Kamis, 06 March 2014

Bolehkah Seseorang dengan Keterbatasan Fisik Memilih Profesi Advokat?

Bolehkah Seseorang dengan Keterbatasan Fisik Memilih Profesi Advokat?

Pertanyaan

Saya Hanny dari Surabaya. Usia 17 tahun. Saat ini saya duduk di bangku SMA. Setelah lulus SMA saya ingin melanjutkan ke faukultas hukum karena saya memiliki cita-cita menjadi seorang pengacara. Tetapi saya memiliki fisik yang kurang sempurna. Saya duduk di kursi roda tetapi mental saya bisa mengikuti pembelajaran yang diberikan. Yang saya tanyakan, Apakah bisa orang seperti saya menjadi seorang pengacara? Apakah pengacara itu ada syarat fisik sendiri ? Mohon balasanya. Terima kasih

Ulasan Lengkap

 

Sebelumnya perlu kami informasikan bahwa dengan berlakunya Undang-Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat (“UU Advokat”), baik advokat, penasihat hukum, pengacara praktik dan konsultan hukum, semuanya disebut sebagai Advokat (Pasal 32 ayat (1) UU Advokat). Advokat yaitu orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan yang wilayah kerjanya di seluruh wilayah Republik Indonesia (Pasal 1 angka 1 jo. Pasal 5 ayat (2) UU Advokat).

 

Terkait pertanyaan Anda, pada dasarnya yang dapat diangkat sebagai Advokat adalah sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum dan sudah mengikuti pendidikan khusus profesi Advokat yang dilaksanakan oleh Organisasi Advokat (Pasal 2 ayat (1) UU Advokat).

 

Untuk dapat diangkat menjadi Advokat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (Pasal 3 ayat (1) UU Advokat):

a.    warga negara Republik Indonesia;

b.    bertempat tinggal di Indonesia;

c.    tidak berstatus sebagai pegawai negeri atau pejabat negara;

d.    berusia sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) tahun;

e.    berijazah sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) UU Advokat;

f.     lulus ujian yang diadakan oleh Organisasi Advokat;

g.    magang sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun terus menerus pada kantor Advokat;

h.    tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;

i.      berperilaku baik, jujur, bertanggung jawab, adil, dan mempunyai integritas yang tinggi.

 

Melihat pada ketentuan di atas, ini berarti keterbatasan fisik tidak menjadi halangan bagi Anda untuk dapat menjadi advokat.

 

Sebagai contoh, seseorang bernama Sugianto Sulaiman yang menderita penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya, bahkan kemudian menyerang mata. Setelah mencoba berbagai metode pengobatan, penyakit tersebut tidak kunjung sembuh dan kondisi mata Sugianto justru semakin parah. Salah penanganan medis bercampur dengan rasa keputusasaan dan psikis yang lemah pada akhirnya mengantarnya pada kebutaan permanen. Akan tetapi hal tersebut tidak menghalanginya, ia pun menjadi advokat. Pada tahun 2005, Sugianto dengan dukungan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI), mendirikan sebuah kantor hukum bernama KUSALA NITISENA (Kusala). Lebih lanjut dapat Anda baca dalam artikel Sugianto Sulaiman, Advokat Tuna Netra dengan Semangat Buddhis.

 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar Hukum:

Undang-Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat.

    

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
MITRA : Bung Pokrol
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua