Sering Menyelewengkan Harta Orang Tua, Bisakah Jatah Warisannya Dikurangi?

Bacaan 6 Menit
Sering Menyelewengkan Harta Orang Tua, Bisakah Jatah Warisannya Dikurangi?
Pertanyaan

Ayah saya mempunyai 1 istri dan 3 anak laki-laki, termasuk saya sebagai anak bungsu. Ayah saya mempunyai 3 rumah yang yang saling berdekatan, serta 6 kamar kontrakan. Sebelum meninggal dunia, ayah saya pernah berwasiat secara lisan kepada adik iparnya dan kepada ibu saya bahwa rumah sudah dibagi, kakak pertama saya sudah dapat jatahnya dengan rumahnya saat ini di sebelah kanan dan kakak kedua saya juga menempati rumah sebelah kiri. Ibu serta saya dapat jatah rumah tengah yang lebih strategis di pinggir jalan dan notabene memang lebih panjang dari ukuran rumah kedua kakak saya yang saat ini sudah mereka tempati. Dihitung dari luas tanah dan bangunan, kakak saya yang pertama memang bagiannya lebih kecil tetapi dulu ketika ayah saya masih hidup, kakak saya yang pertama paling sering "menipu" masalah harta sampai membawa kabur uang hasil penjualan kontrakan saat ayah saya sakit, dan saya yang menanggung semua utang bank akibat ulah kakak saya. Mungkin salah satu pertimbangan ayah serta ibu saya memberikan rumah lebih luas dibanding kakak pertama saya, karena kakak saya hidupnya sudah kenyang lebih dulu. Di sini, terjadi masalah ketika kakak pertama saya merasa tidak adil karena rumahnya lebih kecil dari kedua rumah yang diberikan ayah saya kepada anak-anaknya. Dan kakak saya sudah 2 bulan ke belakang menempati rumah bagian saya dengan ibu saya yang menghadap ke jalan yang notabene lebih strategis untuk berdagang. Apakah kerugian serta total jumlah aset ayah saya yang lebih dahulu dia makan sendirian bisa jadi perhitungan untuk membagi bagi warisan? Karena apabila dibagi lagi dan memberi rumah bagian tengah kepada kakak saya, saya merasa tidak adil. Dan saat ini kakak saya sudah berunding kepada ustadz-ustadz sekitar lingkungan saya agar bisa memakai hukum waris agama apabila ingin dirundingkan dengan keluarga. Tetapi saya tidak mau karena itu bisa membuat dia mendapat lebih banyak sendiri bagiannya.

Intisari Jawaban

Bagi orang yang beragama Islam, penyelesaian sengketa atau perkara pembagian warisan menjadi kewenangan absolut Pengadilan Agama dan diselesaikan berdasarkan hukum Islam.

Dalam hal pewaris semasa hidupnya pernah membuat wasiat lisan yang ditujukan untuk ahli warisnya, wasiat tersebut baru berlaku jika disetujui seluruh ahli waris. Sehingga, jika salah satu ahli waris saja tidak menyetujui, maka wasiat tersebut menjadi tidak berlaku.

Selain itu, jika semasa hidup pewaris pernah menghibahkan harta kepada anaknya, maka hibah tersebut dapat diperhitungkan sebagai warisan.

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda klik ulasan di bawah ini.