Bisnis

Mengenal Hak Opsi, Put Option, dan Call Option dalam Pasar Modal

Bacaan 5 Menit
Mengenal Hak Opsi, <i>Put Option</i>, dan <i>Call Option</i> dalam Pasar Modal

Pertanyaan

Minta tolong dijelaskan tentang:

  1. Apa yang dimaksud option?
  2. Apakah hak dalam put option itu merupakan prestasi?
  3. Apa akibat hukum apabila hak tersebut tidak dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan?

Intisari Jawaban

circle with chevron up

Dalam lingkup pasar modal, put option merupakan hak yang diberikan kepada pemegangnya untuk menjual sejumlah saham (underlying stock) kepada pihak lain pada harga (strike price) dan dalam waktu tertentu.

Jika pemegang hak put option tidak menjual saham tersebut pada jangka waktu yang telah disepakati, adakah konsekuensi hukumnya?

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda klik ulasan di bawah ini.

Ulasan Lengkap

Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Put Option yang ditulis oleh Aisyah Rj Siregar dan pertama kali dipublikasikan pada 26 Agustus 2009.

Hak Opsi (Option)

Definisi mengenai opsi saham tercantum dalam Bagian I angka 1.20 Peraturan Nomor II-D tentang Perdagangan Opsi Saham (“Peraturan Direksi PT BEJ II-D”) pada Lampiran Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor KEP-310/BEJ/09-2004 Tahun 2004 Tanggal 09 September 2004:

Opsi saham adalah hak yang dimiliki oleh pihak untuk membeli (call option) dan atau menjual (put option) kepada pihak lain atas sejumlah saham (underlying stock) pada harga (strike price) dan dalam waktu tertentu.

Perlu diperhatikan, hak opsi tidak hanya terdapat dalam dunia pasar modal saja. Ketentuan mengenai opsi juga diatur dalam transaksi valuta asing.

Dalam lingkup transaksi valuta asing, hak opsi diatur dalam Pasal 1 angka 9 Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 20/16/PADG/2018 Tahun 2018 tentang Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah antara Bank dengan Pihak Domestik:

Transaksi Option adalah transaksi jual atau beli valuta asing terhadap rupiah yang didasari suatu perjanjian yang memberikan hak kepada pembeli untuk membeli (call option) atau menjual (put option) pada tanggal tertentu dalam periode perjanjian transaksi.

Dari definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hak opsi adalah hak yang dimiliki oleh pemegang hak untuk menjual atau membeli suatu aset/objek tertentu pada tanggal tertentu pada periode perjanjian transaksi.

Meskipun hak opsi tak hanya diatur di bidang pasar modal, namun dalam artikel kali ini kami hanya akan mengulas hak opsi di bidang pasar modal saja.

Jenis Hak Opsi

Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, hak opsi dibedakan menjadi:[1]

  1. Hak call option, yang memberikan hak bagi pemegangnya untuk membeli saham dari pihak lain dengan harga dan dalam jangka waktu tertentu; dan
  2. Hak put option, yang memberikan hak bagi pemegangnya untuk menjual saham kepada pihak lain dengan harga dan dalam jangka waktu tertentu.

Hak Opsi untuk Menjual (Put Option)

Disarikan dari Memahami Strategi Penyelesaian Sengketa Pemegang Saham Perseroan, put option merupakan salah satu materi utama yang dimuat dalam perjanjian pemegang saham (hal. 4).

Dalam hal perjanjian pemegang saham tersebut memperjanjikan adanya hak opsi berupa put option, berarti kedua belah pihak sepakat bahwa salah satu pihak berhak menjual sahamnya kepada pihak lain dengan harga dan waktu tertentu.

Sebagai suatu perjanjian, maka perjanjian yang dibuat oleh para pihak dipatuhi. Sebab, sesuai dengan asas pacta sunt servanda, perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.

Baca juga: Asas-asas Hukum Kontrak Perdata yang Harus Kamu Tahu

Apakah Hak Put Option Merupakan Prestasi?

Sebelumnya perlu dipahami bahwa dalam perjanjian terdapat suatu hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh para pihak, sebagai berikut:

  1. Prestasi (kewajiban), merupakan suatu hal yang harus dilakukan oleh para pihak.
  2. Kontra prestasi (imbalan), merupakan hak yang diperoleh pihak yang telah melakukan prestasi.

Untuk mempermudah penjelasannya, maka kami memberikan contoh sederhana:

Misalnya, B tertarik membeli saham di PT ABC. Saham PT ABC saat itu senilai Rp15 ribu/saham. Kemudian, B mengadakan perjanjian untuk membeli saham tersebut dengan menggunakan put option dalam jangka waktu 2 bulan. Dalam perjanjian tersebut B membeli hak opsi senilai Rp300/saham dari A sebagai penerbit hak opsi (writer) dengan nilai saham (strike price-nya Rp15 ribu/saham).

Patut diperhatikan, B membeli hak opsi yang dapat digunakan selama dua bulan dan bukan sahamnya. Dalam ketentuan mengenai put option, pemegang hak opsi (taker/holder) diberikan suatu tenggang waktu untuk menggunakan hak opsinya tersebut.

Jika pada bulan pertama harga saham PT ABC turun menjadi Rp10 ribu/saham, maka pilihan yang dapat digunakan oleh B sebagai pemegang opsi adalah:

  1. Menggunakan hak opsinya untuk menjual saham saat harga saham di bursa Rp10 ribu kepada A (penerbit hak opsi), sehingga ia akan memperoleh keuntungan Rp5 ribu/saham.
  2. Tidak menggunakan hak opsinya karena ia berharap agar saham tersebut akan terus turun di bursa, sehingga ia akan memperoleh keuntungan yang lebih besar.
  3. Menjual kontraknya kepada orang lain dengan harga opsi yang lebih tinggi dari sebelumnya, misalnya harga hak opsi yang pada awalnya Rp300/saham menjadi Rp600/saham. Kenaikan harga hak opsi tersebut dikarenakan adanya keuntungan yang akan diperoleh oleh pemegang hak selanjutnya apabila harga saham di pasar terus menurun.

Terkait hal ini, Aisyah Rj Siregar selaku penulis sebelumnya menerangkan, apabila B menggunakan hak opsinya untuk menjual saham tersebut kepada A, maka ketentuan put option mengharuskan A untuk membeli saham seharga yang diperjanjikan atau ditetapkan karena dalam hal ini B mempunyai hak jual.

Lalu, apakah hak dalam put option tersebut merupakan prestasi?

Dari sisi pemegang opsi (B), hak yang terdapat dalam put option bukan merupakan prestasi, tetapi kontra prestasi. Hal ini dapat terjadi karena pihak yang mengambil put option (taker) telah membayar kewajibannya, yakni membayar harga untuk mengambil hak opsi. Sehingga, dalam jangka waktu tertentu, pemegang hak opsi berhak menjual aset yang diperjanjikan dalam put option dan penerbit hak opsi (A) wajib melakukan pembelian.

Akibat Hukum Jika Hak Opsi Tidak Dilaksanakan

Kemudian, menjawab pertanyaan Anda, haruskah pemegang hak opsi menjual aset yang diperjanjikan tersebut? Lalu, jika tidak dilaksanakan sesuai kesepakatan, adakah akibat hukumnya?

Secara hukum, pemegang hak opsi (B) boleh tidak melaksanakan put option pada waktu yang telah ditentukan. Sebab, pembeli mempunyai hak atau pilihan. Selain itu, pemegang hak opsi (B) telah membayar kewajibannya, yakni membayar harga untuk mengambil hak opsi. Sehingga, dalam jangka waktu tertentu pemegang hak opsi berhak untuk menjual atau tidak menjual aset (saham) yang diperjanjikan dalam put option.

Seluruh informasi hukum yang ada di Klinik hukumonline.com disiapkan semata – mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum (lihat Pernyataan Penyangkalan selengkapnya). Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Konsultan Mitra Justika.

Perkaya riset hukum Anda dengan analisis hukum terbaru dwi bahasa, serta koleksi terjemahan peraturan yang terintegrasi dalam Hukumonline Pro, pelajari lebih lanjut di sini.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar Hukum:

  1. Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor KEP-310/BEJ/09-2004 Tahun 2004 Tanggal 09 September 2004;
  2. Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 20/16/PADG/2018 Tahun 2018 tentang Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Antara Bank Dengan Pihak Domestik.

[1] Bagian I angka 1.20 Peraturan Direksi PT BEJ II-D

Tags: