Bisnis

Langkah Hukum Jika Uang Arisan Online Tak Dikembalikan

Bacaan 6 Menit
Langkah Hukum Jika Uang Arisan Online Tak Dikembalikan

Pertanyaan

Saya mau menanyakan tentang arisan online. Saya mengikuti arisan online dengan iming-iming investasi Rp6 juta dan kembali Rp9 juta dalam jangka waktu hanya 3 hari. Saya melihat awalnya arisan online ini lancar, jadi saya tertarik untuk investasi. Pada saat jatuh tempo, owner arisan online tidak mengembalikan dengan alasan uang sedang dipinjam oleh pihak lain (temannya). Setelah dihitung-hitung, total kerugian seluruh member mencapai ratusan juta lebih dari bulan Mei. Owner janji akan menyelesaikan akhir Agustus dengan mencicil. Tapi sampai September ini masih tidak ada realisasi. Kami semua member resah, kami sangat butuh uang tersebut. Apakah saya bisa melaporkan owner ke polisi?

Intisari Jawaban

circle with chevron up
Dalam penyelenggaraan suatu arisan online, telah terjadi kesepakatan antara para peserta dan owner untuk mengikatkan diri kepada aturan main dari arisan online tersebut, dan hal ini merupakan suatu perjanjian meskipun tidak dibuat dalam suatu perjanjian tertulis.
 
Oleh karena itu, perbuatan owner arisan online yang pada waktu jatuh tempo tidak kunjung mengembalikan uang arisan, dapat diajukan gugatan wanprestasi. Selain itu, patut diduga juga owner arisan online melakukan tindak pidana penggelapan.
 
Penjelasan lebih lanjut dan contoh kasusnya dapat Anda klik ulasan di bawah ini.

Ulasan Lengkap

 
Aspek Hukum Arisan Online
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arisan diartikan sebagai kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya, undian dilaksanakan dalam sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.
 
Disarikan dari artikel Tanggung Jawab Bandar Arisan dari Kacamata Hukum, ketika peserta arisan telah sepakat untuk mengadakan suatu arisan dengan nilai uang tertentu dan dalam periode waktu tertentu, maka sebenarnya dalam arisan tersebut telah terjadi suatu perjanjian. Termasuk apabila kesepakatan tersebut dibuat antara peserta arisan dengan owner sebagaimana yang Anda jelaskan.
 
Arisan diakui sebagai perjanjian walaupun seringkali dilakukan berdasarkan kata sepakat dari para pesertanya tanpa dituangkan dalam suatu surat perjanjian. Hal ini berhubungan dengan syarat sahnya perjanjian berdasarkan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUHPer”) yang tidak mensyaratkan perjanjian harus dibuat secara tertulis.
 
Sehingga, terhadap perjanjian dalam arisan yang berbasis online, berlaku ketentuan Pasal 1338 KUHPer, yang berbunyi:
Semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang. Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.
 
Gugatan Wanprestasi
Merujuk kepada kronologis yang Anda ceritakan, pada saat jatuh tempo, owner arisan online tidak kunjung memberikan uang arisan. Untuk itu, Anda dapat menggugat owner arisan online secara perdata atas perbuatan ingkar janji/wanprestasi.
 
Dikutip dari artikel Menolak Membayar Perpanjangan Sewa, PMH atau Wanprestasi?, bentuk-bentuk ingkar janji/wanprestasi dalam praktik biasanya terjadi dalam hal:
  1. Tidak melaksanakan prestasi sama sekali;
  2. Melaksanakan tetapi tidak tepat waktu (terlambat);
  3. Melaksanakan tetapi tidak seperti yang diperjanjikan; dan/atau
  4. Melaksanakan yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.
Namun untuk membuktikan bahwa owner arisan online telah melakukan wanprestasi, Anda dan member arisan lainnya harus melakukan teguran (somasi) kepada owner. Jika si owner tetap tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana yang ia janjikan, barulah Anda dan member lainnya berhak atas penggantian biaya, kerugian dan bunga berdasarkan Pasal 1243 KUH Perdata:
Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan lalai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan.
 
Pidana Penggelapan
Selain itu, menyambung pertanyaan Anda, perbuatan owner arisan online juga dapat dijerat pidana penggelapan sebagaimana diatur dalam Pasal 372 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana:
Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.
 
Kemudian merujuk pada Pasal 3 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP, maka ancaman denda di pasal tersebut dilipatgandakan menjadi paling banyak Rp900 ribu.
 
R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal menyatakan bahwa penggelapan adalah kejahatan yang hampir sama dengan pencurian tetapi pada penggelapan pada waktu dimilikinya barang tersebut, sudah ada di tangannya tidak dengan jalan kejahatan/melawan hukum. Unsur-unsur penggelapan yang harus terpenuhi adalah (hal. 258):
  1. Barang siapa (ada pelaku);
  2. Dengan sengaja dan melawan hukum;
  3. Memiliki barang sesuatu yang seluruh atau sebagian adalah kepunyaan orang lain;
  4. Barang tersebut ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan.
Mengenai makna dari “memiliki” dalam unsur ke-3 pasal tersebut, mengutip dari pertimbangan majelis hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri Sumedang No. 130/Pid.B/2013/PN.Smd. (hal. 23), bahwa “memiliki” menurut arrest Hoge Raad 16 Oktober 1905 dan 26 Maret 1906 ialah pemegang barang yang menguasai atau bertindak sebagai pemilik barang tersebut, dalam hal ini berlawanan dengan hukum yang mengikat padanya sebagai pemegang barang itu.
 
Dengan demikian, perbuatan owner yang meminjamkan uang arisan online kepada temannya, padahal seharusnya dibagikan kepada member, termasuk pidana penggelapan karena ia telah bertindak sebagai pemilik uang tersebut dengan cara yang berlawanan dengan hukum yang mengikat kepadanya berdasarkan perjanjian arisan. Sehingga, Anda dapat melaporkan owner tersebut kepada pihak Kepolisian.
 
 
Contoh Kasus Wanprestasi
Mengenai contoh kasus gugatan wanprestasi terkait arisan online, kami mencontohkan Putusan Pengadilan Negeri Banjarmasin Nomor 99/Pdt.G/2017/PN.Bjm.
Hubungan antara Penggugat dan Tergugat berawal adanya arisan online, dimana mereka saling mengikatkan diri. Hubungan hukum antara Penggugat selaku anggota arisan online dan Tergugat selaku bandar arisan online tersebut, adalah merupakan suatu perjanjian (hal. 8).
 
Penggugat membeli slot arisan dan menyetorkan sejumlah uang kepada Tergugat dengan total modal yang telah disetor sejak Juni 2017 berjumlah Rp70 juta dengan keuntungan arisan yang dijanjikan Tergugat sebesar Rp120,9 juta (hal. 8).
 
Namun pada tanggal 11 Juli 2017, Tergugat mengirim pesan broadcast kepada seluruh anggota arisan online termasuk Penggugat, yang menyatakan Tergugat telah berhenti menjual arisan online, sehingga sampai gugatan ini diajukan Tergugat belum melakukan prestasinya kepada Penggugat (hal. 8).
 
Oleh karenanya, Majelis Hakim menyatakan Tergugat telah terbukti secara sah melakukan perbuatan ingkar janji (wanprestasi) kepada Penggugat. Tergugat dihukum untuk mengembalikan uang Penggugat beserta keuntungan yang dijanjikan sebesar total Rp72,8 juta (hal. 11).
 
Contoh Kasus Penggelapan
Selain itu, kami juga mencontohkan penggelapan dalam arisan online berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Barru Nomor 19/Pid.B/2020/PN Bar.
 
Terdakwa memposting tawaran arisan online dengan menyiarkan langsung lewat akun facebook miliknya yang bernama “WARUNG BANGKUR” (hal. 16).
 
Uang arisan yang dihimpun Terdakwa yaitu sejumlah arisan bulanan Rp1 juta sebesar Rp46 juta, arisan bulanan Rp500 ribu sebesar Rp7 juta, dan arisan mingguan sejumlah Rp12,5 juta, yang mana tidak diserahkan kepada pemenang arisan (hal. 17).
 
Ternyata uang arisan tersebut digunakan Terdakwa sebagai modal usaha, sehingga perbuatan Terdakwa telah terbukti memenuhi unsur-unsur tindak pidana penggelapan dalam Pasal 372 KUHP (hal. 17), sehingga Majelis Hakim lalu menyatakan Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pengelapan dan menjatuhkan pidana penjara selama 7 bulan (hal. 19).
 
Seluruh informasi hukum yang ada di Klinik hukumonline.com disiapkan semata – mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum (lihatPernyataan Penyangkalanselengkapnya). Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Konsultan Mitra Justika.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar Hukum:
Putusan:
Referensi:
R. Soesilo. 1991. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia: Bogor.
Tags: