Senin, 26 Agustus 2013

Hukum Mengemudikan Kendaraan Dalam Keadaan Mabuk

Hukum Mengemudikan Kendaraan Dalam Keadaan Mabuk

Pertanyaan

Berapa denda yang harus dibayar pelaku kecelakaan sepeda motor, dengan kondisi saat itu pelaku: 1. dalam keadaan mabuk; 2. tidak memakai helm; 3. tidak membawa SIM dan STNK? Terima kasih.

Ulasan Lengkap

Dalam hal ini, kami berasumsi bahwa pelaku kecelakaan sepeda motor adalah pengemudi sepeda motor tersebut.

 

Kami akan menjabarkan masing-masing pidana atas perbuatan yang dilakukan oleh pengemudi sepeda motor tersebut sebagai berikut:

 

A.   Mengemudi Dalam Keadaan Mabuk yang Mengakibatkan Kecelakaan

 

Mengenai kecelakaan yang terjadi dimana pengemudi mengemudi dalam keadaan mabuk, Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan (“UU 22/2009”) telahmengatur bahwa setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi (Pasal 106 ayat (1) UU 22/2009).

 

Jika pengendara mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan, maka dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp750 ribu rupiah (Pasal 283 UU 22/2009).

 

 

Akan tetapi, pada praktiknya perbuatan tersebut dapat dijerat juga dengan Pasal 311 UU 22/2009:

Pasal 311 UU 22/2009:

(1) Setiap orang yang dengan sengaja mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah).

(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/ atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp4.000.000,00 (empat juta rupiah).

(3) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah).

(4) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah).

(5) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengakibatkan orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).

 

Dalam hal ini, keadaan pengemudi yang mabuk dapat dikatakan sebagai keadaan yang membahayakan. Sedangkan, mengenai hukuman pidana yang dapat dikenakan kepada pengemudi tersebut, bergantung dari akibat dari kecelakaan itu. Apakah kecelakaan tersebut menyebabkan kerusakan kendaraan/barang, menyebabkan korban luka ringan, menyebabkan korban luka berat, atau bahkan menyebabkan orang lain meninggal dunia.

 

Sebagai contoh, Anda dapat melihat pada Putusan Pengadilan Negeri Serui No.: 12/PID.B/2011/PN.Sri. Dalam putusan, dikatakan bahwa terdakwa yang baru saja mengkonsumsi minuman keras dan berada dalam pengaruh minuman beralkohol kadar tinggi jenis Mension mengendarai sepeda motor dengan membonceng saksi dengan tujuan hendak mengantarkan saksi pulang ke rumahnya. Di perjalanan, ada sepeda motor ojek yang ditumpangi oleh korban, yang hendak berusaha menghindari jalan yang berlubang. Terdakwa yang masih dalam pengaruh alkohol tidak dapat mengendalikan sepeda motornya sehingga menabrak dari arah belakang mengenai roda ban belakang sepeda motor ojek yang ditumpangi oleh korban. Akibat kecelakaan tersebut, korban meninggal dunia.

 

Atas perbuatannya, terdakwa melanggar Pasal 311 ayat (5) UU 22/2009 dan dijatuhi hukuman pidana penjara selama 1 (satu) tahun

 

B.   Tidak Memakai Helm

 

Pada dasarnya, menurut Pasal 106 ayat (8) UU 22/2009, setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor dan Penumpang Sepeda Motor wajib mengenakan helm yang memenuhi standar nasional Indonesia.

 

Ancaman pidana atas pelanggaran ketentuan ini diatur dalam Pasal 291 UU 22/2009:

 

(1) Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor tidak mengenakan helm standar nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

(2) Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor yang membiarkan penumpangnya tidak mengenakan helm sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1  (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

 

C.    Tidak Membawa Surat Izin Mengemudi (“SIM”) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (“STNK”)

 

Berdasarkan Pasal 77 ayat (1) UU 22/2009, setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib memiliki SIM sesuai dengan jenis Kendaraan Bermotor yang dikemudikan.

 

Jika pengemudi tidak memiliki SIM, maka dapat dipidana dengan pidana kurungan palinag lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp1 juta (Pasal 281 UU 22/2009).

 

Mengenai STNK, setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan wajib dilengkapi dengan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor dan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (Pasal 68 ayat [1] UU 22/2009).

 

Jika pengemudi mengemudikan kendaraan bermotor yang tidak dilengkapi dengan STNK, maka pengemudi dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu (Pasal 288 ayat [1] UU 22/2009).

 

Namun pada praktiknya, jika terjadi kecelakan lalu lintas akibat pengemudi sepeda motor yang mabuk serta tidak memiliki SIM, yang didakwakan kepada pengemudi tersebut adalah kecelakaan lalu lintas yang diakibatkannya. Sebagai contoh, kita dapat melihat pada Putusan Pengadilan Negeri Ruteng No.: 255/Pid.B/2012/PN.Rut. Dalam perkara ini, terdakwa dalam keadaan terpengaruh minuman keras yang mengandung alkohol mengendarai sepeda motor. Dari jarak kurang lebih 1 (satu) meter tiba-tiba terdakwa melihat sepeda motor yang dikemudikan korban berada tepat didepan kendaraan yang dikemudikan terdakwa.

 

Terdakwa yang pada saat itu sedang dalam pengaruh minuman keras tidak sempat lagi mengurangi laju kendaraan yang dikemudikannya atau membunyikan klakson atau rnemberikan tanda isyarat lainnya sebagai antisipasi agar tidak terjadi kecelakaan lalu lintas sehingga kendaraan yang dikendarai terdakwa menabrak bagian samping belakang sepeda motor yang dikendarai korban dari arah belakang yang mengakibatkan korban terjatuh dari sepeda motor yang dikendarainya. Korban mengalami luka dan akhirnya meninggal dunia. Pada saat kejadian tersebut, baik korban maupun saksi tidak menggunakan helm.

 

Atas perbuatannya tersebut, terdakwa terbukti melanggar Pasal 311 ayat (5) UU 22/2009 dan dijatuhi pidana penjara selama 10 (sepuluh) bulan.

 

Selain itu, ada juga putusan lain yang justru menggunakan Pasal 310 UU 22/2009 sebagai dakwaannya.

 
Pasal 310 UU 22/2009

(1) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan/ atau denda paling banyak Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah).

(2) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah).

(3) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak RplO.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).

(4) Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

 

Sebagai contoh perkara yang menggunakan Pasal 310 UU 22/.2009, Anda dapat melihat pada Putusan Pengadilan Negeri Kalabahi No.: 37/Pid.Sus/2012/PN.KLB. Dalam putusan ini, terdakwa mengemudikan sepeda motor tanpa nomor polisi dan lampu utama yang tidak menyala dengan bau minuman keras pada mulutnya. Selain itu terdakwa juga tidak memakai helm dan tidak mempunyai SIM. Terdakwa menabrak motor lainnya dan mengakibatkan adanya korban meninggal dunia.

 

Atas perbuatan terdakwa, terdakwa terbukti melanggar Pasal 310 ayat (4) UU 22/2009 dan dijatuhi hukuman pidana penjara selama 9 (sembilan) bulan.

 

Jadi pada praktiknya, dalam hal kecelakaan dimana pengemudinya tidak menggunakan helm, tidak mempunyai SIM, atau melakukan pelanggaran lainnya, pasal yang digunakan untuk menjerat pelaku kecelakaan lalu lintas adalah pasal yang berhubungan dengan terjadinya kecelakaan, yaitu Pasal 310 atau Pasal 311 UU 22/2009.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 
Dasar Hukum:

Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan.

 
Putusan:

1.    Putusan Pengadilan Negeri Serui No.: 12/PID.B/2011/PN.Sri.

2.    Putusan Pengadilan Negeri Ruteng No.: 255/Pid.B/2012/PN.Rut.

3.    Putusan Pengadilan Negeri Kalabahi No.: 37/Pid.Sus/2012/PN.KLB.

 

 

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
MITRA : Bung Pokrol
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua