Kreditur Gagal Bayar, Bisakah Bank yang Menanggung Risiko?

Bacaan 7 Menit
Kreditur Gagal Bayar, Bisakah Bank yang Menanggung Risiko?
Pertanyaan

Bank A melakukan kerjasama dengan Pihak B untuk memberikan kredit kepada anggota yang berada di bawah naungan pihak B. Pada salah satu pasal dalam Perjanjian Kerjasama mengatur bahwa: “Resiko yang timbul sehubungan dengan tidak dibayarnya kembali pinjaman berikut bunga ditanggung oleh PIHAK PERTAMA (Bank A) dan PIHAK KEDUA (Pihak B) masing-masing 50%”. Secara hukum, Bank A terikat pada Perjanjian ini.

Pertanyaan:

  1. Apakah bank diperkenankan untuk menanggung risiko kerugian akibat kredit macet?
  2. Apakah Perjanjian Kerjasama yang dimaksud tidak bertentangan dengan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata khususnya mengenai Syarat objektif dalam perjanjian?
Intisari Jawaban

Kredit secara singkat merupakan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain. Dalam kasus Anda, kami mengasumsikan perjanjian kredit dibuat secara tertulis di antara bank A (kreditur) dengan masing-masing anggota pihak B (debitur).

Sementara itu, mengenai penanggungan, perlu dipahami terlebih dahulu konsepnya menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUH Perdata”) bahwa ada 3 pihak dalam perjanjian penanggungan utang, yaitu pihak kreditur, debitur, dan pihak ketiga, di mana pihak ketiga tersebutlah yang menjadi penanggung.

Lalu, bagaimana hukumnya jika bank A yang merupakan kreditur sepakat untuk menanggung risiko gagal bayar kredit debitur? Apakah hal tersebut dibolehkan?

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda klik ulasan di bawah ini.