dan syarat yang ditetapkan dalam hukum Islam, namun tanpa pencatatan resmi di instansi berwenang sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Syarat Nikah Siri

Cara menentukan sah atau tidaknya hukum nikah siri dalam Islam adalah dengan memastikan semua syarat telah terpenuhi. Syarat nikah siri secara umum sama halnya dengan syarat menikah secara “sah”. Adapun syarat nikah siri sebagai berikut.

Halaman Selanjutnya:
Berita Terkait