Mengenal Asas Personalitas Keislaman dalam Peradilan Agama

Bacaan 4 Menit
Mengenal Asas Personalitas Keislaman dalam Peradilan Agama
Pertanyaan
Sepasang suami istri yang beragama Islam dan menikah secara sah menurut agama Islam, serta sudah diakui negara dalam pencatatan sipil. Di tengah perjalanan mereka sepakat untuk pindah agama ke Katolik. Tiba saatnya mereka ingin bercerai. Dalam prosedur perceraian tersebut apakah menggunakan prosedur secara Islam di Pengadilan Agama, mengingat keduanya menikah saat beragama Islam? Atau menggunakan prosedur secara non-Islam, yaitu di Pengadilan Negeri, mengingat keduanya saat ingin bercerai beragama Katolik? Perlu diketahui sebelumnya bahwa dokumen-dokumen yang dimiliki adalah dokumen pernikahan secara Islam. Perpindahan keyakinan mereka berdua ke Katolik tidak dilakukan pelaporan.
Intisari Jawaban
Peradilan agama menganut asas personalitas keislaman. Asas ini memiliki dua strategi penerapannya, yaitu patokan umum dan patokan saat terjadi hubungan hukum.

Dalam kasus Anda, kedua belah pihak melakukan pernikahan berdasarkan agama Islam dengan dokumen-dokumen pernikahan secara Islam (dicatat oleh Kantor Urusan Agama).
 
Meskipun di kemudian hari kedua belah pihak telah pindah agama, terhadap kedua belah pihak telah melekat asas personalitas keislaman, berdasarkan patokan saat terjadi hubungan hukum.
 
Penjelasan selengkapnya dapat Anda klik ulasan di bawah ini.