Selasa, 23 Oktober 2012

Perbedaan Antara Petikan Putusan dengan Salinan Putusan

Perbedaan Antara Petikan Putusan dengan Salinan Putusan

Pertanyaan

Apa perbedaan antara petikan surat putusan pengadilan dengan salinan surat putusan Pengadilan? Terima kasih atas jawabannya.

Ulasan Lengkap

Dari segi bahasa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, petikan dapat berarti kutipan atau nukilan, sedangkan salinan berarti turunan (surat dsb); saduran. Jadi dari segi bahasa, petikan putusan pengadilan berarti kutipan atau nukilan dari putusan pengadilan, sedangkan salinan putusan pengadilan berarti turunan atau saduran putusan pengadilan.

 

Di sisi lain, kami tidak dapat menemukan pengertian petikan putusan dan salinan putusan di dalam peraturan perundang-undangan. Meski demikian, mengenai hal ini kita dapat merujuk pada SEMA No. 01 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas SEMA No. 02 Tahun 2010 tentang Penyampaian Salinan dan Petikan Putusan (“SEMA 01/2011”). Di dalam SEMA 01/2011 antara lain disebutkan bahwa:

1.    Pengadilan yang memeriksa dan mengadili perkara Perdata sudah harus menyediakan salinan putusan untuk para pihak dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak putusan diucapkan. Karena salinan putusan dalam perkara Perdata dikenakan biaya PNBP, maka penyampaian salinan putusan tersebut harus atas permintaan pihak yang bersangkutan;

2.    Untuk perkara Pidana Pengadilan wajib menyampaikan salinan putusan dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak putusan diucapkan kepada Terdakwa atau Penasihat Hukumnya, Penyidik dan Penuntut 'Umum, kecuali untuk perkara cepat diselesaikan sesuai dengan ketentuan KUHAP;

3.    Petikan Putusan Perkara Pidana diberikan kepada Terdakwa, Penuntut Umum dan Rumah Tahanan Negara atau Lembaga Permasyarakatan segera setelah Putusan diucapkan

 

Dalam artikel Petikan Putusan Bisa Dijadikan Dasar Eksekusi, Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi mengatakan bahwa petikan putusan berisi amar yang diputuskan majelis hakim. Menurutnya, dengan petikan putusan tersebut, penuntut umum (jaksa) sudah bisa melakukan eksekusi terhadap terdakwa bila salinan putusan belum dikeluarkan. Meski begitu, dalam praktiknya penggunaan petikan putusan untuk eksekusi perkara pidana ini tidak dapat dijalankan begitu saja. Hal ini dapat diketahui antara lain dari pernyataan Jaksa Agung Basrief Arif dalam artikel Dilema Kejaksaaan Mengekseskusi dengan Petikan Putusan, ada sejumlah kasus yang terpidananya tidak mau dieksekusi apabila hanya dengan petikan putusan.

 

Berdasarkan hal-hal yang kami jelaskan sebelumnya, kiranya dapat dikatakan bahwa salinan putusan merupakan turunan putusan yang diterbitkan oleh pengadilan. Sedangkan, petikan putusan merupakan kutipan isi dari putusan yang memuat amar putusan majelis hakim.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 01 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 02 Tahun 2010 tentang Penyampaian Salinan dan Petikan Putusan

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
PENJAWAB : Ilman Hadi, S.H.
MITRA : Si Pokrol
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua