Senin, 02 May 2011

Ingin Menikah dengan Ayah Bayi yang Dikandung

Ingin Menikah dengan Ayah Bayi yang Dikandung

Pertanyaan

Saat ini Saya sedang mengandung. Akan tetapi, ayah bayi ini menolak menikahi Saya dengan alasan dia belum siap untuk menikah. Dia bahkan meminta Saya untuk menggugurkan kandungan ini. Bila Saya ingin mempertahankan kandungan ini, bagaimana dengan status anak Saya setelah lahir? Bisakah Saya menempuh jalur hukum untuk bisa segera menikah dengan ayah bayi ini?

Ulasan Lengkap

Berdasarkan Pasal 75 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (“UUK”), setiap orang dilarang melakukan aborsi. Untuk itu, kami tidak menyarankan Anda untuk melakukan aborsi (menggugurkan kandungan) kecuali karena ada alasan-alasan berikut ini (lihat Pasal 75 ayat [2] UUK):

 

a.      indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau

b.      kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korba perkosaan.

 

Jadi, pada dasarnya secara hukum Anda harus mempertahankan janin Anda. Status anak Anda setelah dilahirkan adalah anak luar kawin. Di dalam Pasal 43 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UUP”) ditetapkan bahwa anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya (simak artikel Status Anak).  Sehingga dalam akta kelahiran anak hanya akan dicantumkan nama ibunya tanpa nama ayahnya. Lebih jauh simak artikel kami Akta Kelahiran (2) dan Akta Kelahiran Anak Luar Kawin. Mengenai hak mewaris anak luar kawin juga dapat Anda simak dalam artikel Hak Waris Anak Luar Kawin.

 

Menurut hemat kami, Anda tidak dapat menuntut secara hukum ayah bayi tersebut untuk menikahi Anda. Karena sesuai Pasal 6 ayat (1) UUP perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.

 

Kemudian dalam Penjelasan Pasal 6 UUP dinyatakan bahwa:

 

“Oleh karena perkawinan mempunyai maksud agar suami dan isteri dapat membentuk keluarga yang kekal dan bahagia, dan sesuai pula dengan hak azasi manusia, maka perkawinan harus disetujui oleh kedua belah pihak yang melangsungkan perkawinan tersebut, tanpa ada paksaan dari pihak manapun.”

 

Dengan demikian, Anda tidak dapat menuntut atau memaksa ayah bayi tersebut menikahi Anda kecuali yang bersangkutan menginginkannya. Lebih jauh simak artikel Dapatkah Saya Menuntut Dinikahi?. Menurut hemat kami, sebaiknya Anda dan ayah dari janin yang Anda kandung menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan.

 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar hukum:

1.   Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

2.   Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

 

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
MITRA : Bung Pokrol
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua