Senin, 05 Mei 2014

Bisakah WNI Diadili Lagi Setelah Dihukum di Negara Lain?

Bisakah WNI Diadili Lagi Setelah Dihukum di Negara Lain?

Pertanyaan

Apakah WNI yang telah dijatuhi hukuman di negara lain saat kembali ke Indonesia akan dijatuhi hukuman yang sama dengan kasus yang sama? Mengingat asas kebangsaan yang menyatakan setiap warga negara di mana pun berada tetap mendapatkan perlakuan hukum dari negaranya.

Ulasan Lengkap

Pada prinsipnya jika seseorang telah diadili atas suatu perbuatan pidana tidak dapat dituntut kembali atas perbuatan yang sama. Prinsip ini dikenal dengan prinsip non bis in idem atau double jeopardy. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) prinsip tersebut tetap berlaku jika pengadilan yang mengadili orang tersebut bukan pengadilan Indonesia namun pengadilan di negara lain. Terlebih apabila orang (WNI) tersebut telah menjalani hukumannya di negara tersebut. Ketentuan mengenai hal ini bisa dilihat dalam Pasal 76 ayat (2) KUHP.
 
Pasal 76 KUHP

1)    Kecuali dalam hal putusan hakim masih mungkin diulangi, orang tidak boleh dituntut dua kali karena perbuatan yang oleh hakim Indonesia terhadap dirinya telah diadili dengan putusan yang menjadi tetap. Dalam artian hakim Indonesia, termasuk juga hakim pengadilan swapraja dan adat, di tempat-tempat yang mempunyai pengadilan-pengadilan tersebut.

 

2)    Jika putusan yang menjadi tetap itu berasal dari hakim lain, maka terhadap orang itu dan karena tindak pidana itu pula, tidak boleh diadakan penuntutan dalam hal:

1.      putusan berupa pembebasan dari tuduhan atau lepas dari tuntutan hukum.

2.     putusan berupa pemidanaan dan telah dijalani seluruhnya atau telah diberi ampun atau wewenang untuk menjalankannya telah hapus karena daluwarsa.

 

Dalam ayat (2) di atas KUHP menggunakan istilah "Hakim lain" (dalam bahasa belandanya tertulis "anderen rechter”), yang dimaksud dengan 'hakim lain' ini adalah hakim/pengadilan di negara lain.

 

Dari ketentuan Pasal 76 ayat (2) tersebut terlihat bahwa dengan telah diadilinya seseorang -misalnya WNI- di negara lain dan putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap maka hak menuntut Jaksa hapus walaupun putusan dari pengadilan di negara lain tersebut berupa putusan bebas atau lepas. Serta jika putusan tersebut merupakan putusan pemidanaan dan terdakwa telah menjalani hukuman tersebut atau telah diberi pengampunan (grasi) oleh pejabat yang berwenang di negara tersebut, terlepas dari apakah kita bisa mempercayai proses peradilan di negara tersebut atau tidak.

 

Diaturnya hapusnya hak menuntut negara karena putusan dari pengadilan (hakim) di negara lain oleh Belanda -sebagai negara asal KUHP- selain dimaksudkan untuk melindungi hak asasi juga sebagai bentuk pengakuan kedaulatan negara lain. Karena jika orang tersebut diadili kembali di Indonesia maka hal itu sama saja menunjukan ketidakpercayaan pada sistem hukum negara tersebut.

 
Demikian, semoga membantu.
 
Dasar hukum:

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) 

 

 

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
PENJAWAB : Arsil
MITRA : LeIP
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua