Senin, 10 Desember 2012

Prinsip Pewarisan Menurut KUH Perdata dan Hukum Islam

Prinsip Pewarisan Menurut KUH Perdata dan Hukum Islam

Pertanyaan

Ayah saya duda (almarhum) menikah lagi dengan wanita lain. Beberapa tahun kemudian istri ayah saya meninggal. Yang saya pertanyakan di sini, apakah saya mendapatkan hak waris saya? Sekian pertanyaan dari saya, wassalamualaikum.

Ulasan Lengkap

Waalaikum salam,
 

Prinsip pewarisan menurut KUHPerdata adalah hubungan darah. Yang berhak mewaris adalah yang punya hubungan darah, kecuali suami/isteri pewaris (lihat Pasal 832 KUHPerdata).

 

Sedangkan, yang berhak mewaris menurut hukum Islam berdasarkan Pasal 171 huruf c Kompilasi Hukum Islam, yaitu mereka yang:

1. Mempunyai hubungan darah dengan pewaris,

2. Mempunyai hubungan perkawinan (dengan pewaris),

3. Beragama Islam,

4. Tidak dilarang Undang-Undang selaku ahli waris

 

Dengan demikian berdasarkan uraian di atas, Anda tidak berhak mewarisi harta peninggalan dari almarhum ibu tiri Anda, namun demikian, Anda berhak untuk mewarisi harta peninggalan ayah kandung Anda jika beliau meninggal dunia.

 

Sedangkan, jika ayah kandung dan ibu tiri sama-sama meninggal dunia, maka ada 2 orang pewaris. Dalam terjadi hal tersebut, maka harus ditetapkan siapa meninggal dunia terlebih dahulu. Karena perhitungan waris terjadi pada saat warisan terbuka; yaitu pada saat pewaris tersebut meninggal dunia. Yang meninggal kemudian merupakan ahli waris dari yang meninggal terlebih dahulu. Kecuali ayah kandung dan ibu tiri Anda tersebut meninggal secara bersama-sama, maka antara keduanya tidak saling mewaris.

 

Jika ayah kandung Anda meninggal dunia lebih dulu dari ibu tiri Anda, maka Anda berhak mewaris bersama-sama dengan ibu tiri Anda (sebelum dia meninggal dunia). Malah bagian waris dari ibu tiri Anda tidak boleh lebih besar dari bagian Anda selaku anak kandung pewaris. Penegasan mengenai batas maksimum hak waris dari suami/isteri kedua tersebut adalah ¼ bagian atau sama dengan bagian terkecil dari anak sah tersebut. Hal ini juga diatur di dalam Pasal 181, Pasal 182 dan Pasal 902 KUHPerdata.

 

Jika selanjutnya Anda menanyakan, apakah Anda berhak mewaris dari ibu kandung Anda? Jawabannya adalah, ya tentu saja. Karena berdasarkan KUHPerdata, Anda termasuk ahli waris golongan I yang merupakan anak kandung dari ibunya. Jadi, pada waktu ibu kandung Anda meninggal dunia, Anda mendapat bagian dari harta peninggalan ibu kandung Anda bersama dengan ayah kandung Anda (sebelum dia meninggal tentunya). Hal ini sesuai ketentuan Pasal 852 a KUHPerdata.

 

Catatan: Jawaban pertanyaan tersebut ada pula penjelasannya di dalam buku Kiat Cerdas Mudah dan Bijak Dalam Memahami HUKUM WARIS – karya Irma Devita Purnamasari, S.H., M.Kn. (Kaifa, Desember 2012).

 
Dasar hukum:

1.    Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek, Staatsblad 1847 No. 23)

2.    Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam

 

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua