Senin, 13 Agustus 2018

Status Peraturan Perundang-undangan yang Diubah Jika Ada Pergantian Kekuasaan

Status Peraturan Perundang-undangan yang Diubah Jika Ada Pergantian Kekuasaan

Pertanyaan

Saya ingin menanyakan terkait bahwa ada statement yang mengatakan "Peraturan Menteri tidak akan permanen, karena apabila menterinya diganti otomatis atau bisa jadi peraturan menteri akan diubah lagi" Pertanyaan saya adalah apakah benar seperti itu? Contoh seperti sekarang peraturan mentri No. 108 tahun 2017 yang mengatur tentang penyelenggaraan angkutan orang dengan kendaraan bermotor tidak dalam trayek (transportasi online) yang dibuat oleh Menteri Peruhubungan Bapak Budi Karya Sumadi bisa berubah lagi apabila menterinya diganti nanti? Saat ini PM 108 itu merupakan PM ke 3 tentang transportasi online, sebelumnya sudah ada PM 32/2016 dan PM 26/2017 namun dikarenakan banyak tentangan dan keberatan dari pengemudi transportasi online maka dikaji ulang dan finalisasinya PM108/2017 ini. Namun perubahan2 PM tersebut di atas kan masih 1 mentri (Bpk. Budi Karya Sumadi), bagaimana kalau ganti nanti? Apakah ada contoh PM yang berubah setelah ganti menteri? Karena ini terus2an terjadi polemik bahkan banyak pengemudi online yang tidak mau mengikuti aturan dari PM 108 tersebut dikarenakan ya itu tadi, ah paling gak kan permanen PM nya, krn nanti kalau ganti menteri ya ganti juga peraturannya. Ditunggu jawabannya dari para ahli hukum dari hukumonline.com

Intisari Jawaban

Peraturan Menteri dalam UU 12/2011 tidak diatur dalam ketentuan Pasal 7 ayat (1). Namun demikian, jenis peraturan tersebut keberadaannya diatur dalam Pasal 8 ayat (1) UU 12/2011, yang menegaskan:
Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat.
Walaupun ketentuan di atas tidak menyebut secara tegas jenis peraturan perundang-undangan berupa Peraturan Menteri, namun frase peraturan yang ditetapkan oleh menteri di atas, mencerminkan keberadaan Peraturan Menteri sebagai salah satu jenis peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, Peraturan Menteri setelah berlakunya UU 12/2011 tetap diakui keberadaannya.
Dalam hal pembentukan Peraturan Menteri tentu yang memiliki kewenangan adalah Menteri yang bersangkutan. Kewenangan yang dimaksud disini untuk menetapkan Peraturan Menteri. Jika terjadi pergantian Menteri (sebagai contoh adalah pada jabatan Menteri Perhubungan yaitu Ignasius Jonan yang diganti oleh Budi Karya Sumadi pada Tahun 2016), Peraturan Menteri yang sudah ada tetap berlaku, sepanjang tidak diganti oleh Peraturan Menteri yang baru (yang ditetapkan oleh Menteri yang baru). Maka dapat disimpulkan, apabila terjadi pergantian menteri, tidak otomatis membuat Peraturan Menteri yang sudah ada menjadi tidak berlaku lagi.
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.

 

Lihat Ulasan Lengkap

Ingin Masalah Anda Segera Tuntas?

Hubungi konsultan hukum profesional dengan biaya terjangkau, pilih durasi dan biaya konsultasi sesuai kebutuhan Anda di sini.

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
PENJAWAB : Dimas Hutomo, S.H.
MITRA : Bung Pokrol
Dimas Hutomo mendapatkan gelar sarjana hukum dari Universitas Airlangga pada 2014 dengan mengambil Peminatan Sistem Peradilan.
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua