Bila Pria Menjadi Korban Pelecehan Seksual

Bacaan 4 Menit
Bila Pria Menjadi Korban Pelecehan Seksual
Pertanyaan

Saya, pria berusia di bawah 30 tahun, cukup sering menerima perlakuan yang menurut saya termasuk pelecehan seksual. Perlakuan ini saya terima dari wanita-wanita teman kantor yang usianya lebih tua dari saya. Mereka terkadang memegang lengan saya bahkan meremasnya (saya nge-gym teratur dan jogging). Yang terakhir dalam lift pantat saya diremas oleh dua wanita itu, lalu keduanya menjepit tubuh saya dengan menempelkan badan mereka sebentar (dengan cara memunggungi saya di bagian depan dan belakang badan sambil bergerak-gerak). Apakah saya termasuk korban pelecehan seksual? Adakah cara memperkarakan jika mereka nanti lebih jauh lagi?

 

Ulasan Lengkap

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

 

Mengenai perbuatan dua wanita terhadap Anda di dalam lift dengan cara menempelkan badan mereka sebentar sambil bergerak-gerak, dikenal dengan istilah dry humping. Dry humping menurut laman doktersehat.com, juga dikenal dengan istilah lainnya yaitu frottage merupakansebuah istilah untuk mengekpresikan gerakan seks untuk saling menggesek untuk meraih kenikmatan seksual tanpa sekalipun melakukan penetrasi.

 

Selainitu,dalam kamuskesehatan.com dikatakanbahwa frottage atau frotase adalah kenikmatan seksual yang berasal dari bergesekan dengan tubuh atau bagian tubuh orang lain. Penjelasan lebih lanjut mengenai dry humping dapat Anda simak dalam artikel Hukum Dry Humping di Indonesia.

 

Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”), perbuatan mengekspresikan gerakan seks tersebut dikategorikan sebagai perbuatan cabul yang terdapat dalam Pasal 289 KUHP yang berbunyi:

 

“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.”

 

R. Soesilo dalam bukunya yang berjudul “Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal” mengatakan bahwa yang dimaksud dengan segala perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, semuanya itu dalam lingkungan nafsu berahi kelamin, misalnya: cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada, dsb (hal. 212).

 

Lebih lanjut dikatakan R. Soesilo bahwa yang dilarang dalam pasal ini bukan saja memaksa orang untuk melakukan perbuatan cabul, tetapi juga memaksa orang untuk membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul (ibid hal. 212).

 

Menurut hemat kami, dari beberapa contoh perbuatan pelanggaran kesusilaan yang disebutkan oleh R. Soesilo di atas bisa kita simpulkan bahwa perbuatan dua wanita yang memegang lengan kemudian meremasnya tidak bisa langsung dikatakan perbuatan pelanggaran kesusilaan karena lengan bukan merupakan lingkungan nafsu birahi.

 

Namun, perbuatan meremas pantat Anda, menempel dan menggerak-gerakkan tubuhnya di tubuh Anda dapat dikategorikan sebagai pelanggaran kesusilaan (kesopanan) dan terhadap perbuatannya, kedua wanita tersebut bisa dikenakan pidana sesuai dengan pasal ini. Dengan catatan, kedua wanita tersebut memaksa Anda untuk membiarkan perbuatan cabul itu dilakukan.

 

Perlu Anda ketahui, dalam KUHP tidak dikenal istilah pelecehan seksual, melainkan perbuatan cabul seperti yang kami uraikan di atas. Istilah pelecehan seksual, menurut Ratna Batara Munti dalam artikel berjudul “Kekerasan Seksual: Mitos dan Realitas” adalah mengacu pada sexual harrasment yang diartikan sebagai unwelcome attention (Martin Eskenazi and David gallen, 1992) atau secara hukum didefinisikan sebagai "imposition of unwelcome sexual demands or creation of sexually offensive environments". Penjelasan lebih lanjut mengenai pelecehan seksual dapat Anda simak dalam artikel Apakah Memandang Termasuk Pelecehan Seksual?

 

Hal lain yang menjadi fokus pertanyaan Anda adalah mengenai apakah pelecehan seksual (yang dalam konteks ini adalah perbuatan cabul) hanya diartikan untuk perbuatan pria terhadap wanita atau tidak. Dari serangkaian penjelasan menurut R. Soesilo dan juga berdasarkan bunyi pasal itu sendiri, dapat dilihat bahwa pasal ini tidak memandang apakah perbuatan itu dilakukan oleh pria terhadap wanita atau sebaliknya. Hal ini bisa kita lihat dari kata-kata “memaksa seseorang untuk melakukan…” Dengan kata lain, ‘seseorang’ yang dimaksud dalam pasal ini berlaku untuk siapa saja. Artinya, Anda sebagai pria bisa dianggap sebagai korban dan kedua wanita tersebut adalah pelakunya.

 

Sebagai perbandingan, pasal yang jelas-jelas menyatakan bahwa wanita yang menjadi korbannya dapat kita lihat dari Pasal 285 KUHP tantang pemerkosaan:

“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.”

 

Dalam konteks pasal ini, perbuatan pemerkosaan hanya diartikan sebagai perbuatan laki-laki terhadap wanita untuk bersetubuh dengannya dengan cara kekerasan.

 

Uniknya, R. Soesilo mengenai Pasal 285 KUHP, sebagaimana kami sarikan, mengatakan bahwa pembuat aturan ini tidak perlu untuk menentukan hukuman bagi perempuan yang memaksa laki-laki untuk bersetubuh. Hal ini bukan semata-mata karena paksaan oleh seorang perempuan terhadap laki-laki itu dipandang tidak mungkin, akan tetapi justru karena perbuatan itu bagi laki-laki dipandang tidak mengakibatkan sesuatu yang buruk atau merugikan, seperti halnya seorang perempuan yang dirugikan (hamil) atau melahirkan anak karena perbuatan itu (hal. 210).

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Dasar hukum:

 
Referensi:

R. Soesilo. 1991. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia: Bogor.