Selasa, 04 Pebruari 2014

Jual Beli Organ Tubuh Manusia di Dunia Maya

Jual Beli Organ Tubuh Manusia di Dunia Maya

Pertanyaan

Adakah dasar hukum perbuatan penjualan organ tubuh dalam dunia maya?

Ingin Masalah Anda Segera Tuntas?

Percayakan masalah hukum Anda ke ahlinya. Hubungi konsultan hukum profesional, hanya Rp299.000,- per 30 menit.

Ulasan Lengkap

Terima kasih atas pertanyaan Anda.
 

Perbuatan penjualan organ tubuh merupakan sesuatu hal yang dilarang berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (“UU Kesehatan”). Pasal 192 jo Pasal 64 ayat (3) UU 36/2009 menyatakan :

 

“Setiap orang yang dengan sengaja memperjualbelikan organ atau jaringan tubuh dengan dalih apa pun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”

 

Penjelasan mengenai hal tersebut pernah dibahas oleh hukumonline dan bisa dilihat pada artikel Jual Beli Organ Tubuh Manusia menurut Hukum Indonesia.

 

Bagaimana jika perbuatan tersebut dilakukan di dunia siber?

 

Hukum yang berlaku terhadap tindak pidana yang dilakukan di dunia siber pada prinsipnya adalah sama dengan perbuatan secara faktual/nyata. Pembedanya hanya pada sarananya yakni melalui jaringan internet, sehingga dalam pembuktian kasus tersebut, bukti elektronik atau bukti digital yang diperoleh akan diakui sebagai bukti yang sah sesuai UU ITE.

 

Pengaturan mengenai tindak pidana siber dapat kita temukan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”), namun UU ITE tidak secara khusus mengatur mengenai tindak pidana pidana penjualan organ tubuh melalui layanan internet. Meskipun pada praktiknya aparat penegak hukum dapat saja mengenakan pasal-pasal berlapis atau dakwaan kumulatif terhadap suatu tindak pidana yang memenuhi unsur-unsur tambahan dalam tindak pidana UU Kesehatan tersebut. Dalam hal ini, kami belum menemukan secara spesifik pasal dalam UU ITE yang dapat dikenakan bagi pelaku penjual organ melalui layanan internet.

 

Adapun unsur yang perlu menjadi pertimbangan, yakni:

 

a.    Alat Bukti Elektronik

Bukti elektronik telah diakui sebagai alat bukti yang sah menurut UU ITE. Penjelasan mengenai alat bukti elektronik bisa dilihat pada artikel syarat dan kekuatan hukum alat bukti elektronik. Lalu, pertanyaannya apakah “organ tubuh” yang tertera dalam tampilan laman internet termasuk kategori informasi dan/atau dokumen elektronik menurut UU ITE?

 

Jawabannya iya, apabila organ tubuh tersebut tidak diartikan sebagai bentuk fisik, tetapi dimaknai sebagai informasi yang dimuat dalam bentuk elektronik. Lebih lanjut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Dokumen Elektronik” ialah data atau kumpulan data dalam berbagai bentuk elektronik, sedangkan data dari bentuk tersebut ialah isi muatan informasinya. Sebagai contoh dalam kasus tersebut misalnya bukti berupa “file” dalam bentuk *.Jpg yang berisi gambar organ tubuh manusia (hati, ginjal, dsb) atau konten “teks” yang berisi tawaran penjualan organ tubuh manusia.

 
b. Unsur Perbuatan

Pasal 192 jo Pasal 64 ayat (3) UU Kesehatan tidak menentukan cara untuk terjadinya perbuatan memperjualbelikan suatu organ tubuh, artinya unsur perbuatan “memperjualbelikan” menjadi terpenuhi meskipun dilakukan dengan cara apapun.

 

Penggunaan suatu media elektronik sebagai alat untuk transaksi jual beli dapat digunakan sebagai alat bukti dari suatu peristiwa/perbuatan pidana. Dengan kata lain, untuk tercapainya pembuktian suatu alat bukti elektronik harus dikaitkan dengan perbuatan yang dilakukan secara elektronik pula.

 

Adapun perbuatan tersebut dapat berupa:

  1.       Perbuatan menawarkan produk melalui sistem elektronik, seperti website, sms, dsb.
  2.       Terjadinya proses transaksi yang dibuktikan dengan adanya kontrak elektronik.
  3.       Informasi produk dalam bentuk gambar, tulisan, dsb.
 

Sayangnya kami tidak mendapat penjelasan media elektronik apa yang digunakan. Namun sedikitnya itulah beberapa contoh perbuatan tersebut.

 

Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat.

Salam.
 
Dasar Hukum:

1.    Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

2.    Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

 

 

 

 


Perjuangan Anda Jangan Berhenti di Artikel Ini

Konsultan hukum profesional siap membantu Anda. Konsultasikan masalah Anda, hanya Rp299.000,- per 30 menit.

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua