Jumat, 17 June 2011

Bagaimana Hak Waris Anak Tunggal yang Pindah Agama?

Bagaimana Hak Waris Anak Tunggal yang Pindah Agama?

Pertanyaan

Bapak saya beragama Islam menikah dengan ibu saya yang beragama hindu. Namun, ibu pindah agama ke Islam dan mereka melangsungkan pernikahan secara Islam di KUA. Saya anak tunggal perempuan mereka beragama Islam, namun saya pindah agama Hindu karena saya menikah pada saat ayah hidup. Setelah ayah meninggal, ibu saya pun beralih agama Hindu kembali. Ayah saya meninggalkan sebuah rumah atas namanya. Pertanyaannya, bagaimanakah pembagian waris rumah itu? Apakah benar setengah dari nilai rumah itu adalah milik paman/keluarga bapak saya karena saya sudah pindah agama? Apakah saya berhak mendapatkan warisan? Terima kasih.

Ulasan Lengkap

 

Sebelum menjawab pertanyaan yang Saudari ajukan, lebih dahulu akan kami jelaskan mengenai status perkawinan antara bapak dan ibu Saudari. Perkawinan kedua orang tua Saudari dilangsungkan menurut agama Islam dan telah dicatatkan pada Kantor Urusan Agama. Oleh karena itu, perkawinan orang tua Saudari telah sah di hadapan hukum Negara dan juga hukum Islam sehingga setiap anak yang lahir dari perkawinan yang sah adalah anak sah.

 

Oleh karena perkawinan yang dilakukan oleh kedua orang tua Saudari secara agama Islam yang telah dicatatkan pada KUA, maka mengenai warisan akan mengacu pada Kompilasi Hukum Islam (“KHI”). Yang dimaksud ahli waris menutut Pasal 171 huruf c KHI adalah;

 

“orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris

 

Sesuai Pasal 174 ayat (1) KHI, kelompok–kelompok ahli waris terdiri dari:

a.      Menurut hubungan darah:

·   Golongan laki-laki terdiri dari Ayah anak laki-laki, Saudara laki-laki, paman dan kakek

·   Golongan perempuan terdiri dari ibu, anak perempuan, Saudara perempuan dan nenek

b.      Menurut hubungan perkawinan terdiri dari duda dan janda  

 

Dalam Pasal 174 ayat (2) KHI disebutkan bahwa apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya anak, ayah, ibu, janda atau duda.

 

Jadi, jika melihat ketentuan Pasal 171 huruf cKHI di atas maka Saudari seharusnya tidak mendapatkan hak warisan lagi. Namun, Mahkamah Agung RI telah mengeluarkan Putusan No. 368.K/AG/1995, tanggal 16 Juli 1998 yang telah memiliki kekuatan hukum tetap dan telah menjadi yurisprudensi mengenai harta warisan pewaris Islam bagi anak muslim dan non muslim.

 

Selain itu, terdapat juga Putusan Mahkamah Agung RI No: 51K/AG/1999, tanggal 29 September 1999 yang intinya menyatakan bahwa ahli waris yang beragama non muslim tetap bisa mendapat harta dari pewaris yang beragama Islam. SehinggaSaudari tetap mendapat bagian dari harta warisan alm. ayah Saudari walaupun Anda beragama Hindu  berdasarkan Wasiat Wajibah yang bagiannya sama dengan bagian anak perempuan sebagai ahli waris. Yang dimaksud wasiat wajibah adalah wasiat yang walaupun tidak dibuat secara tertulis atau lisan namun tetap wajib diberikan kepada yang berhak atas warisan dari Pewaris.

 

 Maka sesuai Pasal 176 KHI yang menyatakan;

Anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separoh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian, dan apabila anak  perempuan bersama dengan anak laki-laki, maka bagian laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan

 

Kemudian, sesuai Pasal 180 KHI yang menyatakan bahwa janda (ibu Saudari) mendapat seperempat bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak, maka janda mendapat seperdelapan bagian. Sementara itu, kakek nenek dari alm. ayah Saudari, jika masih ada, juga berhak mendapat warisan yaitu sebesar masing-masing seperenam bagian (lihat Pasal 177 dan Pasal 178 KHI).

 

Sedangkan, paman Saudari tidak berhak menerima warisan dari alm. ayah Saudari karena dia terhijab/terhalang oleh Saudari sebagai anak.

 

Demikianlah jawaban yang dapat kami berikan atas pertanyaan yang Saudari ajukan.

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua