Selasa, 19 Pebruari 2019

Kekuatan Pembuktian Screenshot Laman Konten Pornografi

Kekuatan Pembuktian Screenshot Laman Konten Pornografi

Pertanyaan

Sejak berlakunya UU ITE, media digital dan atau hasil cetaknya merupakan perluasan dari alat bukti sah yang tersebut di dalam KUHP. Saya mendapati sebuah kasus Penyidik saat menyidik mengambil hasil cetak/acquiring dari akun Facebook tersangka yang terdapat konten pornografi, kemudian hasil cetak tersebut dibawa ke Persidangan. Namun saat pembuktian di persidangan Facebook yang telah di-acquiring tadi dibuka kembali namun kontennya jauh berbeda, atau tidak sama, tidak mengandung konten, bahkan tidak pernah ada konten pornografi. Pertanyaan saya, jika terdapat perbedaan antara hasil cetak dengan versi digital aslinya, mana yang digunakan? Terima kasih sebelumnya.

Intisari Jawaban

Jika terdapat perbedaan antara hasil cetak dengan versi digitalnya, tentu hakim yang paling berwenang menentukan apakah bukti yang ditampilkan dapat dijadikan dasar pertimbangan putusan.
Dalam kasus pornografi melalui layanan internet, penyidik seharusnya tidak hanya meng-copy konten pornografi dalam bentuk screenshot pada aplikasi/browser yang ditampilkan laman Facebook. Idealnya Penyidik menggunakan bantuan Ahli Digital Forensic untuk mengakuisisi data pada storage komputer atau perangkat elektronik yang diduga digunakan oleh pelaku.
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

 

Lihat Ulasan Lengkap

Ingin Masalah Anda Segera Tuntas?

Percayakan masalah hukum Anda ke ahlinya. Hubungi konsultan hukum profesional, hanya Rp299.000,- per 30 menit.

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua