Pidana

Jerat Hukum untuk Pengemudi yang Ugal-ugalan

Bacaan 5 Menit
Jerat Hukum untuk Pengemudi yang Ugal-ugalan

Pertanyaan

Perkenalkan saya Muhammad Ulinnuha, salah satu mahasiswa di salah satu universitas negeri di Semarang. Saya mau tanya, akhir-akhir ini banyak sopir-sopir kendaran angkutan umum yang ugal-ugalan. Bukannya mementingkan keselamatan konsumen, tapi malah mementingkan setoran dengan misal kebut-kebutan di jalan, bahkan melanggar lalu lintas. Sehingga merugikan penumpang atas ketidaknyamanannya. Apakah sopir itu dapat dikenakan sanksi?

Ulasan Lengkap

Kami asumsikan sopir kendaraan angkutan umum tersebut merupakan pekerja yang bekerja di perusahaan transportasi. Di dalam ketentuan UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”), perusahaan transportasi ini disebut Perusahaan Angkutan Umum yaitu badan hukum yang menyediakan jasa angkutan orang dan/atau barang dengan Kendaraan Bermotor Umum.

 

Kami kurang memahami maksud Anda mengenai istilah ugal-ugalan yang Anda tanyakan. Jika yang Anda maksud dengan ugal-ugalan adalah sengaja mengemudikan angkutan umum dengan cara yang membahayakan orang lain, maka si sopir bisa dikenakan Pasal 311 UU LLAJ:

 

(1)   Setiap orang yang dengan sengaja mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah).

(2)   Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/ atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp4.000.000,00 (empat juta rupiah).

(3)   Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah).

(4)   Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah).

(5)   Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengakibatkan orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).

 

Berdasarkan Pasal 311 ayat (1) UU LLAJ, ternyata perbuatan pengemudi yang membahayakan nyawa orang lain atau barang saja sudah dapat dipidana tanpa harus mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. Kemudian, jika perbuatan mengemudi secara ugal-ugalan yang membahayakan nyawa orang lain mengakibatkan kecelakaan lalu lintas bahkan timbul korban meninggal dunia, maka pengemudi diancam pidana penjara maksimum 12 tahun atau denda maksimum Rp24 juta.

 

Di dalam praktinya, walaupun telah ada ketentuan UU LLAJ, ternyata kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal dunia yang disebabkan pengemudi ugal-ugalan ternyata juga dapat dikenakan ketentuan Pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) yaitu kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia. Contoh kasus pengenaan Pasal 359 KUHP oleh penuntut umum pada kecelakaan lalu lintas misalnya Putusan MA No. 2147 K/Pid/2010. Pada putusan tanggal 27 Oktober 2011 ini terdakwa merupakan seorang sopir mikrobus yang mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi (±70 km/jam) dan hendak mendahului kendaraan di depannya. Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul sepeda tetapi terdakwa tidak membunyikan klakson. Pengendara sepeda kemudian terjatuh dan meninggal dunia.

 

Jadi, menjawab pertanyaan Anda, tindakan pengemudi angkutan umum yang sengaja mengemudi dengan cara yang membahayakan orang lain, dapat dikenakan Pasal 311 UU LLAJ, tetapi dalam praktiknya masih ada yang menuntut menggunakan Pasal 359 KUHP.

 

Selain itu, masih ada lagi tindakan-tindakan pengemudi angkutan umum yang dapat dijerat dengan sanksi pidana UU LLAJ, antara lain:

 

a.    tidak menggunakan lajur kiri kecuali untuk mendahului atau mengubah arah

b.    tidak memberhentikan kendaraannya selama menaikan dan/atau menurunkan penumpang

c.    tidak menutup pintu kendaraan selama kendaraan berjalan

d.    tidak berhenti selain di tempat yang ditentukan

e.    mengetem

f.     melewati jalan yang bukan sesuai izin trayeknya

 

Untuk tindakan yang disebutkan pada huruf a sampai huruf c, diancam dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp250.000 (Pasal 300 UU LLAJ). Sedangkan tindakan yang disebutkan pada huruf d sampai huruf f diancam hukuman yang sama (Pasal 302 UU LLAJ).

 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar hukum:

1.    Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht) Staatsblad Nomor 732 Tahun 1915

2.    Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

 
Putusan:

Putusan Mahkamah Agung Nomor 2147 K/Pid/2010 tanggal 27 Oktober 2011

Tags: