Rabu, 23 Mei 2018

Jerat Hukum bagi Pelaku Pencabulan terhadap Penderita Gangguan Mental

Jerat Hukum bagi Pelaku Pencabulan terhadap Penderita Gangguan Mental

Pertanyaan

Ada anak perempuan (18 tahun) yang punya keterbelakangan mental dinodai sampai 4 kali. Anak itu mau gara-gara dia tidak mengerti tentang risiko setelah melakukan hubungan badan itu. Selain itu, pelaku (laki-laki) itu melakukan pemerasan uang terhadap anak itu, dan lagi-lagi anak itu juga mau ngasih uang gara-gara dia tidak mengerti arti "dimanfaatkan". Sekarang laki-laki itu tertangkap oleh polisi. Pasal apa saja yang bisa diterapkan pada kasus ini?  

Intisari Jawaban

Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Oleh karena itu, perempuan tersebut dikategorikan sebagai orang dewasa.
Apabila hubungan tersebut dilakukan antara wanita dan pria yang sudah dewasa dan tidak terikat dalam perkawinan, pria tersebut tidak dapat dipidana. Akan tetapi karena dalam hal ini, si wanita memiliki keterbelakangan mental, maka laki-laki tersebut dapat dijerat dengan Pasal 286 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yaitu tindak pidana persetubuhan di luar perkawinan, dimana si pria tahu bahwa si wanita dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya. Perbuatan ini diancam dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun.
Penjelasan lebih lanjut dan contoh kasusnya, silakan simak ulasan di bawah ini.

 

Lihat Ulasan Lengkap

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
MITRA : Bung Pokrol
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua