Pojok MPR-RI

Gus Jazil: Turunnya Rasa Nasionalisme Timbulkan Radikalisme

Sudah saatnya bangsa Indonesia berupaya keras untuk menumbuhsuburkan kembali rasa nasionalisme dalam jiwa, kemudian menjadi karakter dan terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh:
Tim Publikasi Hukumonline
Bacaan 3 Menit
Wakil Ketua MPR Dr. Jazilul Fawaid, SQ, MA. Foto: Istimewa.
Wakil Ketua MPR Dr. Jazilul Fawaid, SQ, MA. Foto: Istimewa.
JAKARTA – Wakil Ketua MPR Dr. Jazilul Fawaid, SQ, MA mengungkapkan keprihatinannya terhadap kabar yang beredar tentang tertangkapnya terduga kasus terorisme oleh Densus 88.  Mirisnya, ternyata yang ditangkap itu adalah pengurus pusat sebuah lembaga terhormat yang mewadahi para ulama.
“Artinya, pemahaman radikalisme itu masih ada dan terus bergerak ke berbagai arah.  Ini sangat berbahaya sekali buat bangsa kita.  Pertanyaan besarnya adalah, mengapa radikalisme dan ekstremisme ini muncul.  Saya rasa, karena rasa nasionalisme yang mulai turun,” katanya. 
Hal itu disampaikan Pimpinan MPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang biasa disapa Gus Jazil ini, dalam acara Diskusi Empat Pilar MPR RI dengan tema ‘Pancasila Sebagai Tameng Ideologi Radikalisme dan Ekstremisme’ kerjasama Biro Humas dan Sistem Informasi Setjen MPR dengan Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP), di Media Center MPR/DPR/DPD, Lobi Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (22/11/2021).
Hadir sebagai narasumber anggota MPR Fraksi NasDem Syarief Abdullah Alkadrie, SH, MH (virtual) dan Dosen Tetap Ilmu Politik FISIPOL UKI/Pengajar Kebijakan Penanggulangan Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme PTIK Dr. Sidratahta Mukhtar serta para wartawan media cetak, elektronik juga online sebagai peserta.
Mulai tergerusnya nasionalisme terutama di kalangan generasi muda, dilihat Gus Jazil, karena sangat massifnya kemajuan teknologi sehingga banyak sekali informasi dan tontonan dari seluruh dunia, dengan mudahnya masuk dan dikonsumsi masyarakat.  
“Kita sedang berada di pusaran era nasionalisme dan global.  Sayangnya, anak-anak milenial saat ini lebih tertarik kepada hal-hal global dibanding yang berhubungan dengan budaya Indonesia.  Contoh, banyak anak kecil yang lupa bahkan tidak tahu sama sekali nama pahlawan bangsa.  Tapi sangat hafal tokoh-tokoh idolanya dari luar negeri,” tambahnya.
Gus Jazil menekankan, sudah saatnya bangsa Indonesia berupaya keras untuk menumbuhsuburkan kembali rasa nasionalisme dalam jiwa, kemudian menjadi karakter dan terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari.  Untuk itu, rakyat Indonesia mesti lebih menjiwai ideologi bangsa yakni Pancasila sebagai philosofische grondslag, dan kalimatun sawa' (common platform) yang menyatukan keragaman etnis, ras, budaya dan agama