Bisakah Bercerai Karena Suami Homoseksual?

Bacaan 5 Menit
Bisakah Bercerai Karena Suami Homoseksual?
Pertanyaan

Suami kakak teman saya berselingkuh dengan seorang lelaki. Benarkah hukum Indonesia menyatakan homoseksual itu kelainan mental/sakit jiwa dan siapapun tidak boleh menceraikan orang yang punya kelainan mental atau dengan kata lain, kakak teman saya itu tidak bisa menceraikan suaminya?

Ulasan Lengkap

Kaum homoseksual adalah kaum yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama jenisnya. Kami tidak berkompeten untuk mengatakan apakah homoseksual termasuk sakit jiwa/kelainan mental. Namun, secara hukum, homoseksual tidak dilarang kecuali perbuatan homoseksual yang dilakukan terhadap anak-anak di bawah umur. Pasalnya, Pasal 292 KUHP tidak secara tegas melarang homoseksual yang dilakukan antar-orang dewasa.

 

Perbuatan selingkuh yang dilakukan oleh suami kakak teman Anda dengan sesama laki-laki juga tidak dapat dikategorikan sebagai zina sebagaimana diatur dalam Pasal 284 ayat (1) KUHP. Pasalnya,yang termasuk zina adalah bagi pria yang telah kawin tapi berbuat zina. Karena zina menurut KUHP adalah persetubuhan yang dilakukan laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan lawan jenis yang bukan istri atau suaminya. Mengenai yang dimaksud dengan persetubuhan, dalam buku “KUHP Serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal Demi PasalR. Soesilo menjelaskan antara lain bahwa;

 

Yang dimaksud dengan persetubuhan ialah peraduan antara anggota kemaluan laki-laki dan perempuan yang biasa dijalankan untuk mendapatkan anak, jadi anggota laki-laki harus masuk ke dalam anggota perempuan, sehingga mengeluarkan air mani, sesuai dengan Arrest Hooge Raad (putusan Mahkamah Agung Belanda, ed.) 5 Pebruari 1912 (W. 9292).

 

Pada sisi lain, dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UUP”) tidak ada larangan bagi seseorang untuk menceraikan suami atau istrinya yang menderita penyakit tertentu. Justru dalam UUP diatur bahwa jika salah satu pihak mendapat cacat atau penyakit sehingga tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami/istri, maka hal itu dapat menjadi alasan bagi suami/istri untuk bercerai (lihat penjelasan Pasal 39 ayat [2] huruf e UUP). Berikut alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar untuk perceraian menurut penjelasan Pasal 39 ayat (2) UUP:

a.      Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;

b.      Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemauannya;

c.      Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;

d.      Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan terhadap pihak yang lain;

e.      Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;

f.       Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah-tangga.

 

Dengan demikian, sesuai pengaturan tersebut di atas, bila ditemukan cukup alasan untuk pasangan suami istri bercerai, maka perceraian dapat dilakukan.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga dapat menjadi pertimbangan bagi teman kakak Anda untuk mengambil jalan yang terbaik.

 
Dasar hukum:

1.      Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht, Staatsblad 1915 No 73)

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.