Bisakah Setelah Akad Nikah Langsung Cerai?
Bisakah Setelah Akad Nikah Langsung Cerai?
Keluarga

Bisakah Setelah Akad Nikah Langsung Cerai?

Bisakah Setelah Akad Nikah Langsung Cerai?

Pertanyaan

Adik saya (laki-laki) punya pacar dan pernah berzina dengan pacarnya. Pihak perempuan meminta dinikahkan. Adik saya setuju, tapi setelah nikah akan langsung diceraikan. Pihak perempuan pun setuju. Bagaimana hukumnya jika setelah akad langsung diceraikan?

Intisari Jawaban

circle with chevron up

Salah satu alasan putusnya perkawinan adalah karena perceraian. Dapat terjadi karena suami menjatuhkan talak kepada istrinya (cerai talak) atau pengadilan mengabulkan permohonan perceraian yang diajukan oleh istri (cerai gugat).

Namun, perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan. Bagaimana jika suami istri memang telah sepakat atau setuju akan langsung cerai setelah akad nikah?

 

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda baca ulasan di bawah ini.

Ulasan Lengkap

 

Cerai Gugat dan Cerai Talak

Pasal 38 UU Perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan dapat putus karena kematian, perceraian, dan atas keputusan pengadilan. Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian.[1]

Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.[2] Perceraian akan dilakukan setelah mediasi yaitu upaya mendamaikan suami istri oleh pengadilan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Maka sidang akan diteruskan karena sudah cukup alasan untuk melakukan perceraian yaitu suami istri tidak dapat hidup rukun sebagai suami istri.3]

Adapun seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada istrinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan itu.[4]

Dengan demikian, perceraian dapat dilakukan dengan cara:

  1. Cerai talak adalah perceraian yang dijatuhkan oleh seorang suami kepada istrinya yang perkawinannya dilaksanakan menurut agama Islam.
  2. Cerai gugat adalah perceraian yang dilakukan oleh seorang istri yang melakukan perkawinan menurut agama Islam dan oleh seorang suami atau seorang istri yang melangsungkan perkawinannya menurut agamanya dan kepercayaan itu selain agama Islam.

Baca juga: Cerai Karena Gugatan dan Cerai Karena Talak

 

Alasan-alasan Perceraian

Sebelum melangsungkan perceraian, patut dipahami ada alasan-alasan yang dijadikan dasar perceraian adalah:[5]

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau pemabuk, pemadat dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak yang lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang lain dan tanpa alasan yang sah atau  karena hal lain di luar kemauannya;
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang menyebabkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri;
  6. Antara suami istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;
  7. Suami melanggar taklik talak;[6]
  8. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.[7]

Berdasarkan Pasal 1 huruf e KHI, mengenai taklik talak adalah perjanjian yang diucapkan calon mempelai pria setelah akad nikah yang dicantumkan dalam akta nikah berupa janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.

Taklik talak umumnya berisi ketentuan bahwa jika sewaktu-waktu suami:

  1. meninggalkan istri dua tahun berturut-turut;
  2. tidak memberi nafkah wajib kepada istri selama 3 bulan;
  3. menyakiti badan atau jasmani istri;
  4. membiarkan (tidak mempedulikan) istri selama 6 bulan, maka jika istri tidak ridla (ikhlas) dan mengadukannya ke Pengadilan Agama atau petugas yang diberi hak mengurus pengaduan, dan pengaduannya dibenarkan serta diterima oleh pengadilan atau petugas tersebut, kemudian istri juga membayar uang sebagai iwadl (pengganti) kepada suami, maka jatuhlah talak satu suami kepada istri.

Baca juga: Istri Meninggalkan Suami, Apakah Jatuh Talak?

 

Bisakah Setelah Akad Nikah Langsung Cerai?

Oleh karena itu, menjawab pertanyaan Anda, perceraian hanya bisa dilakukan apabila memenuhi alasan-alasan cerai sebagaimana telah disebutkan di atas. Sehingga jika setelah akad nikah langsung cerai, perceraian tidak bisa dilakukan atas dasar kesepakatan atau perjanjian bersama dalam kondisi seperti yang Anda ceritakan, karena tidak sesuai dengan alasan cerai.

Di sisi lain, proses perceraian harus dilakukan di Pengadilan dan terlebih dahulu Pengadilan harus mengusahakan perdamaian suami istri terlebih dahulu, dan bukan setelah akad nikah langsung cerai.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Dasar Hukum:

  1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama yang diubah kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama;
  2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
  3. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.

[3] Pasal 39 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU Perkawinan”)

[4] Pasal 129 KHI

[5] Penjelasan Pasal 39 ayat (2) UU Perkawinan

[6] Pasal 116 huruf g KHI

[7] Pasal 116 huruf h KHI

Tags: