Selasa, 13 November 2018
Hukumnya Menggunakan Foto Orang Lain Tanpa Izin
Pertanyaan :

Hukumnya Menggunakan Foto Orang Lain Tanpa Izin

Saya memiliki sebuah studio foto digital kecil. Saya ingin menanyakan mengenai seberapa banyak hak saya atas foto berikut olahannya yang dibuat di studio saya? Apakah saya berhak menggunakan foto-foto tersebut untuk keperluan promosi (display, sampel, dimasukkan ke website kami) tanpa konfirmasi kepada orang yang ada di foto tersebut?  
Punya pertanyaan lain ?
Silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
Jawaban :
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Bolehkah Menggunakan Foto Orang Lain Tanpa Izin? yang dibuat oleh Ilman Hadi, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada Rabu, 09 Januari 2013.
 
Intisari :
 
 
Anda sebagai pemilik studio foto memang adalah pencipta atau pemegang hak cipta dari potret yang Anda buat. Akan tetapi, jika Anda ingin menggunakan potret orang-orang yang pernah diambil di studio Anda, maka secara hukum Anda diharuskan untuk meminta persetujuan mereka terlebih dahulu atau ahli warisnya.
 
Apabila Anda tidak meminta persetujuannya, maka Anda dapat diancam pidana dengan pidana denda paling banyak Rp 500 juta.
 
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.
 
 
Ulasan :
 
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
 
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (“UU Hak Cipta”) pengertian hak cipta adalah:
 
Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
 
Perlu diketahui bahwa baik karya fotografi maupun potret adalah ciptaan yang dilindungi hak cipta sebagaimana disebutkan dalam Pasal 40 ayat (1) huruf k dan huruf l UU Hak Cipta.
 
Yang dimaksud dengan "karya fotografi" meliputi semua foto yang dihasilkan dengan menggunakan kamera.[1]
 
Dalam kasus Anda, kami asumsikan ciptaan yang dimaksud adalah potret. Potret adalah karya fotografi dengan objek manusia.[2]
 
Oleh karena Anda adalah pemilik studio foto, kami asumsikan kembali bahwa jasa yang Anda berikan adalah penyewaan studio foto beserta dengan pengambilan foto menggunakan kamera milik studio Anda, maka dari itu Anda adalah pencipta atau pemegang hak cipta dari foto yang dihasilkan oleh studio foto Anda. Akan tetapi, terhadap potret terdapat pembatasan hak ekonomi sebagaimana diatur dalam Pasal 12 UU Hak Cipta yang berbunyi:
 
  1. Setiap Orang dilarang melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, dan/atau Komunikasi atas Potret yang dibuatnya guna kepentingan reklame atau periklanan secara komersial tanpa persetujuan tertulis dari orang yang dipotret atau ahli warisnya.
  2. Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, dan/atau Komunikasi Potret sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang memuat Potret 2 (dua) orang atau lebih, wajib meminta persetujuan dari orang yang ada dalam Potret atau ahli warisnya.
 
Yang dimaksud dengan "kepentingan reklame atau periklanan" adalah pemuatan potret antara lain pada iklan, banner, billboard, kalender, dan pamflet yang digunakan secara komersial.[3]
 
Sanksi yang dapat dikenakan apabila Anda tidak meminta persetujuan diatur dalam Pasal 115 UU Hak Cipta sebagai berikut:
 
Setiap Orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, atau Komunikasi atas Potret sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk Penggunaan Secara Komersial baik dalam media elektonik maupun non elektronik, dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
 
Maka dari itu, penggunaan potret untuk display, sample, maupun dimasukkan ke website studio foto milik Anda harus meminta persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya.
 
Jadi, Anda sebagai pemilik studio foto memang adalah pencipta atau pemegang hak cipta dari potret yang Anda buat. Akan tetapi, jika Anda ingin menggunakan potret orang-orang yang pernah dipotret di studio Anda, maka secara hukum Anda diharuskan untuk meminta persetujuan mereka terlebih dahulu atau ahli warisnya.
 
Demikian jawaban dari kami semoga bermanfaat.
 
Dasar Hukum:
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
 
 

[1] Penjelasan Pasal 40 ayat (1) huruf k UU Hak Cipta
[2] Pasal 1 angka 10 UU Hak Cipta
[3] Penjelasan Pasal 12 ayat (1) UU Hak Cipta



Perjuangan Anda Jangan Berhenti di Artikel Ini

Konsultan hukum profesional siap membantu Anda. Konsultasikan masalah Anda, hanya Rp299.000,- per 30 menit.

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
MITRA : Bung Pokrol
Abi Jam'an Kurnia mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia pada 2017 dengan mengambil Program Kekhususan IV (Hukum tentang Kegiatan Ekonomi). 
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua