Senin, 25 April 2016

Cara Aman Memperoleh Tanah Dari Membayarkan Kredit Pihak Ketiga

Cara Aman Memperoleh Tanah Dari Membayarkan Kredit Pihak Ketiga

Pertanyaan

Saya seorang anak dari dua orang bersaudara, orang tua masih ada semua. Saat ini keluarga saya sedang mengalami suatu tunggakan di sebuah bank dengan jaminan sebuah rumah (AJB atas nama orang tua). Singkat cerita keluarga tidak mampu membayar tagihan, sekiranya saya bermaksud membayar tagihan tersebut dan keluarga sepakat rumah nantinya menjadi milik saya daripada hilang atau dilelang. Pertanyaannya: 1. Bagaimana secara hukum posisi saya? 2. Bagaimana cara saya menguatkan posisi saya atas hak rumah tersebut? 3. Surat apakah yang harus saya buat bersama keluarga dalam hal ini, apakah jual beli atau hibah?

Ingin Masalah Anda Segera Tuntas?

Percayakan masalah hukum Anda ke ahlinya. Hubungi konsultan hukum profesional, hanya Rp299.000,- per 30 menit.

Ulasan Lengkap

Intisari:

 

 

Ada 3 (tiga) cara untuk menguatkan posisi Saudara atas rumah yang dijadikan jaminan dari kredit yang akan Saudara bayar, yaitu:

1.    Oper kredit langsung melalui bank, dengan memakai skema jual beli.

2.    Pengoperan hak dengan akta Notaris, dengan memakai skema pengikatan jual beli.

3.    Oper kredit dengan pelunasan sisa kredit, yang diikuti dengan jual beli biasa.

 

Masing-masing cara ada kekurangan dan kelebihannya.

 

Secara rinci mengenai masing-masing cara, dapat Anda baca pada ulasan di bawah ini.

 

 

 

Ulasan:

 

Salam,

 

Membaca dari apa yang Saudara sampaikan, bahwa Akta Jual Beli (“AJB”) atas nama orang tua, saya simpulkan bahwa jenis kreditnya adalah Kredit Pemilikan Rumah (“KPR”). Sayangnya, tidak dijelaskan, apakah akan membayar lunas sisa kredit atau melanjutkan pembayaran tetap dengan skema kredit. Dengan demikian, saya berikan beberapa alternatifnya.

 

1.    Oper kredit langsung melalui bank, dengan memakai skema jual beli.

a.  Saudara dan orang tua, mengajukan permohonan peralihan hak ke bank yang bersangkutan.

b.  Saudara, selaku pembeli, mengajukan permohonan oper kredit dan akan bertindak sebagai debitur baru, menggantikan posisi orang tua (penjual) sebagai debitur lama.

c.  Jika disetujui, Saudara akan menandatangani perjanjian kredit baru, berikut akta jual beli dan akta pembebanan hak tanggungan, dengan melunasi pajak-pajaknya terlebih dahulu.

 

Kelebihan:

Sertipikat sudah langsung dibalik nama ke atas nama Saudara dan Saudara dapat mengangsur atas nama sendiri.

 

Kelemahan:

·         Proses lama, karena ada verifikasi dari bank, persis seperti saat orang tua Saudara mengajukan KPR dan ada kemungkinan tidak disetujui.

·         Seketika membayar: biaya administrasi bank, roya sertipikat, pengecekan/checking sertipikat, pajak pembeli dan penjual, biaya pengikatan akta jual beli, akta pembebanan hak tanggungan.

 

2.    Pengoperan hak dengan akta Notaris, dengan memakai skema pengikatan jual beli.

a.    Para pihak datang ke Notaris, dengan membawa semua surat yang berkaitan dengan KPR, bukti cicilan yang sudah dibayar, fotokopi sertipikat dan data diri.

b.    Notaris membuatkan Akta Pengikatan Jual Beli atas pengalihan hak atas tanah dan bangunan, surat kuasa menjual (tentatif), surat kuasa untuk melunasi dan surat kuasa untuk pengambilan sertipikat di bank, jika cicilan sudah lunas.

c.    Sambil menunggu salinan akta notaris selesai, orang tua, selaku penjual, membuat dan menandatangani Surat Pemberitahuan Pengalihan Kewajiban Pembayaran KPR kepada bank, yang pada pokoknya, memberitahukan telah dilakukan peralihan hak melalui akta notaris dan seterusnya. Sejak pemberitahuan ini disampaikan, penjual (orang tua Saudara) tidak berhak lagi untuk melakukan pembayaran serta mengambil asli sertipikat. Pembayaran dan pengambilan sertipikat, selanjutnya akan dilakukan oleh Saudara. Salinan akta, akan diserahkan kemudian.

d.    Setelah salinan akta selesai, para pihak bersama-sama menyerahkannya kepada bank, serta menandatangani dokumen yang diperlukan oleh pihak bank, jika ada.

e.    Setelah cicilan selesai, Saudara, dengan surat kuasa pengambilan sertipikat, dapat mengambil sertipikat tersebut, melakukan roya sertipikat, kemudian dilakukan proses jual beli di Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) setempat, dengan terlebih dahulu membayar pajak-pajaknya.

 

Kelebihan:

Proses cepat dan biaya lebih murah, karena tidak seketika.

 

Kelemahan:

·         Sepanjang pembayaran kredit, sertipikat tetap berada di bank dan masih atas nama orang tua (penjual).

·         Saudara mengangsur tetap atas nama orang tua.

 

3.    Oper kredit dengan pelunasan sisa kredit, yang diikuti dengan jual beli biasa.

Saudara, melalui tangan orang tua, langsung melunasi sisa kredit. Setelah sertipikat bebas, segera lakukan roya, pengecekan sertipikat dan proses jual beli seperti biasa, di PPAT setempat, dengan terlebih dahulu membayarkan pajak-pajaknya. 

 

Opsi apapun yang Saudara pilih, saya sarankan untuk membuat semacam kronologis dari kesepakatan ini, yang ditandatangani oleh kedua orang tua dan Saudara kandung lainnya.

 

Demikian, semoga bermanfaat.

 

Referensi:

Irma Devita Purnamasari, “Kiat-kiat cerdas, mudah dan bijak mengatasi masalah Hukum Pertanahan”, cetakan ketiga, Kaifa, 2012.

 

 


Perjuangan Anda Jangan Berhenti di Artikel Ini

Konsultan hukum profesional siap membantu Anda. Konsultasikan masalah Anda, hanya Rp299.000,- per 30 menit.

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
Kirim Pertanyaan ke hukumonline.com
 
[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua